KB Implant Paling Diminati

1224
TIDAK GEMUK: Ketua TP PKK Wonosobo Fairuz Eko Purnomo menyambangi akseptor implant di Desa Ngalian, Kecamatan Kepil, Selasa (18/4). (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)
TIDAK GEMUK: Ketua TP PKK Wonosobo Fairuz Eko Purnomo menyambangi akseptor implant di Desa Ngalian, Kecamatan Kepil, Selasa (18/4). (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)

WONOSOBO – Alat kontrasepsi jenis implant atau susuk masih menjadi pilihan utama bagi perempuan yang mengikuti program keluarga berencana. Selain lebih simpel cara pasangnya, alat kontrasepsi (alkon) implant dinilai tidak berefek pada kegemukan.

“Lebih dari 90 persen peserta yang mendaftarkan diri sebagai akseptor baru, memilih untuk menggunakan metode implant sebagai perencanaan keluarga jangka panjang,” jelas Koordinator Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Kepil Sopiah dalam Safari PKK-KKBPK-Kes di Desa Ngalian, Kecamatan Kepil, Selasa (18/4).

Alasan utama dari kebanyakan akseptor pengguna implant adalah mereka tidak ingin terlihat gemuk setelah mengikuti program KB. “Sebelum ini saya KB suntik, dan ternyata berimbas pada hormon dan sekarang jadi lebih gemuk dari sebelum memakai alkon,” tutur Ny Aan, 20, salah satu peserta safari KB asal Desa Kalipuru.

Ny Aan menceritakan, selama lebih dari setahun sejak anak pertamanya lahir, ia telah mencoba KB dengan metode suntik periode 3 bulan sekali. Hasilnya memang sesuai dengan keinginan. Namun karena memiliki efek kegemukan, ia lantas memilih KB implant.

Sopiah mengakui, pihaknya memang lebih mendorong agar akseptor bersedia menggunakan metode jangka panjang seperti implant atau IUD. Kendati program IUD belum diminati, namun secara umum kesadaran akseptor baru terhadap alkon jangka panjang, menurut Sopiah, sudah melegakan. Di wilayah Kepil, target pencapaian akseptor juga sudah tinggi yaitu mencapai 81 persen.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan (DPPKB PP dan PA) Junaedi menyebut capaian pasangan usia subur (PUS) yang telah mengikuti KB sampai Maret 2017 sejumlah 132.194 pasangan. “Jumlah itu berarti mencapai 80,2 persen dari target PUS yang kini mencapai 164.807 pasangan,” jelas Junaedi. (cr2/ton)