alexametrics

Sering Disepelekan, Sampah Elektronik Ternyata Simpan Racun Berbahaya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sampah eletronik tergolong dalam limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Di dalamnya terdapat Arsenic, PCBs dan Kadmium. Komponen berbahaya tersebut memerlukan penanganan khusus. Proses pengolahannya pun berbeda dengan sampah lainnya.

Oleh karena itu perlu dorongan dan edukasi secara besar kepada masyarakat. Dengan begitu mereka dapat memulai kebiasaan memisahkan sampah elektronik. Untuk kemudian disetorkan ke pihak yang dapat mengelola.

“Sekarang perlu menanamkan ini ke masyarakat. Sampahmu tanggung jawabmu, sampahku tanggung jawabku,” ujar Ari Sugasri, kepala sub Direktorat Sampah Spesifik dan Daur Ulang Dinas Lingkungan Hidup Jateng (DLHK) Jateng kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Warsito Ellwein, staf khusus Gubernur Jateng menyampaikan paling banyak terdapat 1.000 bahan kimia dalam satu perangkat elektronik. Logam berat dapat memicu keracunan pada tubuh manusia dan hewan.

Paling buruk dapat menyebabkan kanker karena kandungan karsinogenik. “Makanya kita ajak DLH di kabupaten dan kota, sekolah-sekolah dan komunitas untuk bergerak bersama,” ujarnya.

Sonia Buftheim, manajer Komunitas EwasteRJ mengungkapkan terdapat 2 juta ton sampah elektronik di Indonesia pada tahun 2019. Dalam setahun setiap orang dapat menghasilkan 7,3 kilogram sampah elektronik.

“Apalagi data mencatat orang Asia punya kebiasaan ganti handphone setiap 18 bulan. Indonesia peringkat ke-3,” paparnya.

Sedangkan di Indonesia dari 2 juta ton sampah elektronik, baru 10 persen yang diolah sesuai prosedur yang semestinya. Sisanya ditimbun, disimpan, dijual kembali atau dibakar. Padahal pengelolaan yang tidak tepat dapat menimbulkan bahaya yang berlipat ganda.

Pihaknya berharap dengan memfasilitasi dropbox di berbagai kota, masyarakat dapat mengirimkan sampah eletroniknya ke sana. Dengan begitu sampah tersebut diolah secara tepat dan aman.

DLHK pun sudah mencoba membagikan drop box atau kotak khusus sampah elektronik di 30 kabupaten dan kota. Dengan maksud edukasi pada masyarakat.

Salatiga dinilai sebagai kota yang cukup aktif dalam pengumpulan sampah elektronik. Ari berharap kesadaran dan gerakan ini akan terus menyebar lebih luas. (taf/ida)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya