SMPN 21 Semarang jadi ASIK Tanpa Plastik

1137

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – SMP Negeri 21 Semarang mendeklarasikan diri menjadi sekolah ASIK (Asri, Sehat, Indah dan Kompak) tanpa plastik. Hal tersebut sebagai cara menyukseskan langkah Pemerintah Kora Semarang menggiatkan gerakan wegah nyampah.

Kepala SMPN 21 Semarang Suwarno Agung Nugroho menuturkan, perlu adanya edukasi sejak dini kepada anak untuk mencintai lingkungan sekitar. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan sampah plastik. Sebab plastik merupakan zat yang berbahaya yang dapat menganggu ekosistem lingkungan.

“Hari ini kami dari 865 siswa, 46 guru dan 15 tenaga administrasi mendeklarasikan diri Sekolah ASIK Tanpa Sampah Plastik,” ujarnya Rabu (8/1).

Melalui deklarasi tersebut, siswa diajak untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjalankan program 3R (Recduce, Reuse, dan Recycle). Dirinya juga mulai penerapkan alternatif penggunaan plastik dengan menggunakan tempat makan dan tempat minum isi ulang (tumbler). Sehingga meminimalisasi limbah plastik.

“Ini juga sebagai persiapan kami maju ke lomba sekolah Adiwiyata tingkat provinsi. Harapannya saat penilaian siswa sudah terbiasa menjaga lingkungan degan tidak membuang sampah sembarangan,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, pihaknya juga mengadakan fashion show dengan busana yang berasal dari daur ulang sampah. Selain itu ada pula lomba vlog bertema lingkungan dan lomba mewarnai dengan tema air.

Sementara itu Sekretaris Dinas Pendidikan Koata Semarang Hari Waluyo mengapresiasi komitemen siswa mengurangi sampah plastik. Baginya itu merupakan wujud partisipasi para pelajar terhadap kemajuan Kota Semarang yang tengah giat mengkampanyekan semangat wegah nyampah.

“Memang 3R bisa untuk mengurangi limbah plastik tapi tetap saja eksositemnya terganggu. Maka dari itu lebih baik mengurangi penggunaan terlebih dahulu sebelum menjadi limbah,” ujarnya.

Dirinya berharap langkah ini dapat diterapkan di seluruh sekolah di Kota Semarang. Sehingga tidak ada lagi sampah plastik yang dihasilkan dari lingkungan pendidikan di Semarang. (akm/zal)