24 Anak Kena Penyakit Kelamin

243

SEKS bebas di kalangan remaja dan anak semakin memprihatinkan. Akibatnya, banyak anak kini mengidap penyakit infeksi menular seksual (IMS) atau penyakit kelamin.
Bahkan data dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang mengungkap, anak-anak di bawah usia 10 tahun ada yang terjangkit penyakit kelamin
Data 2013 mencatat, ada 10 anak usia di bawah 10 tahun yang terjangkit IMS. Rinciannya, penyakit syphilis sebanyak 1 anak, gonorrhoe (1), herpes gentitalis (3), herpes simplex virus (3), dan condyloma acuminata (2).
”Penyakit-penyakit itu bisa dipastikan akibat berhubungan seks. Sangat ironis sekali, jika melihat penderitanya anak di bawah 10 tahun,” terang Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit DKK Semarang, Mada Gautama kepada Radar Semarang.
Sedangkan penderita IMS dari enam jenis penyakit akibat hubungan seks (syphilis, gonorrhoe, herpes gentitalis, herpes simplex virus, condyloma acuminata) pada anak umur 11 sampai 20 tahun ada 14 anak.
”Yang menjadi perhatian kita adalah kesibukan orang tua, baik ayah maupun ibunya. Kesibukan mereka bekerja, membuat sang anak kurang mendapatkan perhatian. Sehingga menciptakan suatu peluang bagi anak. Mereka yang belum saatnya melakukan hubungan seks, karena ada kesempatan, maka mereka melakukan itu. Baik di rumah ketika sepi, di tempat-tempat lain yang dirasa jauh dari lalu lalang orang,” ujarnya.
Jika dibanding tahun 2012, penyakit IMS pada anak baik di bawah 10 tahun dan kisaran umur 11-20 tahun, mengalami penurunan. Keterjangkitan IMS pada anak di bawah umur 10 tahun, ada 15 kasus, sedangkan umur 11-20 tahun ada 60 kasus.
”Data-data tersebut kami dapat dari sejumlah rumah sakit rumah sakit yang ada di Kota Semarang. Memang belum bisa mencakup semuanya, karena belum menjangkau pasien yang berobat di Puskesmas. Ke depan, kita akan meminta Puskesmas memberikan data penyakit IMS ke kami, selama ini hanya penyakit secara umum.”
Mada mengkui, selama ini pihaknya mengalami kesulitan menekan kasus IMS yang mulai menyerang anak-anak. ”Untuk melakukan pencegahan atau meminimalisasi IMS akibat seks bebas, DKK tidak bisa bekerja sendiri. Karena berkaitan dengan pembinaan moral, jadi harus melibatkan stakeholder lain,” katanya.
Meski begitu, beberapa tahun terakhir, DKK telah menjalankan program kesehatan reproduksi remaja. Kegiatan tersebut menyasar anak-anak pelajar. Pihaknya juga mengimbau kepada orang tua untuk meluangkan waktu pada anaknya. ”Setidaknya tahu apa yang dilakukan anaknya sehari-hari. Beri perhatian dan pengawasan kepada mereka (anak), sehingga sang anak merasa nyaman di rumah.”
Terpisah, Psikolog Probowatie Tjondronegoro mengatakan, minimnya pengawasan dan perhatian orang tua, sangat berperan anak-anak melakukan hal yang belum semestinya dilakukan.
Lemahnya kontrol orang tua, dapat dijadikan peluang mereka (anak-anak) meniru sikap orang dewasa. ”Karena ayah ibunya sibuk bekerja, di rumah sepi, situasi itu menjadi kesempatan bagi anak untuk mencoba-coba menonton film orang dewasa. Setelah itu, penasaran untuk mempraktikannya. Itu menjadi salah satu akses, tapi bukan berarti menjadi faktor utama.”
Menurut Probowatie, masalah seks tanpa bimbingan yang benar, bisa didapat si anak dari luar rumah. Baik buruknya lingkungan si anak, sangat memengaruhi sikap dan perilaku. Mereka mendapat informasi seks di luar, kemudian menginterpretasikan apa yang dilihat.
”Peran orang tua sangat penting di sini. Saya selalu menekankan komunikasi. Intensitas komunikasi saat di rumah sangat memengaruhi sikap si anak.” (zal/isk/ce1)