alexametrics

Sebelum Tewas Ditabrak Bus Indofood, Amin Sempat Pulang untuk Makan Siang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kecelakaan maut yang terjadi Jalan Tambakaji, Ngaliyan, Kota Semarang, Senin (7/3) lalu, menyisakan duka mendalam bagi Muhlisatun.

Sebab, ibu dua anak ini harus kehilangan suami tercinta, Amin Sarwono, 56, untuk selama-lamanya. Amin tewas seketika setelah ditabrak bus bertuliskan PT Indofood CBP Sukses Makmur saat bekerja sebagai pengatur jalan atau Pak Ogah di pertigaan Jalan Tambakaji dan Jalan Walisongo.

Ditemui di rumah duka Kampung Sendangsari RT 04 RW 11, Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Muhlisatun tampak masih lemas. Ia berkali-kali menangis saat warga datang untuk takziah.

Pun dengan kedua anaknya, Rizal Azizi dan Rina Puspitasari. Jenazah Amin sendiri langsung dimakamkan Senin malam. “Setelah tiba dari rumah sakit sekitar pukul 20.00 malam, jenazah bapak tidak dibawa ke rumah. Warga sini sepakat langsung disalatkan di musala. Setelah itu, langsung dimakamkan,” kata Muhlisatun saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (8/3).

Baca juga:  Bus Tiara Mas Terguling di Tol Batang-Semarang, Satu Penumpang Tewas, 17 Terluka

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, terlihat tikar-tikar masih digelar di lantai rumah duka. Beberapa warga masih berdatangan untuk bertakziah. Melihat Muhlisatun dan anaknya terus menangis, beberapa petakziah tidak kuat membendung air mata.

Muhlisatun mengaku, sebelum kecelakaan maut terjadi, suaminya itu sempat pulang untuk makan siang. Setelah itu, biasanya korban langsung berangkat lagi ke lokasi menjadi Pak Ogah.

Namun tidak seperti biasanya yang selalu semangat untuk berangkat, ayah dua anak itu mengeluh lemas dan tak ingin berangkat kerja lagi. Namun tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga, membuatnya nekat berangkat meski agak memaksakan diri.

“Kemarin itu habis pulang, Mbak. Dia bilang lemes, capek gitu,” jelas wanita 54 tahun ini.

Selang beberapa menit suaminya berangkat kerja, tiba-tiba Muhlisatun mendapat kabar kalau Amin menjadi korban kecelakaan. Muhlisatun sendiri tidak bisa melihat jenazah suaminya untuk kali terakhir. Sebab, saat tiba dari rumah sakit sekitar pukul 20.00, jenazah sudah dalam peti.

Baca juga:  Kebakaran di RSUP dr Kariadi, Titik Api dari Ruang Rekam Medik

“Kasihan Mbak. Datang sekitar pukul 20.00 malam langsung dimakamkan,” katanya.

Kondisi hujan membuat jenazah langsung dimakamkan di TPU Karanganyar.

Ia mengaku tidak ada firasat yang dirasakan keluarga. Semuanya berjalan mendadak. Amin sendiri asli Banjarnegara. Sedangkan Muhlisatun asal Purworejo. Keduanya merantau dan tak punya sanak saudara di Semarang. Namun tetangganya dengan ikhlas membantu segala keperluan pemakaman.

Kesedihan mendalam masih dirasakan putri bungsunya, Rina Puspitasari. Setiap ada orang dating, tangisannya pecah. Selain berpikir ayahnya telah tiada, ia harus merawat ibunya yang sedang sakit. “Saya masih kelas dua SMP, Mbak. Minta doanya aja biar ibu tetep sehat,” ujar Rina dengan berurai air mata.

Dikatakan, ibunya sudah tidak sehat seperti dulu. Ia menderita asam lambung. Pernah menjalani rawat inap di Puskesmas Ngaliyan. Muhlisatun juga mengidap penyakit vertigo dan harus dilarikan di RSUD Tugurejo. Saat ini, kondisinya sudah sehat. Ia hanya dianjurkan untuk menjaga pola makan.

Baca juga:  Angin Kencang Terbangkan Atap Rumah Warga Mlatibaru

Kondisi yang menimpa suaminya membuatnya syok. Pascakejadian, pihak PT Indofood CBP Sukses Makmur telah menyambanginya. Santunan telah diberikan. Mereka bertanggung jawab terhadap kejadian yang menimpa Amin. “Mereka (Indofood) sudah ke sini. Dapat apa saya juga nggak tahu, Mbak. Pikiran saya masih campur aduk,” ujar Muhlisatun.

Mbak Ning, tetangga korban, turut berduka atas musibah yang menimpa Amin Sarwono. Selama ini, kata dia, setiap ada acara di kampung tersebut, Amin selalu membantu. “Pak Amin orangnya baik, Mbak. Ramah dan suka membantu,” jelas Mbak Ning.

Sebelum menjadi Pak Ogah, Amin menjadi penjual dawet ayu khas Banjarnegara. Namun karena pandemi membuat dagangannya sepi, lalu beralih menjadi Pak Ogah. “Dulu jualan dawet. Kerja gini baru sekitar satu tahunan,” imbuh Muhlisatun. (cr4/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya