Sosialisasikan Bahan Pangan Alternatif

489

KAJEN – Pola konsumsi pangan masyarakat harus berkembang agar tidak hanya bergantung pada beras dan terigu sebagai sumber karbohidrat. Hal itu dilakukan untuk mendorong masyarakat untuk maju dalam segala aspek kehidupannya termasuk penggalian potensi sumber daya alam Kabupaten Pekalongan.

Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan Mukaromah Syakoer mengatakan, untuk mendongkrak daya kembang masyarakat diperlukan upaya yang mampu menjadi stimulan. “Mengajak masyarakat itu diperlukan stimulan, seperti pemberian pengetahuan, motivasi serta pelatihan untuk meningkatkan kreativitas mereka,” ungkapnya.

Dikatakannya, salah satu bentuk upaya tersebut adalah lomba cipta menu pangan lokal. Menurut Mukaromah, banyak sumber daya di Kabupaten Pekalongan yang dapat digunakan sebagai pangan alternatif sebagai sumber karbohidrat. Seperti jagung, singkong, ubi jalar, sagu, ganyong, sukun dan pisang. “Sebenarnya banyak sumber daya di sekitar kita. Yang pasti tetap memperhatikan prinsip B2SA,” jelasnya.

Terkait perlombaan pangan lokal itu, lanjutnya, yang menjadi syarat utama menggunakan bahan baku sumber karbohidrat selain beras dan terigu. “Cipta menu pangan tersebut juga sebagai upaya mendorong percepatan diversifikasi konsumsi pangan berkelanjutan apalagi didukung pasar domestik yang semakin berkembang,” ujarnya.

Oleh karena itu, seluruh instansi di Kabupaten Pekalongan dan kelompok masyarakat diimbau untuk memanfaatkan produk pangan lokal termasuk buah dan sayuran dalam setiap jamuan acara rapat. Baik pertemuan maupun pelatihan yang diselenggarakan oleh SKPD pun masyarakat pada umumnya.

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, Trinanto menambahkan, lomba cipta menu tersebut telah dilaksanakan pada Kamis (26/3), diikuti oleh TP PKK dari 19 kecamatan.

Dalam perhelatan dengan dewan juri dari Universitas Semarang, Asosiasi Chef Indonesia, Dinkes dan BKPP tersebut, juara pertama adalah Nasi Kimpow dari Kecamatan Lebakbarang. “Mendorong kreativitas masyarakat mengembangkan menu bergizi, seimbang, beragam dan aman berbasis pada bahan pangan lokal. Kemudian juga membangun budaya keluarga untuk mengkonsumsi aneka menu makanan B2SA sehari-hari, dengan memanfaatkan potensi pangan yang ada di pekarangan,” jelasnya. (hil/ric)