alexametrics

Setiap Kelas Dilengkapi Piranti Pembelajaran Digital

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang semakin matang mem-branding diri menjadi perguruan tinggi berbasis digital. Pelayanan pendidikan dan administrasi dikelola secara smart dan berbasis teknologi informasi. Tingkat kepuasan mahasiswa pun tinggi.

Kampus dengan tagline “smart and green campus” ini sudah lama menerapkan pembelajaran e-learning. Bahkan, masing-masing fakultas sudah bertransformasi ke konsep smart class. Yaitu konsep pembelajaran yang didukung oleh alat digital dan kemajuan teknologi informasi. Meskipun tidak semua program studi (prodi), namun mayoritas kelas sudah dilengkapi dengan piranti pembelajaran yang serba digital.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Walisongo Semarang Mukhsin Jamil mengatakan, digitalisasi kampus dipercepat dengan hadirnya Covid-19. Dalam rangka itu pula, pihaknya mendorong tiap fakultas untuk mempunyai smart class. Kondisi itulah yang menuntut wajah pembelajaran dilakukan secara hybrid. Yakni mengombinasikan antara daring dan luring.

Baca juga:  SMKN 4 Semarang Siapkan Lulusan Siap Kerja

“Sehingga pemanfaatan teknologi informasi semakin masif. Bahkan dua tahun belakangan didominasi pembelajaran online,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang di gedung Rektorat Kampus III UIN Walisongo Semarang.

Saat ini, kata dia, mulai menyeimbangkan antara pembelajaran daring dan luring. Ia juga menegaskan bahwa dari segi pengembangan UIN Walisongo Semarang sudah termasuk kampus digital. Kendati demikian, belum semua program studi bisa menerapkannya.

“Ada keterbatasan untuk memberikan perhatian yang seimbang antara bertransformasi ke digital dan kebutuhan pendidikan, riset, dan sarana prasarana,” ujar dosen Fakultas Ushuluddin ini.

Ia menambahkan, profil kampus digital dapat dilihat melalui dua hal. Pertama, sarana dan prasarana teknologi informasi yang menunjang pelayanan. Baik dalam pembelajaran maupun pelayanan administrasi kampus.

Baca juga:  Jurnalis Cilik SMPN 38 Juara 3 LKJS 

Kedua, dari sisi konteksnya. Ketersediaan e-learning yang digunakan untuk berinteraksi dengan mahasiswa melalui sistem yang ada. “Bahannya juga dari digital. Mahasiswa dapat mengakses video yang kita buat,” tandasnya.

Selain itu mendukung komunikasi conference, menyimpan video, artikel, dan lainnya. Dalam sistem tersebut, secara transparan dapat dilihat berapa persen mahasiswa yang mengakses.

Mukhsin menjelaskan, hasil evaluasi menunjukkan tingkat kepuasan mahasiswa tinggi. Efektivitas smart class menunjukkan hasil yang optimal. Dalam penyelenggaraan e-learning, mayoritas mahasiswa mengapresiasi. “Tingkat kepuasan berada di angka 3,6 dari skala 1 sampai 4.

Di awal perintisan smart class sempat mengalami kesulitan karena proses adaptasi. Namun, menginjak tahun kedua mulai terbiasa dan menunjukkan hasil yang baik. Kendati demikian memang tidak bisa diberlakukan 100 persen digital. Sebab mata kuliah yang sifatnya praktikum tidak bisa dilakukan online.

“Kita ingin mahasiswa mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam pembelajaran. Interaksi secara langsung dapat melihat banyak hal dari cara mahasiswa belajar,” katanya. (cr3/ida)

Baca juga:  Dukung Pemerataan Tenaga Pendidik

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya