alexametrics

Bekali Tenaga Pendidik Tangkal Konten Hoaks

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Survei Kominfo mencatat 11 persen masyarakat pernah menyebar hoaks. Melihat hal itu, Webinar Digital Society Kamis (26/8/2021), membekali ratusan tenaga pendidik untuk mengidentifikasi dan menangkal hoaks yang beredar di dunia maya.

Dirjen PAUD Diknas Dikmen Kemendikbudristek Jumeri mengatakan, 68 persen masyarakat kerap mendistribusikan pesan tanpa klarifikasi. Kebanyakan hoaks disebarkan oleh pengguna internet pemula. Baik anak-anak maupun orang dewasa.

“Kita menerima kiriman berita, lalu karena ingin dianggap hebat dan keren, segera membagikan tanpa klarifikasi. Padahal belum tentu paham kebenarannya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Plt Direktur Pengendalian Aplikasi dan Informasi Kemenkominfo Teguh Afiyandi menghimbau masyarakat dan pengguna internet untuk melaporkan konten hoaks yang ditemukan melalui aduankonten.id. Dengan begitu pihaknya juga dapat memfilter dan memblokir situs penyebar hoaks. “Kalau kita mau mengajarkan sesuatu ke anak-anak, maka kita perlu pengetahuan dasar dunia digital,” ujarnya kepada para tenaga pendidik dalam forum virtual.

Baca juga:  Ajak Mendongeng Ratusan Siswa Difabel

Dikatakan pengguna internet terus meningkat. Namun hal itu tidak diiringi dengan bekal cukup untuk berselancar di dalamnya. Banyak pengguna internet yang mengabaikan etika bermedsos dengan dalih tak bertemu secara langsung.

Oleh karena itu, ia menilai sangat penting untuk tenaga pendidik membekali diri. Agar mereka dapat mengedukasi anak didiknya untuk bijak menggunakan internet. Lalu memiliki kemampuan mengidentifikasi hoaks untuk menghentikan penyebaran hoaks itu sendiri. “Kucinya cek sumbernya, berpikir kritis, klarifikasi kebenaran,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ketua MAFINDO Septiaji Eko Nugroho mengatakan hoaks yang paling sering beredar selama pandemi ialah hoaks paket kouta internet gratis. Sebagian mengatasnamakan lembaga resmi pemerintahan dan meminta data pribadi pengguna internet. Lalu akibatnya pemilik gadget menjadi korban pembajakan atau penipuan. “Tugas kita sebagai tenaga pendidik itu klarifikasi dan menyampaikan, kalau tidak percaya ya sudah,” tutupnya. (taf/ida)

Baca juga:  Butuh Langkah Taktis Selamatkan Nasib Buruh

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya