alexametrics

PTM akan Diperluas, Kadinas Pendidikan: Bisa Saja di Setiap Kecamatan Ada Satu Sekolah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangDinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang akan memperluas uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah lainnya, termasuk di sekolah swasta. Hal ini dilakukan jika uji coba PTM di empat sekolah yang dimulai Senin (5/4/2021) kemarin dinilai berhasil. Empat sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Semarang yang menggelar uji coba PTM kemarin adalah SMP Negeri 5 Semarang, SMP Negeri 2 Semarang, SD Negeri Pekunden, dan SD Negeri Lamper Kidul.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Gunawan Saptogiri mengatakan, perlu kerja sama yang kompak dari semua pihak agar pelaksanaan PTM berjalan lancar. Ia yakin sebelum Juli, PTM bisa diberlakukan di semua sekolah di Kota Semarang. “Kalau lancar kita perluas lagi uji cobanya. Bisa saja di setiap kecamatan nanti ada minimal satu sekolah yang uji coba tatap muka, Insya’ Allah sebelum Juli bisa dilakukan penerapan PTM di Semarang, dengan syarat guru dan tenaga pendidikan sudah tervaksin,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setiap sekolah, kata dia, sudah membuat SOP pencegahan penularan Covid-19, mulai dari siswa datang, saat belajar, hingga pulang sekolah. Sementara untuk orang tua siswa yang belum setuju, pembelajaran bisa dilakukan dengan daring. “Bisa saja nanti saat PTM sekalian daring, teknologi kan sudah maju, bisa pakai web cam,” tuturnya.

Persentase orang tua yang belum setuju diselenggarakan PTM, dari data yang ada sekitar 15 sampai 20 persen. Namun ia yakin jika uji coba PTM ini berhasil, angka itu akan turun, karena pihak sekolah benar-benar melakukan langkah antisipasi yang tepat. “Kalau yang belum setuju di angka 15-20 persen, khusus kelas 7 orang tua yang setuju lebih dari 80 persen,” katanya.

Kepala SMP Negeri 5 Semarang Teguh Waluyo menjelaskan, dalam uji coba PTM yang dilakukan kemarin, diikuti oleh siswa kelas 7. Setiap hari ada 96 siswa yang masuk, dibagi dalam enam kelas. “Setiap kelas ada 16 siswa, meja sudah kita atur dan diberi sekat. Siswa dan guru juga wajib menggunakan masker selama KBM,” ujarnya.

Baca juga:  Ambulans Warga Terkendala Biaya Operasional

Untuk kelas 8 dan 9 masih pembejaran secara daring sambil menunggu evaluasi pelaksanaan uji coba. Pantauan koran ini, ketika siswa datang langsung diarahkan untuk pengecekan suhu badan, dan cuci tangan. “Kalau ada yang suhunya lebih 37,3 derajat celsius kita siapkan ruang tunggu. Kita juga sudah buat alur anak keluar masuk,” katanya.

Terpisah, Kepala SMP Negeri 2 Semarang Siminto menyampaikan, uji coba PTM kemarin diikuti 96 siswa kelas 7. “Siswa kelas 7 kan belum saling kenal, belum pernah masuk sekolah.  Baru hari ini (kemarin) bisa bertatap muka,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di SD Negeri Lamper Kidul, uji coba PTM khusus untuk siswa kelas 5 dan 6. “Kita pakainya sistem uji coba PTM terbatas. Sehingga tidak semua anak ikut pembelajaran tatap muka,” ungkap Kepala SDN Lamper Kidul Suhartini, Senin (5/4/2021).

Saat PTM, kelas diisi 12 siswa dari total 28 siswa, dengan tempat duduk berjarak. Meja yang biasanya dipakai untuk dua siswa, kini dipakai satu siswa dengan diberi tanda silang di salah satu sisi meja. Posisi duduk siswa dibuat zig zag. Siswa juga wajib menggunakan masker selama PTM berlangsung. “Hari Senin dan Rabu untuk siswa kelas 5 dan 6 A-B. Hari Selasa dan Kamis untuk siswa kelas 5 dan 6 C-D,” jelasnya.

Selama PTM berlangsung, siswa yang tidak ikut PTM, belajar secara daring melalui Google Meet. Hari pertama kemarin, jelas dia, KBM diisi pengenalan korona, cara menghadapi virus korona, dan bagaimana pembiasaan sehari-hari selama pandemi.

Kepala SD Negeri Pekunden Abdul Khalik mengatakan, saat uji coba PTM, diikuti siswa kelas 5 dan 6. Sif pertama jadwal luring untuk siswa yang duduk di sebelah kanan. Sedangkan siswa yang duduk di sebelah kiri mengikuti pembelajaran daring dari rumah. Begitu sebaliknya. “Bagi siswa yang mendapatkan jadwal daring, mengikuti pembelajaran live bersamaan dengan siswa luring menggunakan media online,” jelasnya.

