Tanah Longsor Intai 17 Kecamatan

125
Foto Edi Susanto
Foto Edi Susanto

RADARSEMARANG.ID, MUNGKID – Sebanyak 17 kecamatan dari 21 kecamatan di Kabupaten Magelang rawan tanah longsor. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edi Susanto Rabu (6/11) mengatakan selama 2019, pihaknya mencatat bencana tanah longsor di Kabupaten Magelang 198 kejadian. Dari 21 kecamatan menurut Edi, sebanyak 17 kecamatan berpotensi terjadi tanah longsor.

“Catatan kami, kecamatan yang rawan adalah Bandongan, Borobudur, Candimulyo, Dukun, Grabag. Kemudian Kajoran, Kaliangkrik, Ngablak, Pakis, Salam, Salaman, Sawangan, Secang, Srumbung, Tegalrejo, Tempuran, dan Windusari. Sedang kecamatan yang paling rawan adalah Salaman, karena kejadian terbanyak di sana,” katanya.

Edi menuturkan, untuk empat kecamatan yang tidak rawan longsor adalah Mungkid, Muntilan, Ngluwar dan Mertoyudan. Meskipun demikian, kewaspadaan masyarakat, menurut Edi, sangat diperlukan mengingat saat ini masuk musim hujan.

“Tapi perlu diwaspadai. Pengalaman masa lalu, kalau kemarau panjang, dari referensi yang saya baca, pori-pori tanah membuka. Sehingga kecepatan air itu meningkat, tanah cepat lepas, tidak saling mengikat. Maka potensi longsor meningkat, belajar dari pengalaman saja. Potensi tinggi di Salaman, di pegunungan Menoreh,” imbuhnya.

Edi menyebutkan, berdasarkan peristiwa longsor yang terjadi sepanjang 2019, tercatat ada 198 kasus, tersebar di 18 kecamatan. Mayoritas tanah longsor yang terjadi, di pegunungan Menoreh meliputi Kecamatan Borobudur, Salaman, dan Tempuran.

Dampaknya, sebanyak 51 unit rumah rusak ringan, 1 unit rumah rusak sedang, empat unit rusak berat, dan memakan korban empat jiwa luka-luka dan meninggal dunia tiga jiwa.
Edi menyebutkan, dalam upaya untuk mencegah dan memberi peringatan dini adanya bencana tanah longsor, pihaknya telah melakukan pemantauan terhadap Early Warning System (EWS) yang terpasang. Sebanyak 27 EWS, menurut Edi, dalam kondisi baik karena sudah dilakukan pengecekan dan perbaikan.

Terkait dengan masih adanya droping air, Edi membenarkan pihaknya terus mendistribusikan air bersih meski sudah masuk musim hujan. Sebab, beberapa wilayah masih mengalami kekeringan.

“Beberapa wilayah masih belum terisi sumber mata airnya. Jika pun sudah terisi, sumber mata air keruh atau belum bisa dikonsumsi. Jadi ada priotritas 17 desa yang kami distribusikan air bersih. Kalau ditotal dalam musim kemarau ini, sekitar lima bulan ini, kami telah mendistribusikan sebanyak kurang lebih 1,5 juta liter air bersih,” imbuhnya. (had/lis)