BAF Pamerkan Lukisan Ratusan Juta Rupiah

134
MAHAL– Pelukis Tri Bakdo dengan lukisannnya saat pameran lukisan BAF di aula Pendopo Pemkab Batang Minggu (1/12). (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)
MAHAL– Pelukis Tri Bakdo dengan lukisannnya saat pameran lukisan BAF di aula Pendopo Pemkab Batang Minggu (1/12). (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, BATANG – Batang Arts Festival (BAF) kembali digelar. Sebanyak 50 lukisan karya seniman lukis dari Jogjakarta, Magelang, Semarang, Kendal, Pati, Pekalongan dan Batang ambil bagian. Paling fenomenal, lukisan seharga Rp 200 juta karya Tri Bakdo.

Kegiatan BAF selama tiga hari, dimulai 30 November dan berakir hari ini (2/12). Festival tersebut diramaikan dengan berbagai pertunjukan seperti seni tari kuda lumping, musik etnik teater. “Untuk harga lukisan yang paling mahal sampai Rp 200 juta milik saya  dan paling murah Rp 25 juta,” kata Tri Bakdo yang juga ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Batang Minggu (1/12).

Lukisan Tri Bakdo tentang kritik sosial kepada pemerintah yang kurang berhatian terhadap kebudayaan dan seni. “Lukisan saya menggambarkan kebudayaan kita yang seharusnya jadi milik negara, tapi kadang dijualbelikan seperti tarian reog, wayang dan keris. Dijual oleh oknum, inilah lukisan kritik sosial,” jelasnya sedih.

Bupti Batang Wihaji mengatakan, karya seni itu harganya mahal. “Budayawan rata – rata realistis dalam menggambarkan karya seninya. Mereka mengkritik suasana dengan ekspresi seni dalam bentuk lukisan dan tarian,” ucap Bupati Wihaji.

Dia mengaku sangat senang dan pengagum karya seni walaupun ada gambaran kritik sosial tapi dengan pendekatan budaya kritik pedas tidak sampau melukai dan justru menjadi intropeksi bagi yang dikritik. “Seni dan budaya di Batang sudah mulai tampak ada kemajuan sesuai dengan brand  Batang heaven of Asia banyak tumbuh seni dan budaya di Batang bahkan menjurai di tingkat nasional,” kata Wihaji

Bupati berharap BAF bisa dinikmati oleh masyarakat yang dapat menggundang banyak pungunjung wisatawan.”Gencarkan promosinya karena BAF kita masukan dalam kalender wisata. Menampilkan pameran lukisan, musik dari berbagai akulturasi budaya. Musik tradisional, tarian tradisional dan tarian modern,” pinta Wihaji. (han/lis)