Wali kelas 5 Betawi, Magi Sri Wardani, menjelaskan, uji coba PTM digelar selama 2 jam. Mapel yang diajarkan hanya secara garis besarnya saja, sisanya diberi pekerjaan rumah. “Tadi ada jeda istirahat, tapi siswa di dalam kelas menikmati bekal yang dibawa,” tuturnya.

Baca juga:  Hadapi Arema di Laga Penentuan, PSIS: Kami Datang untuk Menang

Salah satu siswi kelas 5 Azzahratun Nisa, 11, mengaku senang mengikuti PTM hari pertama. Ia tiba di sekolah diantar orang tuanya. “Perasaan saya senang meskipun sedikit canggung. Tapi ada sedihnya, karena tidak bisa dibantu sama orang tua,” katanya sambil tersenyum.

Endang, 43, salah satu wali murid SD Negeri Pekunden mengaku sebelumnya sempat khawatir adanya PTM di sekolah. Tapi, setelah uji coba, dirinya sudah tidak khawatir lagi. “Karena kalau lewat daring, orang tua juga yang repot,” ucapnya.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang Budiyanto mengapresiasi penerapan protokol kesehatan (prokes) saat uji coba PTM. “Di SMP Negeri 5 Semarang juga ada tanda yang digambar untuk alur siswa masuk dan keluar sesuai dengan prokes,” katanya.

Sementara itu, pelaksanaan hari pertama uji coba PTM di SMA Negeri 4 Semarang, pihak sekolah menerapkan prokes yang ketat. Bahkan, pihak sekolah memberlakukan pintu tiga lapis. Diawali dari akses pintu masuk siswa ke sekolah. Siswa yang diantar maupun yang menggunakan kendaraan pribadi dipisah. Siswa yang menggunakan kendaraan pribadi melalui akses pintu sebelah Polsek Banyumanik. Setelah masuk ke parkiran kendaraan, mereka harus ke lobi atau pintu lapis kedua. Sedangkan siswa yang diantar harus berhenti di depan pintu gerbang utama sebagai lapis luar. Kemudian siswa berjalan kaki menuju lobi sekolah yang juga pintu lapis kedua.

Baca juga:  Pembagian Rapor Siswa Dibagi Dua Sif 

Di situ mereka sudah ditunggu oleh tim Jogo Sekolah. Lalu, siswa dicek apakah sudah menggunakan faceshield dan masker atau belum. Apabila hanya menggunakan masker, maka belum diperbolehkan masuk.  Saat siswa berjalan dari pintu lapis pertama menuju lobi sekolah lapis kedua juga harus berjaga jarak. Minimal satu meter dengan temannya. Setelah lolos screening, mereka menuju kelas, dan di sana sudah ada pintu lapis ketiga.  Di mana guru sudah berdiri di pintu kemudian memandu siswa untuk mencuci tangan, lalu pengecekan suhu. Ketika sudah sesuai, maka siswa diperbolehkan masuk kelas. Memasuki kelas jarak bangku antar siswa juga sudah diatur minimal satu meter.

Kepala SMAN 4 Semarang Wiji Eny Ngudirahayu mengatakan, pintu lapis tiga dilakukan sebagai bentuk prokes sekolah. “Supaya benar-benar tidak ada penularan Covid – 19 saat uji coba pembelajaran PTM hari pertama ini,” kata Wiji, Senin (5/4/2021).

Pembelajaran di dalam kelas juga dilakukan semidaring selama dua jam dikarenakan hanya diikuti 50 persen siswa dari kapasitas sebenarnya. Dimulai dari pukul 08.00 sampai 10.00, dan tidak ada sistem sif (bergantian masuk).  Sistem semidaring itu digunakan bagi siswa yang belajar dari rumah. Sebanyak 50 persen sisa siswa yang belajar dari rumah merupakan mereka yang belum diizinkan oleh orangtuanya melakukan PTM.

“Karena sebelum kita PTM meminta persetujuan dari orangtua terlebih dahulu. Kalau tidak diperbolehkan ya kita minta siswa mengikuti kelas dari rumah dengan sistem daring,” ujarnya.

Hari pertama uji coba PTM kemarin, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sempat datang ke SMA Negeri 4 Semarang. Di sekolah ini, PTM hari pertama diikuti sebanyak 160 siswa . Terbagi ke dalam kelas IPA dan IPS. Setelah selesai pembelajaran, siswa diminta langsung pulang, dan tidak boleh berkerumun. (mg6/mg7/mg5/mg8/cr1/den/ewb/aro)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya