alexametrics

Hadapi Learning Loss, Semarang segera Terapkan Kurikulum Merdeka

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Gajahmungkur melakukan persiapan penerapan kurikulum merdeka. Hal ini untuk mengantasipasi terjadinya learning loss atau penurunan capaian belajar akibat pandemi Covid-19.

Ketua Panitia Penyelenggara Tri Sunu menyebutkan, bergulirnya konsep merdeka belajar yang diusung oleh Kemendikbudristek menuntut sekolah untuk segera menerapkan kurikulum merdeka. Kurikulum ini diharapkan mampu meningkatkan secara luar biasa (stepping stone) untuk mengejar ketertinggalan.

“Rencananya akan diterapkan mulai tahun depan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang saat Workshop Sosialisasi dan Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di SD Negeri Petompon 02 kemarin (22/3).

Selama pandemi, kata dia, peserta didik mengalami learning loss. Sebab, penyelenggaraan pendidikan secara daring seringkali terjadi kesenjangan akses dan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan kurikulum yang mampu mengejar kondisi ketertinggalan itu.

Baca juga:  Dinas Pendidikan Dirikan Saka Widya Budaya Sakti

Tri memaparkan, ada banyak bentuk ketertinggalan yang dialami peserta didik. Mulai dari aspek literasi, numerasi, bahkan hingga berdampak pada karakter anak. Model pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat peserta didik tidak serius dan hanya fokus bermain gawai. Kondisi itu diperparah dengan kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua karena sibuk bekerja.

“Mengerjakan tugas hanya sebatas formalitas. Berbeda dengan siswa datang ke sekolah. Ada pengawasan dan perhatian dari guru dengan intensif,” tuturnya.

Tri melanjutkan, kurikulum merdeka ini menjadikan guru dan siswa merdeka. Sebab, pusat kurikulumnya bukan dibentuk dari instruksional, namun lingkungan sekitar. Peserta didik diposisikan menjadi fokus utama. Selain itu peserta didik dituntut terlibat langsung dalam sebuah project.

Project base learning membuat siswa benar-benar mengalami apa yang ingin diketahui. Sehingga ilmunya membekas dan tahan lama,” ujarnya.

Baca juga:  Kenalkan Bahasa Jawa sejak Dini

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang Gunawan Saptogiri mengungkapkan, pelaksanaan konsep merdeka belajar diserahkan kepada daerah dan sekolah masing-masing. Ada beberapa program yang akan diusung.

Di antaranya organisasi penggerak, kepala sekolah penggerak, guru penggerak, dan sekolah penggerak. “Sekolah penggerak wajib memakai kurikulum merdeka. Ke depan secara bertahap, semua sekolah menjadi sekolah penggerak,” tuturnya.

Dirinya mengungkapkan, kurikulum merdeka belajar menuntut guru untuk bisa berinovasi. Khususnya dalam pengembangan pembelajaran. Mengingat Kota Semarang prestasinya luar biasa di bidang pendidikan. Sapto meminta kepada para guru dan kepala sekolah untuk segera menerapkan kurikulum merdeka. “Kita tidak boleh kalah dengan daerah lain. Baik negeri maupun swasta memakai kurikulum merdeka,” pungkasnya. (cr3/ida)

Baca juga:  Aturan Baru BOS Bisa Matikan Sekolah Pinggiran

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya