alexametrics

Berharap Homeschooling Jadi Opsi Pendidikan yang Mudah Diakses

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Ellen Nugroho dikenal sebagai praktisi homeschooling. Pemilik nama pena Ellen Kristi ini juga ikut merintis berdirinya Komunitas Homeschooling Semarang dan Perkumpulan Homeschooler Indonesia (PHI).

Biasanya setiap orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di sekolah negeri favorit. Ada pula di sekolah swasta yang biayanya selangit. Namun bagi Ellen Nugroho justru sebaliknya. Wanita berkacamata ini justru lebih memilih menyekolahkan ketiga anaknya secara homeschooling ketimbang di sekolah formal. Menurutnya, sekolah formal bukan satu-satunya tempat belajar. Ia lebih memilih mendidik anaknya secara mandiri berbasis keluarga.

Perkenalan Ellen dengan homeschooling adalah ketika dirinya menjadi relawan lembaga pendamping keluarga di Jogjakarta pada 2000. Setelah berdiskusi dengan kawan-kawan pegiat pendidikan alternatif dan membaca buku tentang pendidikan alternatif, ia berpendapat bahwa sekolah formal sebenarnya paradigma lama yang terlalu sempit. Sehingga kelak ia ingin menyekolahkan anaknya di sekolah alternatif yang idealis.

“Pada tahun 2006 anak saya lahir. Saya mencoba mencari sekolah yang berbasis idealis bukan hanya bisnis. Saya menemukan satu sekolah, sayang jaraknya jauh. Nah, pada proses pencarian itulah, saya akhirnya mengenal homeschooling. Pikir saya, mengapa tidak menyekolahkan sendiri anak saya,” ceritanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Baca juga:  Sejumlah Sekolah di Semarang Sudah Terapkan Aplikasi PeduliLindungi

Saat usia anaknya belum genap satu tahun, alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) ini membicarakan kepada Siek Liang Thay, suaminya, untuk kelak menyekolahkan anaknya secara homeschooling. Hal tersebut disambut baik oleh Liang Thay. Hingga sekarang, ketiga anaknya, yakni Nirvala Sakarnivana Mahardika, Ghandi Aksayadhama Mahardika, dan Neshama Avaravati Mahardika tidak pernah bersekolah secara formal.

Wanita kelahiran Semarang 1979 ini mengaku, banyak belajar dari senior-senior yang sudah terlebih dahulu menjadi seorang homeschooler. Hingga ketika sudah memiliki banyak pengalaman di dunia tersebut, giliran dia dan teman lainnya untuk mencari praktik homeschooling yang cocok untuk anak-anak mereka.

Sebagai salah satu orang tua yang paling awal menerapkan homeschooling di Semarang bisa dikatakan dirinya ikut merintis Komunitas Homeschooling di Kota Semarang. “Tapi saya tidak merasa mengembangkan. Saya hanya praktisi homeschooling yang bergerak bersama teman lainnya,” ujar warga Jalan Jeruk VII/24 Semarang ini.

Baca juga:  SMP IT PAPB Terbitkan Majalah dan Buku Baru

Diakui, saat itu pemahaman pemerintah maupun publik terhadap homeschooling masih minim. Kebijakan yang mengatur praktik sekolah di rumah oleh seorang homeschooler juga masih terbatas. Akhirnya, Ellen bersama delapan praktisi homeschooling lainnya mendirikan Perkumpulan Homeschooler Indonesia (PHI) pada 2016. “Perkumpulan ini menjadi organisasi, advokasi, edukasi, dan riset untuk perkembangan homeschooling,” jelas alumnus S2 Magister Filsafat UGM Jogjakarta ini.

Jumlah keluarga homeschooler yang bergabung dengan PHI dalam kurun waktu empat tahun terakhir sebanyak 354 keluarga, dengan 583 anak yang tersebar di 103 kota/kabupaten di 26 provinsi. Dalam organisasi tersebut, Ellen menjabat sebagai Koordinator Nasional PHI.

Menurut Ellen, ada banyak alasan mengapa keluarga memilih homeschooling. Ada yang karena kebutuhan praktis, filosofis, dan idealis. Misalnya, keluarga yang berpindah-pindah domisili, anak dengan kebutuhan khusus, anak sakit-sakitan, anak yang merintis karir secara intensif, hingga visi orang tua yang berbeda dengan sekolah formal.

“Saya pribadi beranggapan, yang penting orang tua mengambil keputusan soal opsi pendidikan secara sadar dan terinformasi. Jangan sekadar ikut arus. Begitu juga dengan homeschooling, jangan karena sebatas ikut-ikutan,” ucap mantan dosen Filsafat dan Metodologi Riset Undip pada 2003-2015 ini.

Baca juga:  Tangkal Radikalisme, Guru Diminta Kolaborasi dengan Siswa

Ke depan, Ellen berharap homeschooling menjadi opsi pendidikan yang dipahami, diakui, dilindungi, dan bisa mudah diakses oleh keluarga di Indonesia yang membutuhkan. Ia menilai, akan bagus bila ada kebijakan assessment center yang membuat homeschooler memiliki kedudukan yang sama dengan lulusan sekolah formal.

Selain menjadi Koordinator Nasional PHI, Ellen juga  memimpin EIN Institute, sebuah Non Goverment Organization (NGO) yang bekerja untuk mempromosikan keberagaman dan pendidikan pluralisme untuk anak-anak muda.  Di samping itu, Ellen juga menjabat sebagai konselor menyusui di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jawa Tengah. Ia kerap menyelenggarakan program-program pelatihan parenting dan pendidikan berbasis metode Charlotte Mason.  Ellen juga menulis banyak buku, salah satunya berjudul Cinta Yang Berpikir: Manual Pendidikan Karakter Charlote Mason. (mg6/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya