alexametrics

Pandemi, Rektor Udinus Dapatkan 470 Surat Cinta

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Masih dalam nuansa Lebaran, Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Senin (23/5). Pertemuan kali ini Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baihaqi bersama jajaran pimpinan lainnya turut hadir di Gedung Rektorat Udinus.

Rektor Udinus, Prof Edi Noersasongko menyambut baik tentang berbincang banyak hal. Mulai tentang pandemi Covid-19, perkembangan teknologi terbaru, konten youtube, mahasiswa berprestasi, kegiatan kampus, dan lainnya. Menariknya, Prof Edi sapaan akrabnya – mengaku mendapatkan 470 surat cinta dari mahasiswanya selama pandemi Covid-19.

“Covid-19 itu memang cukup mengganggu. Ekonomi, pembangunan, dan pendidikan terkena imbasnya. Bahkan saat awal pandemi, saya mendapat 470 surat cinta, dan itu terus bertambah,” Kata Edi Noersasongko.

Baca juga:  110 Siswa Ikuti Khotmil Quran

Surat cinta tersebut merupakan surat permohonan dari mahasiswa untuk memperoleh keringanan membayar SPP. Hal itu karena kondisi orang tua mahasiswa yang kena PHK, hingga kondisi perekonomian yang memburuk. Tak hanya itu, sebagian civitas akademika banyak yang terkena Covid-19.

Karena kondisi yang sulit itu, pihaknya berupaya mendekat kepada Sang Pencipta. Kali ini dengan menggelar khataman Alquran secara online. Seminggu dilaksanakan dua kali. Itu berlangsung hingga sekarang, sudah masuk putaran yang ke-200.

“Kami bersyukur, dengan lebih mendekat kepada Sang Khaliq, justru mendapatkan banyak kemudahan. Udinus tetap bisa eksis di tengah pandemi,” tuturnya penuh syukur.

Pembahasan berlanjut pada teknologi terbaru. Sedangkan koran dinilai menjadi media yang kuno. Namun menurut Direktur Jawa Pos Radar Semarang, Baehaqi, koran adalah bisnis kepercayaan. Media cetak ini dikenal dengan penulisan beritanya yang kritis.

Baca juga:  Lantik 3.717 Mahasiswa Baru pada Dinus Inside

“Norma itu sangat penting. Kami sebagai perusahaan yang bergelut di media cetak, sangat mengedepankan kepercayaan dari masyarakat. Jadi berita yang dibuat pun harus kritis dan sesuai dengan fakta,” jelasnya.

Ia menambahkan media online itu rawan hoax. Penulis belum tentu terjun ke lapangan saat menulis beritanya. Kendati begitu, media cetak dan media online akan menemukan jalannya sendiri.

“Banyak di luaran sana yang membuat konten youtube. Benar uangnya banyak yang didapat. Tapi itu hanyalah konten yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya,” tambahnya.

Sementara itu media cetak hadir dengan mengutamakan kebenaran. Orang-orang yang sudah beralih ke media online pun pasti akan beralih ke media cetak untuk mengecek fakta. (kap/ida)

Baca juga:  Orang Tua Harus Melek Digital

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya