28 C
Semarang
Jumat, 24 Maret 2023

Belajar Tatap Muka Tak Harus Menunggu Juli 2021

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangPembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Semarang rencananya akan dimulai Juli mendatang sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo belum lama ini. Sebanyak 85 persen orang tua siswa pun sudah setuju digelar PTM. Sisanya 15 persen orang tua siswa masih menginginkan pembelajaran daring dengan alasan pandemi belum usai.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang Gunawan Saptogiri mengatakan, hampir semua sekolah tingkat TK, SD, dan SMP siap untuk melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Pihak sekolah sudah memenuhi kriteria, seperti penerapan protokol kesehatan, penyediaan tempat cuci tangan, handsanitizer, dan lainnya.

“Dari pendataan, sebanyak 65 ribu orang tua setuju PTM, sedangkan 15 ribu orangtua lainnya belum setuju,” katanya saat ditemui usai audiensi dengan Komisi D DPRD Kota Semarang, Senin (15/3/2021).

Ia menjelaskan, PTM bisa dilakukan lebih awal jika Kota Semarang sudah memasuki zona hijau. Sementara jika ada orang tua siswa yang belum setuju diselenggarakan PTM, pihaknya menegaskan jika dalam kondisi apapun guru harus bisa memberikan pelayanan kepada peserta didik.

Ya, kalau yang belum mau atau belum setuju anaknya PTM, guru wajib memfasilitasi pelajaran via daring,” tegasnya.

Secara teknis, kata dia, nantinya pelaksanaan PTM akan diserahkan kepada masing-masing sekolah tergantung dengan jumlah kelas dan jumlah siswa yang dimiliki. Disdik pun menargetkan, sebelum Juli semua guru dan tenaga pendidikan (tendik) negeri maupun swasta sudah mendapatkan vaksin.

Baca juga:  Cinema Drive In Mengobati Kerinduan Menonton Film

“Bisa diatur ganjil genap, atau sif pagi siang. Nanti yang ngatur kepala sekolah, sebelum Juli kita targetkan semua guru dan tendik bisa divaksin, sehingga memberikan rasa aman kepada orang tua siswa,” bebernya.

Dijelaskan, dalam perbelajaran tatap muka nanti, Gunawan menjelaskan bahwa akan dilakukan pembatasan kuota siswa pada setiap kelas, jam pembelajaran dibatasi maksimal 3 jam pelajaran, tidak ada jam istirahat, serta kantin ditutup untuk menghindari kerumunan. “Mudah-mudahan nanti bisa berjalan dengan baik,” harapnya.

Menurutnya, pemerintah sudah bekerja luar biasa dalam mengatasi Covid-19, termasuk melakukan vaksinasi. Memang untuk siwa TK, SD dan SMP tidak mendapat jatah vaksin, karena masih di bawah 18 tahun. Akan tetapi, paling tidak semua guru, pegawai, kepala sekolah sudah divaksin semua sehingga aman.

“Meskipun sudah divaksin kita harus tetap menerapkan prokes secara ketat. Kita yakinkan kepada orang tua siswa. Orang tua bisa lihat dan mengamati dulu, kalau masih waswas, siswa tetap bisa mendapat pelajaran secara daring,” terangnya.

Baca juga:  Peninggalan Zaman Syailendra, Situs Pemandian Balekambang Batang Diyakini Bisa Bikin Awet Muda

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo mengatakan, wakil rakyat meminta agar Disdik bisa memberikan data sekolah tingkat TK, SD dan SMP yang siap melakukan PTM. “Kami juga minta berapa jumlah orang tua yang setuju, nah mayoritas sudah setuju,” tambahnya.

Sedangkan untuk kesiapan sekolah, kata Anang, untuk TK sudah mencapai 90 persen, SD 97 persen, dan SMP 50 persen lebih. Angka ini, menurutnya, akan terus berubah karena dinas melakukan pendataan setiap hari.

“Disdik terus melakukan pendataan, selain itu kita juga minta data guru dan tendik yang sudah divaksin. Jadi, orang tua juga nyaman, ke depan kita akan sampling kesiapan sekolah,” tuturnya.

Sesuai intruksi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang mengacu pada penyataan Presiden Joko Widodo, Juli mendatang diwacanakan PTM bisa terlaksana. Digenjotnya vaksinasi, harapannya bisa membuat angka posositif turun, namun jika memang angka Covid-19 justru naik, bisa jadi PTM akan kembali ditunda. “Titik akhirnya adalah zona hijau dulu, juga penerapan protokol kesehatan,” katanya.

Terpisah, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah Dr Muhdi mendesak pemerintah daerah di Jawa Tengah untuk segera membuka sekolah. Menurutnya, pembelajaran tatap muka harus segera diterapkan mengingat adanya ancaman yang lebih besar di kalangan peserta didik, yaitu loss learning atau kehilangan kesempatan belajar.

Baca juga:  Suhu Jamaah 37, Tempat Salat Dipisah

Menurutnya, pelaksanaan PTM tidak harus menunggu Juli 2021, sebagaimana arahan dari Presiden Joko Widodo. Justru, katanya, PTM harus dilakukan saat ini, sehingga pada Juli mendatang atau tahun ajaran baru, seluruh komponen mulai guru, siswa, dan lainnya, sudah terbiasa.”Jika baru dimulai Juli, itu nanti masih percobaan dulu beberapa sekolah. Artinya, tidak semua sekolah. Ini harus ada keberanian dari kepala daerah,” jelasnya.

Ia melihat, persoalan pendidikan saat ini justru dikesampingkan. Hal itu karena seluruh sektor selain pendidikan, tidak ada larangan apapun. Bahkan mal, tempat wisata, bioskop, pesantren, juga diizinkan untuk beroperasi. “Tapi ini kenapa sekolah justru dilarang? Padahal belum ada kasus temuan di sekolah. Kalau kasus (covid) yang ada di SMK Jateng, itu karena sistemnya boarding. Tapi kalau sekolah yang tidak boarding, tidak ada kasus,” ungkapnya.

Karenan itu, pihaknya, mendesak agar sekolah dan perguruan tinggi segera diizinkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Jika masih ada kekhawatiran, menurutnya, bisa diatur dengan mengurangi kapasitas ruangan atau mekanisme lainnya. . (den/cr2/jks/aro)

 


Baca artikel dan berita terbaru di Google News


Artikel Terkait

Sementara Itu ..

Terbaru

Populer

Menarik

Lainnya