Beranda Berita Metro Pekalongan Persip Terancam Dibubarkan

Persip Terancam Dibubarkan

0
Persip Terancam Dibubarkan
SEPI : Pemain bintang Persip Pekalongan berjalan santai di tengah stadion yang sepi. Padahal pada Minggu (26/4) seharusnya ada pertandingan resmi Divisi Utama. (HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEPI : Pemain bintang Persip Pekalongan berjalan santai di tengah stadion yang sepi. Padahal pada Minggu (26/4) seharusnya ada pertandingan resmi Divisi Utama. (HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEPI : Pemain bintang Persip Pekalongan berjalan santai di tengah stadion yang sepi. Padahal pada Minggu (26/4) seharusnya ada pertandingan resmi Divisi Utama. (HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN – Kisruh antara Kementerian Pemuda dan Olahraga – PSSI dengan membekukan induk organisasi sepakbola membuat pertandingan Kompetisi Divisi Utama tahun 2015 turut ditunda. Salah satu klub yang bermain pada Minggu (26/4) yang turut mendapatkan imbas adalah Persip Pekalongan. Atas penundaan tersebut, klub berjuluk Laskar Pekalongan mengalami kerugian sekitar Rp 700 juta. Bahkan tim terancam dibubarkan jika tidak ada kejelasan.

Pertandingan antara Persip Pekalongan menjamu Persibangga Purbalingga di Stadion Kota Batik gagal karena izin keamanan dari Polres setempat tidak turun, sesuai instruksi Polda Jateng. Sehingga suporter yang terlanjur datang dan pedagang yang biasa berjualan juga mengalami kekecewaan amat dalam.

CEO Persip Pekalongan, Budi Setiawan mengungkapkan klubnya sebagai peserta Divisi Utama sangat dirugikan karena penundaan ini. Kerugian yang dialami manajemennya sebagian besar memang pada biaya untuk persiapan. “Kita sudah habis-habisan membiayai tim saat persiapan. Manajemen yang sudah menghabiskan dana sekitar Rp700 juta persiapan selama empat bulan, terbuang percuma setelah pertandingan perdana ditunda,” jelasnya.

“Sebenarnya kalau ada pertandingan kami akan ada pemasukan dari tiket. Tapi karena tidak ada pertandingan, tentu tidak ada pemasukan. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas pengeluaran yang mencapai ratusan juta itu. Hal terburuknya jika tidak ada kejelaskan tim ini (Persip) bisa dibubarkan,” keluhnya.

Wawan yang juga anggota DPRD ini semakin gusar tatkala belum adanya kejelasan sampai kapan pertandingan Divisi Utama resmi ditunda. Pihaknya dan klub dari daerah lain hanya bisa menunggu tanpa adanya kepastian kapan kompetisi akan kembali bergulir.

Dia berharap, ada kepastian dalam waktu dekat apakah kompetisi jadi digelar, ditunda, diberhentikan atau bahkan dibubarkan. “Tentu kami ingin ada kepastian secepatnya sebenarnya ini mau diapakan. Kalau mau bubar sekalian gak apa-apa, kalau jalan kompetisi tanggal berapa, sehingga kita yang di bawah bisa atur,” ujarnya.

Ketua KONI Kota Pekalongan Ricsa Mangkula juga menyesalkan pembatalan pertandingan tersebut. Menurutnya dengan pembatalan pertandingan membuat manajemen Persip kini kelimpungan. “Selama ini manajemen sudah melakukan persiapan secara matang. Sudah dilakukan selama 4 bulan, jika selama ini sudah mengeluarkan biaya Rp 150 juta tiap bulan, maka manajemen sudah menangung beban 600 jutaan hanya untuk tim. Belum jika kita menggelar pertandingan persahabatan, dan kebutuhan tim lainnya,” ucapnya.

“Harapannya, dengan adanya pertandingan ini, bisa dapat pemasukan. Agar pengelolaan klub bisa berjalan lancar. Jika tidak ada petandingan tentu pengurus akan kesulitan pembiayaan,” ucapnya sedih.

“Kami juga minta PSSI yang baru bertanggungjawab, karena mereka juga bertangungjawab atas kejadian ini. Kami sebagai pencinta olahraga sangat dirugikan dengan kejadian seperti ini. Nasib pemain dan pengelola semakin tidak jelas, kasihan mereka,” tandasnya. (han/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.