alexametrics

Tangkal Radikalisme, Guru Diminta Kolaborasi dengan Siswa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Era milenial menuntut guru Pendidikan Agama Islam (PAI) harus berinovasi dan kolaborasi dengan siswanya. Itu dilakukan, untuk menangkis paham radikal yang kini bersumber dari dunia maya. Untuk itu, moderasi beragama harus ditanamkan dalam diri guru dan siswa.

Ada tiga fokus penguatan moderasi beragama yang harus dilakukan guru PAI di Kota Semarang. Salah satunya, adanya gap generasi antara siswa milenial dengan guru konvensional. Gap generasi itu bisa diselesaikan dengan kolaborasi antara guru dengan siswa. Seperti siswa yang melek teknologi membuat konten moderasi beragama yang materinya berasal dari guru PAI.

“Itu untuk meminimalisasi adanya doktrin radikal yang berasal dari dunia maya. Karena, generasi milenial saat ini menguasai teknologi tetapi kurang begitu mengerti tentang konten moderasi beragama. Kalau tidak ada kolaborasi, generasi kita bakal tergerus dengan paham radikal itu,” ungkap Prof DR KH Musa Hadi dalam kegiatan seminar Moderasi Beragama dan Profesionalisme guru PAI Senin (27/12).

Baca juga:  Tiga Kali Ikut Pameran, Karyanya Laku Jutaan Rupiah

Menurutnya, keberhasilan penguatan moderasi beragama bisa dicapai dengan perubahan yang dilakukan oleh guru. Tak hanya itu, nalar agama juga perlu dipahami oleh guru PAI secara baik. Itu bisa dilakukan ketika guru mengerti Ad-Din (Religion) dan At-Tadayyun (Religiusitas).

“Itu keberagamaan hasil dari responsi terhadap agama yang kemudian diekspresikan oleh penganut agama. Nah sekarang, guru-guru agama belum mengetahui secara dalam terkait Ad-Din dan At-Tadayyun itu,” jelasnya.

Kendati begitu, dia berharap guru PAI bisa mengemas konten agama dalam mata pelajaran sesuai dengan generasi milenial. Selian itu, dia ingin supaya siswa bisa lebih kritis dan menggunakan akal sehat dalam mengakses konten agama melalui internet.

Baca juga:  Percepat Vaksin, Pemprov Jateng Dorong Vaksinasi Berbasis Desa

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang Mukhlis Abdillah mengatakan, rohis di sekolah saat ini sangat mudah disusupi oleh gerakan radikalisme. Oleh karenanya, guru PAI harus menjadi pendamping rohis agar memiliki moderasi beragama.

“Rohis kan memang penanggung jawabnya kepala sekolah. Tapi secara teknis yang membimbing kan guru PAI. Karena itu, guru PAI harus mampu mendampingi rohis agar memiliki moderasi beragama,” pesan Mukhlis. (dev/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya