alexametrics

Tahun Ajaran Baru, Pembelajaran Jarak Jauh Lagi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tahun ajaran baru sekolah akan dimulai Senin (12/7/2021) lusa. Banyak siswa dan para orangtua berharap hari pertama masuk sekolah sudah dilakukan dengan tatap muka. Namun melihat kasus positif Covid-19 yang terus menggila saat ini, pembelajaran tatap muka (PTM) dipastikan bakal kembali tertunda.

Ana Aprianingsih sudah tak tega melihat anaknya setiap hari menatap layar gadget atau laptop. Ia menyaksikan semangat belajar anaknya perlahan turun karena jenuh. Ibunda Syifa Aliyana Wardah ini sangat berharap tahun ajaran baru nanti, putrinya bisa belajar secara tatap muka di sekolah.

“Rencana awal yang kami dengar kan tanggal 12 Juli hari pertama masuk sekolah sekaligus hari pertama PTM. Tapi melihat kondisi covid saat ini, katanya ditunda. Ya sudah mau gimana lagi,” katanya pasrah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Aliyana pun sudah lama menantikan hari untuk berjumpa dengan teman-teman barunya. Sejak awal, ia memimpikan sekolah di SMK Negeri 7 Semarang. Namun setelah diterima, ia tak bisa datang ke sekolah, dan bertemu langsung dengan teman-temannya.

“Kalau gini terus nggak paham materi, apalagi pelajaran di SMK nanti harusnya banyak praktik langsung,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Ana membatalkan niatnya untuk menjahit seragam identitas SMK Negeri 7 milik putrinya. Ia menunggu kepastian pembelajaran tatap muka terlebih dahulu. Khawatir bila seragam yang dibuat ternyata tak bisa dikenakan tahun ini, karena sudah kekecilan.

“Bahannya sudah ada, tapi jahitnya nanti dulu deh daripada tiba-tiba pas dipake nggak muat, kan kasihan anak saya,” tuturnya.

Kekecewaan yang sama diutarakan Nur Khamidah. Pustakawati SMA Negeri 7 Semarang ini menantikan anak perempuannya masuk sekolah Senin lusa. Nur bahkan telah menyaksikan sendiri uji coba PTM di sekolahnya yang berlangsung sukses.

Baca juga:  Ngeyel Buka selama Lebaran, Tempat Hiburan Bakal Disegel

“Kami awalnya udah optimistis bakal PTM, karena melihat segala persiapan matang. Tapi, siapa sangka, kalau tiba-tiba ada ledakan jumlah kasus positif Covid-19 seperti sekarang. Orang mau kluyuran ke luar rumah aja takut,” katanya.

Meski kecewa, ia menerima keputusan dibatalkannya PTM daripada harus mengorbankan anaknya ke luar dengan penuh risiko. Selama ini, untuk memastikan anaknya memahami pelajaran, ia mengundang guru les privat. Karena pembelajaran daring dirasa kurang optimal.

Zahra Cahyaningtiyas, anaknya mengakui lebih paham menerima pelajaran di kelas secara langsung. Selain komunikasi lebih nyata, ia bisa bertanya langsung, dan berinteraksi dengan guru dan teman-temannya. Pembelajaran pun lebih variatif saat PTM.

Kalo di rumah belajar daring paling lama sehari 4 jam, sisanya maen medsos, buka Instagram,” ujar Zahra.

Saat ini, ia belum mengenal teman baru, kecuali temannya dari SD. Kemungkinan besar Zahra dan teman-teman seangkatannya akan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dari rumah masing-masing melalui daring. Lalu berkenalan melalui layar kaca pula.

Sementara itu, sejumlah SMP, SMA dan SMK negeri di Kota Semarang tengah mempersiapkan MPLS secara virtual. Apalagi tahun ajaran baru ini dimulai saat masih Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

“Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) akan digelar secara daring selama tiga hari,” kata Sadar Djunedy, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMK Negeri 7 Semarang kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sadar menuturkan, ada 612 siswa baru yang terbagi dalam 17 rombongan belajar (rombel). Sekolah ini terdapat delapan jurusan.

