Ubah Kota Genangan Jadi Kota Kenangan

301

TEMBALANG — Pemkot Semarang berusaha melakukan pembenahan agar setara dengan kota-kota metropolitan lainnya. Utamanya, masalah infrastruktur dan ruang terbuka hijau (RTH). Mindset yang selama ini melekat Semarang kota genangan akan segera hilang dan berubah menjadi Semarang kota kenangan.
Jika dibandingkan lima atau sepuluh tahun lalu, perkembangan Kota Atlas sudah terbilang pesat. Bahkan sejumlah wilayah yang sebelumnya selalu tergenang, kini mulai berkurang bahkan kering. Ya, sejumlah wilayah genangan mulai berkurang seiring dengan pembangunan proyek-proyek pengentasan rob dan banjir yang telah dilakukan oleh Pemkot Semarang yang mendapat dukungan dari Pemprov Jateng dan Pemerintah Pusat. Sebut saja Banjir Kanal Barat (BKB).
Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, juga menjadi objek yang sangat indah. Kesan kumuh, seram, dan tidak aman yang sebelumnya melekat di wilayah bantaran BKB pun kini telah sirna.
Wilayah BKB pun kini menjadi destinasi masyarakat lokal yang ingin menghabiskan waktu untuk bersantai dan menikmati pemandangan bantaran sungai. Apalagi saat malam hari, temaram lampu berderet indah. Belum lagi view Jembatan Lemah Gempal yang dihiasi lampu LED. Sekilas jika diamati seperti jembatan Suramadu.
Proyek pengendali banjir lainnya yang telah rampung dikerjakan adalah kolam retensi di Tanah Mas. Kolam penampungan seluas 6,8 hektare itu diklaim mampu mengatasi wilayah banjir di wilayah Semarang tengah dan utara seluas 13 kilometer. Bahkan pemkot juga telah mewacanakan di area kolam retensi akan dibangun fasilitas penunjang wisata, seperti restoran dan pemancingan.
Megaproyek yang sebentar lagi rampung dan dioperasikan adalah Waduk Jatibarang. Sama seperti halnya proyek penanggulangan banjir lainnya, di kawasan waduk juga bakal difungsikan sebagai objek wisata. Untuk mendukung objek wisata Waduk Jatibarang tersebut, pemkot telah menyiapkan SDM dari masyarakat sekitar waduk, seperti Kampung Kandri.
Selain konsen menangani masalah banjir dan rob, pemkot juga tengah fokus membenahi lingkungan. Utamanya dalam pemenuhan ruang terbuka hijau (RTH). Dalam dua tahun terakhir ini, sejumlah RTH publik berhasil dibangun. Seperti Taman Sampangan, Taman Tirto Agung, Taman Rejomulyo, Taman KB, dan satu taman lagi yang masih dalam proses pembangunan adalah Taman Pandanaran. Tepatnya di bekas SPBU. Pembangunan Kota Semarang yang tengah berproses ke arah lebih baik mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat.
Seperti Ketua Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Prof Eko Budiharjo yang mendukung pembangunan Taman Pandanaran. Menurut mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) itu, sudah seharusnya pemkot mengembalikan fungsi lahan RTH di eks SPBU itu. Dia mengaku sangat apresiatif atas langkah pemkot tersebut. ”Bagus, jika mau dibuat ruang hijau bagus. Jadi persentase RTH sebesar 30 persen di setiap kota bisa diterapkan,” ujarnya.
Usaha pemkot mempertahankan dan mengembangkan RTH memang patut diapresiasi. Guru Besar Arsitektur dan Perkotaan Fakutas Teknik Undip itu sebelumnya sempat berang ketika pemkot mewacanakan GOR Tri Lomba Juang akan dijadikan hotel berbintang. Bahkan dia sempat bersuara keras terkait ketidaksetujuannya itu. Dikhawatirkan bila beralih fungsi menjadi hotel, ruang terbuka hijau sebagai penyerapan air dan tempat rekreasi serta olahraga masyarakat Semarang akan hilang. 
”Dulu saya memang menolak keras jika GOR Mugas (Tri Lomba Juang) dijadikan hotel. Karena daerah resapan akan hilang, nilai lingkungan akan menjadi lingkungan ekonomis. Dan itu dapat berdampak terhadap kualitas udara di perkotaan dan banjir akan semakin parah, karena daerah resapan mulai berkurang. Tapi sekarang dipertahankan bahkan direvitalisasi menjadi area olahraga publik, saya sangat mendukung,” tandasnya.
Dia juga berharap pemkot bisa mengendalikan pembangunan hotel, supermarket, dan tempat komersial lain di wilayah Semarang Atas. Dia mencontohkan kawasan Candi, di mana perkembangan pembangunannya sudah tidak terkendali. Kawasan-kawasan yang berfungsi sebagai RTH justru berubah fungsi menjadi pusat bisnis.
”Kalau diingat kawasan Candi banyak perumahan masa Belanda dengan halaman yang luas dengan banyak pepohonan. Itu sangat mendukung RTH. Dan itu yang seharusnya dijaga. Tapi, investor memanfaatkan kawasan itu sebagai pusat bisnis dengan membangun hotel, mal, dan ruko. Di kawasan Candi harusnya terawasi dengan ketat, kalau dibiarkan banjir di Semarang tidak bisa selesai,” tegas pria kelahiran Purbalingga, 9 Juni 1944 itu.
Pembangunan dan pembenahan yang selama ini sudah dan akan dilakukan pemkot memang sudah mengarah ke kondisi lebih baik. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan segera diselesaikan. Yakni, masalah revitalisasi Pasar Johar. Kondisi kumuh dan semrawut yang terlihat saat ini perlu segera direvitalisasi tanpa harus menghilangkan infrastruktur heritage yang telah menjadi ciri khas salah satu pasar tradisional tertua di Semarang itu. Menurutnya, Pasar Johar merupakan sebuah warisan budaya, yang harus dilestarikan keasliannya.
”Bukan Pasar Johar-nya yang harus dirombak menjadi mal, tapi yang harus dibenahi itu lingkungan sekitarnya. Kalau dirombak menjadi mal, para pedagangnya mau dikemanain? Sewa tempat di mal sendiri kan mahal,” ujarnya.
Eko mengatakan, pembangunan Pasar Johar merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi semua warga Semarang. ”Harus ada tekad dari gubernur dan wali kota untuk membenahi pasar bersejarah tersebut,” kata Eko.
Diakui Eko, biaya pembangunan Pasar Johar memang sangat besar. Jika ditanggung pemkot sendiri tidak akan mampu. ”Harus ada bantuan dari pusat. Kalau hanya mengandalkan kota (pemkot), biayanya masih kurang,” imbuhnya.
Selain Pasar Johar, infrastruktur publik yang harus segera dibenahi, menurut, pria yang bergelar Master of Science di Town Planning University of Wales Institute of Science and Technology Inggris tahun 1978 ini adalah Terminal Terboyo. Menurutnya, penangan terminal tipe A ini harus menggunakan skala perpetaan. ”Mengatasi kondisi Terboyo, kita juga harus memperhatikan pantai di Demak dan Kendal. Karena kondisi Terminal Terboyo sekarang juga dipengaruh pantai-pantai tersebut,” katanya.
Eko juga berharap, kondisi di Semarang tidak akan berakhir seperti kondisi di ibu kota Jakarta, yang menurutnya kian memprihatinkan. ”Semarang jangan sampai seperti Jakarta, yang kian hari kian dikepung banjir. Untuk itu sabuk pantai harus diperhatikan,” kata pria yang sudah menelurkan lebih dari 10 buku ini. (humas 03)