PSK Hamil Tewas Dibantai

515
OLAH TKP: Petugas Inafis Polrestabes saat melakukan olah TKP. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
OLAH TKP: Petugas Inafis Polrestabes saat melakukan olah TKP. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
OLAH TKP: Petugas Inafis Polrestabes saat melakukan olah TKP. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

KALIBANTENG KULON – Seorang pekerja seks komersial (PSK) muda tewas dibantai di sebuah wisma yang terletak di kompleks lokalisasi Sunan Kuning, Jalan Argorejo 1 Gang 1, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Selasa (10/2) dini hari. Diketahui wanita tersebut bernama Nur Komsanah atau akrab dipanggil Ririn, 17, warga Sidomukti RT 8 RW 5 Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Ironisnya, perempuan kelahiran Kabupaten Semarang, 4 Agustus 1997 itu dibantai dalam kondisi hamil 3 bulan.

Informasi yang dihimpun Radar Semarang menyebutkan, sekitar pukul 03.00, korban ditemukan bersimbah darah di depan wisma. Saat itu, tubuh Ririn hendak dimasukkan ke dalam taksi oleh seorang pria yang diduga bernama Icuk, warga Temanggung. Peristiwa itu dipergoki warga sekitar hingga akhirnya mendatanginya.

Saat ditanyai warga, pria bertubuh gendut itu berbelit-belit hingga akhirnya dimassa oleh warga sekitar. Pria tersebut kemudian kabur dan menghilang ke arah pemakaman yang berjarak kurang lebih 300 meter dari lokasi kejadian.

Korban yang bersimbah darah langsung dilarikan warga ke RS Tugurejo menggunakan taksi sekitar pukul 04.30. Namun dalam perjalanan, Ririn mengembuskan napas terakhir. Ia mengalami luka parah di bagian dahi, kepala bagian belakang, dan kedua tangan luka berdarah.

Menurut keterangan saksi pemilik wisma, Umi Kulsum, 37, pria bernama Icuk itu diketahui membopong korban saat hendak dimasukkan ke dalam taksi. ”Kata saksi pengunjung, awalnya mereka keluar dari kamar mandi sudah dalam kondisi berdarah. Pas mau dimasukkan ke taksi, dihadang pengunjung karena melihat kepala Riri berdarah,” terangnya.

Pria yang dipanggil Icuk itu sempat dimassa oleh warga, kemudian melarikan diri ke arah makam. Menurut Umi, ada saksi yang menerangkan sebelumnya korban bersama Icuk sempat terlibat cekcok mulut, namun tidak diketahui penyebabnya.
Dikatakan Umi, Ririn datang ke kompleks lokalisasi Argorejo sejak Jumat (6/2) malam. Ia datang bersama Icuk, dan ditemani dua teman lelaki. ”Dia minta pekerjaan karena sedang hamil 3 bulan,” katanya.

Ririn sebelumnya bekerja menjadi pekerja seks komersial di daerah Bandungan. Di lokalisasi Sunan Kuning, sedianya ia bekerja sebagai pemandu karaoke yang bekerja freelance.

Keterangan lain dari sejumlah saksi menyebut, pada Jumat malam, korban datang ke lokalisasi Sunan Kuning diantar oleh Icuk, warga Temanggung. Icuk sendiri ada yang menyebut suami korban, ada yang menyebut kekasih korban. Dia saat mengantarkan Ririn, ditemani dua teman pria, yakni Andi, warga Bandungan, dan seorang lagi belum diketahui identitasnya.

Senin (9/2) sore, Icuk dan dua temannya tersebut sedang minum 5 botol congyang di depan wisma di Argorejo Gang 1 lama, atau lokasi kejadian. Senin (9/2) sekitar pukul 20.00, Icuk bersama dua temannya masuk room karaoke di gang II. Sekitar pukul 21.30, ketiganya berpindah, melanjutkan minum di teras depan wisma. Baru sekitar pukul 22.00, Andi bersama temannya pulang ke daerah Bandungan. Sedangkan Icuk masih di lokasi wisma.

Korban diketahui cekcok dengan Icuk pada pukul 00.00. Diduga korban cemburu kepada Icuk karena habis dari karaoke di gang II. Baru pada pukul 03.00, Icuk dipergoki warga hendak menaikkan korban ke taksi.

Kejadian itu sontak membuat gempar di lokalisasi tersebut. Tim kepolisian yang menerima informasi itu langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, pihaknya masih mengusut kasus pembunuhan tersebut. Dia mengaku telah mengantongi identitas pelaku. ”Pelaku masih kami kejar, mudah-mudahan cepat tertangkap,” katanya saat ditemui di Mapolreatabes Semarang.

Mengenai motif pembunuhan tersebut pihaknya masih terus mendalami sejumlah keterangan saksi. Termasuk pria bernama Icuk yang sebelumnya bersama korban Ririn.

Djihartono juga membenarkan keterangan yang menyebut korban dalam kondisi hamil. ”Informasi yang kami terima, korban hamil 3 bulan. Tapi secara pastinya kami masih menunggu hasil visum,” ujarnya.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP menambahkan, hasil identifikasi di tubuh koban ditemukan sejumlah luka memar. Di antaranya luka di dahi, di kepala bagian belakang, dan kedua tangan. ’Ada luka seperti bekas benturan benda keras. Luka di dahi ada lubang, seperti bekas dibenturkan tembok yang ada pakunya,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua Resos Argorejo, Suwandi, menegaskan, Ririn tidak terdaftar dalam warga binaan di lokalisasi tersebut. ” Awalnya dia hanya mampir di warung dekat lokasi pada Jumat lalu. Dia tanya-tanya, sedang nyari kos, kemudian ditolong oleh pemilik wisma,” kata Suwandi saat dihubungi Radar Semarang.

Dikatakan, status Ririn bukan PSK Argorejo. Ada sebanyak 550 wanita pekerja seks komersial di Resos Argorejo. Ririn tidak termasuk di dalamnya. Ia hanya nunut tidur di wisma tersebut. Sedangkan pria bernama Icuk yang bersama korban, menurut Suwandi, adalah gemblekan korban. ”Saya kira dia gemblekannya,” ujar Suwandi. (amu/aro/ce1)