Baca juga:  Putus Sekolah di Kabupaten Wonosobo Masih Tinggi

Pria asal Tegal ini membeberkan, saat MPLS akan diisi sosialisasi tentang kebijakan-kebijakan sekolah dan jurusan, tata tertib, budaya belajar, serta kurikulum sekolah.

“Ada materi umum, yaitu materi yang diberikan kepada siswa dalam lingkup sekolah. Ada pula lingkup jurusan, yang akan diberikan kepada siswa baru di masing-masing jurusan” jelasnya.

Dikatakan, meski secara daring, siswa baru juga diwajibkan mengenakan seragam seperti pada saat pembelajaran tatap muka. Namun seragam yang digunakan adalah seragam sekolah asal (SMP), karena seragam SMK belum siap.

Sadar berharap agar siswa tetap semangat, dan terus berkreasi, meskipun kondisi masih pandemi. “Tetap jaga protokol kesehatan. Kita memiliki lingkungan yang bermacam-macam. Tetap memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan,” pesannya.

Hal senada diungkapkan Wakil Kepala Sekolah bidang Humas SMA Negeri 1 Semarang Eko Adinuryadin. Ia mengungkapkan, karena masih PPKM darurat, maka otomatis tahun ajaran baru tidak dilaksanakan secara tatap muka.

“Rencana awal PTM dilaksanakan terbatas dengan menghadirkan sepertiga siswa setiap kelas. Tapi, karena masih PPKM darurat, maka PTM ditunda. Sampai ada izin dari dinas,” kata Eko.

MPLS secara daring juga akan dilakukan di SMP negeri di Kota Semarang. Wakil Kepala SMP Negeri 17 Semarang Kurniawan Sutrisnadi mengatakan, sebenarnya sekolahnya sudah mempersiapkan SOP pembelajaran tatap muka. Namun karena masih PPKM darurat, pelaksanaan PTM terpaksa ditunda.  “MPLS bagi peserta didik baru akan dilaksanakan secara daring  pada 12-14 Juli. Segala persiapan sudah kami lakukan,” ujar Kurniawan.

Baca juga:  Muncul Klaster Sekolah, Pembelajaran Tatap Muka Harus Dievaluasi

Diakui, sejumlah wali murid sempat menghubungi pihak sekolah untuk menanyakan kepastian PTM pada hari pertama masuk sekolah. Salah satunya Purwanti, 41.  Sebelumnya, Purwanti mengaku senang ada kabar adanya PTM. Namun ia menjadi kecewa setelah diberitahu jika PTM ditunda.

“Saya kembali pusing kalo tidak jadi PTM Mas. Anak-anak itu susah kalau dibilangin orangtuanya sendiri. Lebih nurut kalau sama bapak-ibu gurunya. Apalagi kami kan kerja, jadi tidak bisa mengawasi mereka,” keluh Purwanti.

Selain itu, kata dia, selama pembelajaran daring, ia juga harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli kuota internet. “Anak-anak juga sering mengeluh koneksi internet lemot. HP juga masih gantian dengan adiknya,” katanya.

Di SMP Negeri 30 Semarang, MPLS digelar melalui daring menggunakan google meet.  Sekolah ini menerima 256 siswa baru. Nantinya pelaksanaan MPLS akan dibagi beberapa akun google meet. “Setiap google meet diikuti maksimal 100 siswa baru. Setiap kelas ada satu pembimbing,” beber guru IPS SMP Negeri 30 Semarang, Basuki Gunarto, Kamis (8/7/2021).

Menurutnya, sekolah sudah mempersiapkan dengan baik pelaksanaan MPLS. Nantinya siswa akan mengikuti dari rumah masing-masing. “Semoga dalam pelaksanaan nanti tidak ada kendala yang berarti,” harapnya.

Kepala SMP Negeri 1 Semarang Nining Sulistyaningsih mengatakan, MPLS di sekolahnya juga digelar secara daring. Pengenalan lingkungan sekolah ini akan dilakukan dengan zoom meeting selama tiga hari. “Hari terakhir MPLS akan ada motivasi dari psikolog untuk persiapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) agar siswa lebih bersemangat mengikuti pembelajaran,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang. (taf/mg1/mg4/cr5/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya