alexametrics

Pembelajaran Tatap Muka Tidak Harus Serentak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Meski sudah ada edaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait pembelajaran tatap muka, Jateng memastikan tidak akan melakukan hal itu serentak.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menyambangi SMKN Jateng mengatakan jika proses pembelajaran tatap muka jenjang SMA/SMK tetap dilakukan melalui seleksi. Artinya setiap SMA/SMK yang hendak menggelar pendidikan tatap muka, harus melalui mekanisme perizinan terlebih dahulu ke Pemprov Jateng.

“Kami evaluasi untuk persiapannya. Nanti di bulan Januari, kita bisa mengerti. Kalau tadi lihat secara SOP, sudah bagus. Fasilitas sudah bagus. Nah sekarang kita harus mendisiplinkan,” kata Ganjar, Selasa (1/12/2020).

Adanya mekanisme seleksi pelaksanaan pembelajaran tatap muka tersebut, terkait kesiapan protokol kesehatan (prokes) sekolah-sekolah saat ini. Keputusan tersebut diambil karena adanya sekolah di Kabupaten Jepara menjadi klaster Covid-19.

Sikap tegas tersebut, lanjutnya, memang sangat perlu. Tentu untuk menekan angka persebaran Covid–19 di Jateng. “Nanti di bulan Januari, saya punya gambaran. Rasa-rasanya belum semua akan bisa mak regudug (tiba-tiba) masuk bareng, itu saya rasa-rasa belum bisa,” katanya.

Baca juga:  Permintaan Tinggi, Ganjar Pastikan Distribusi Oksigen Lancar

Pada kesempatan tersebut, Ganjar juga meminta sekolah swasta yang menjadi klaster Covid-19 di Kabupaten Jepara untuk segera ditutup. Penutupan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Mengingat apa yang mereka lakukan merupakan bentuk pelanggaran. Yakni, melaksanakan pembelajaran tatap muka tanpa seizin Pemprov Jateng. “Tutup, wes ora usah kesuwen pokoke (tutup, tidak usah lama-lama),” katanya.

Dengan adanya kasus penyebaran di sekolah tersebut, pihaknya akan melakukan evaluasi. Khususnya sekolah-sekolah yang sudah diizinkan buka dan melaksanakan pembelajaran tatap muka. Seperti diketahui, saat ini ada 5 sekolah asrama di Jateng masih melakukan uji coba pembelajaran tatap muka.

Antara lain, SMKN Jateng Semarang, Pati dan Purbalingga, kemudian SMK Pradita Dirgantara Boyolali dan SMK Taruna Nusantara. Jika nanti ditemukan hal serupa, akan diambil tindakan tegas dengan menutup sekolah agar tidak melakukan pembelajaran tatap muka. “Kami juga akan mengevaluasi, kalau ada, tutup saja. Tidak usah ragu,” tegasnya.

Baca juga:  Kamu Lolos SBNPTN? Cek Nama di Sini

Ganjar menegaskan rencana pembelajaran tatap muka yang akan dilaksanakan Januari 2021 tetap menggunakan aturan dan mekanisme yang ada untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. “Januari nanti bukan berarti merdeka. Kita harus selektif,” terangnya.

Temanggung Zona Merah, Hentikan Simulasi Tatap Muka

Masuk kategori zona merah peta penularan Covid-19, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung akan menghentikan simulasi pembelajaran tatap muka dan melakukan pengketatan protokol kesehatan (prokes). Hingga Selasa (1/12/2020), tercatat ada 515 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan indeks zona resiko tinggi di bawah 1,8.

“Dengan kondisi memasuki zona merah, satgas telah meminta dinas untuk mengkaji simulasi pendidikan tatap muka dan menghentikan sementara kegiatan itu,” kata Kepala Divisi Komunikasi dan Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Temanggung Gotri Widianto.

Baca juga:  Sekolah Virtual, 30 Persen Tatap Muka

Hingga kemarin tercatat ada 1.626 kasus. Bersyukur, 1.039 kasus dinyatakan sembuh. Namun 72 orang dinyatakan meninggal. Sedangkan yang masih dinyatakan positif ada 515 orang, 443 orang di antaranya karantina mandiri, sedangkan 72 orang dirawat di rumah sakit.

Melihat kondisi tersebut, Gotri mengimbau masyarakat untuk meningkatkan disiplin prokes serta mengontrol acara-acara kemasyarakatan dan keagamaan yang menghadirkan banyak orang. “Satgas kecamatan dan desa serta satgas Jogo Tonggo lebih mendisiplinkan kegiatan masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi menggunakan pengeras suara yang masuk ke desa-desa. “Kami harus ketahui, penyakit ini sampai saat ini memang masih belum ada obatnya. Maka dari itu, masyarakat harus mengontrol diri dan mendisiplinkan diri dengan mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak,” pesannya. (ewb/tbh/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya