alexametrics

Kesaksian Korban Selamat Tragedi Perahu Terbalik di Bengawan Solo, Rasanya Nyawa Sudah Lepas dari Tubuh

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Bojonegoro – Ketika pusaran arus Bengawan Solo menyeretnya, Arif Dwi Santoso sudah memupus harapannya untuk selamat. Dia hanya bisa pasrah. Kurir Kantor Pos Kanor tersebut adalah salah satu dari sepuluh korban selamat.

Musibah tersebut menimpa Arif ketika hendak berangkat kerja ke Kantor Pos Kanor. Menyeberangi Bengawan Solo dengan perahu penyeberangan adalah rutinitas pria yang tinggal di Desa/Kecamatan Rengel itu. Tidak hanya ketika berangkat kerja, namun juga pulang kerja.

Ditemui Jawa Pos Radar Tuban di rumahnya kemarin (3/11/2021) sekitar pukul 17.00, pria 39 tahun itu mengungkapkan, hatinya merasa tidak enak ketika penambang perahu atau juru mudi perahu membeberkan sesuatu yang mendebarkan. ”Dia mengatakan paginya perahu sempat akan terguling,” ujarnya. Setelah mendapat cerita itu, hatinya diselimuti kekhawatiran.

Baca juga:  Satu Orang Meninggal Akibat Longsor di Delikrejo Semarang

Arif mengemukakan, perahu yang ditumpanginya sebetulnya tidak over load. Itu karena yang diangkut hanya sekitar 7–9 motor, termasuk pengendaranya. Sedangkan total penumpangnya sekitar 15–17 orang. Dua di antaranya anak kecil.

Bapak dua anak ini mengatakan, ketika sampai di tengah, perahu tiba-tiba oleng. Juru mudi terlihat kesulitan mengatur. Tak lama berselang perahu dalam posisi miring.
Ketika menceritakan hal tersebut, Arif terlihat tegang. Suaranya parau. ”Saat itu, saya optimis perahu tidak akan terbalik,” tuturnya.

Untuk  mengimbangi perahu yang miring, Arif yang posisinya di atas motor  mencengkram kuat-kuat handle rem motornya. Berharap perahu menjadi seimbang.

Namun, usaha itu gagal. Sebab, motor-motor yang lain berguguran ke sungai dan perahu pun terbalik. Waktu itu, semua penumpang dalam kondisi panik. Semua berebut menyelamatkan diri. Suasana sangat kacau. Dia sempat melihat sejumlah penumpang yang naik ke permukaan diseret penumpang lain. ”Oyok-oyokan slamet, Mas,” ujarnya.

Baca juga:  Update Banjir Kota Semarang, Tambakrejo Paling Parah

Meski bisa berenang, Arif mengaku sempat tenggelam cukup lama karena terseret arus yang kuat. ”Rasanya, nyawa sudah akan lepas dari tubuh, namun takdir berkata lain,” kata dia.

Setelah terbenam, Arif mengaku ada kekuatan yang memunculkannya ke permukaan. Betapa leganya dia ketika itu sebuah perahu penambang pasir berada di dekatnya. Dia pun naik perahu tersebut setelah salah satu penambang pasir melempar tali kepadanya. ”Saya cengkeram tali itu. Lalu saya ditarik ke perahu penambang pasir itu,” ujar pria yang sudah enam tahun bekerja di Kantor Pos Kanor itu.

Dalam tragedi tersebut, dia mengaku tak mampu berpikir jernih dan terpikirkan untuk menolong penumpang lain. Seperti dilakukan seorang penumpang yang juga tetangganya. Dia berusaha menyelamatkan ibunya, namun setelah melihat ada anak kecil yang tenggelam, dia urungkan niatnya dan memilih menyelamatkan bocah tersebut.

Baca juga:  Sopir Ceroboh, Kontainer Jatuh di Exit Tol Gayamsari Semarang

Belakangan diketahui ibu penumpang tersebut selamat ditolong penumpang lain.
Firasat terjadinya bencana tersebut dirasakan Ana, istri Arif. Dia mengatakan, sebelum kejadian hatinya sangat sensitif. ”Tidak tenang. Tidak enak semua,” ujar dia mendampingi suaminya.

Ana mengatakan, Selasa (2/11/2021) malam, dia dan suaminya sempat video call (VC) dengan anaknya yang nyantri di Ponpes Sarang, Rembang, Jateng.

Ketika VC, anaknya tiba-tiba menutup telepon sambil menangis. Menurutnya, hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. (sab/bj/cup/ds/min/JPR/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya