Petani Wonosobo Bisa Panen Kentang 30 Ton per Hektare, Begini Caranya

857
PANEN : sejumlah pejabat saat melakukan sampling hasil pemanenan kentang di Desa Serang dengan model ex fitro. (Sigit R)

RADARSEMARANG.ID – Pengolahan lahan di sektor pertanian kentang dengan cara konvensional nyatanya belum efektif. Hal itu disebabkan dari cara pemilihan bibit kentang yang tak berkualitas. Sehingga hasil panen tak maksimal.

Cara konvensional tersebut masih sering dilakukan oleh petani kentang di wilayah dieng. Selain kurang efektif, hasil panen yang dihasilkan ternyata jauh dari kata maksimal. Hal tersebut disampaikan Direktur PT Adhi Guna Farm, Adhi Wibowo saat melakukan uji sampling pemanenan produk kentang dengan model ex vitro. Di mana hasil dari model penanaman tersebut bisa menghasilkan lebih banyak produski kentang.

“Sesuai dengan contoh pemanenan yang kita lakukan. Itu kan perkiraan panennya diangka 30 ton per satu hektare,” katanya saat ditemui awak media, Rabu (19/11/2019).

Hal ini bisa dilihat dari keseriusan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat mencoba menanam benih umbi G2. Yang merupakan hasil aplikasi teknologi yang telah dilakukan uji tanam di Desa Serang, Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Pada lahan seluas enam ribu meter persegi dengan populasi tanam 14.000 benih. Dari hasil uji tanam tersebut dilaporkan bahwa produktivitas tanaman asal benih umbi G2 hasil ex vitro mencapai dua sampai tiga kali lipat lebih tinggi. Jika dibanding dengan benih umbi yang biasa digunakan petani secara umum.

“Jadi Tanaman hasil Bioreaktor Ex Vitro dapat menghasilkan rata-rata 2-3 kg umbi per tanaman. Sedangkan secara konvensional yang umum di masyarakat hanya 0.3 – 1 kg umbi per tanaman,” akunya.

Dari contoh tersebut, dirinya mengaku bahwa hasil panen itu berhasil menaikkan produski kentang hingga seratus persen. Sebab jika dibanding dengan pengelolahan kentang dengan benih seadanya. Dalam satu hektar saja maksimal hanya bisa mencapai 15 ton.

“Oleh karenanya dengan memperhatikan benih yang baik dan berkualitas dan bersertifikat, itu ternyata hasil pertanian tetep bisa naik,” terangnya.

Selain itu, dirinya mengaku bangga sebab baru pertama kali ini petani wonosobo bisa mengahsilkan benih bersertifikat label putih. Dan menurutnya produksi itu dilakukan di Wonosobo sendiri. Dengan melibatkan kelompok tani dari Adhi gunafarm.

“Jadi di Wonosobo sudah bisa menghasilkan benih berkualitas itu secara mandiri. Karena selama ini produsen benih yang ada di Kledung, Temanggung itu disubsidi pemerintah,” lanjutnya.

Oleh karenanya, setelah melihat inovasi tekhnologi dalam perbanyakan benih kentang dengan sistem bioreaktor ex vitro itu bisa jadi kesejahteraan masyarakat. Mulai dari keikutsertaannya para petani menjadi penangkar, memproduksi benih hingga menggunakannya sendiri.

“Ini adalah inovasi yang diberikan langsung pada masyarakat. Sebab tujuannya untuk mereka sendiri. Kalau petani berdaya secara mandiri, kesejahteraan akan bisa terbangun,” pungkasnya. (git/ap)