alexametrics

Semula Anggap Masuk Angin, Ternyata Serangan Jantung

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Penyakit jantung tak lagi mengenal usia. Penyakit mematikan ini, sudah banyak menyerang kalangan di bawah usia 30 tahun. Pola hidup tidak sehat hingga kecenderungan stres merupakan pemicu lahirnya penyakit.

TIDAK pernah terpikir sebelumnya, jika Hendri Titi, akan terdeteksi penyakit yang ditakuti banyak orang di usia 31 tahun. Di usianya yang terbilang muda, sudah sering mengalami kelelahan. Hampir setiap hari, padahal tidak sedang melakukan apa-apa. Dirinya juga selalu beranggapan bahwa itu bentuk penolakan tubuhnya karena bekerja terlalu giat.

“Semua berjalan dengan baik. Bahkan saya terbilang bukan perokok aktif. Makanya, saya meyakini bahwa saya ngedrop, penyebabnya tubuh saya yang terlalu dipaksa untuk bekerja. Iya, anak muda kan kalau kerja lupa diri,” ceritanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ketika dibawa ke dokter, diagnosanya tak sesuai anggapan. Dokter mengatakan kinerja jantung Hendri, pegawai salah satu perusahaan swasta ternama di Indonesia ini melemah. Sehingga perlu perawatan khusus.

Baca juga:  Hindari Makanan dan Minuman ini Saat Mengalami Batuk

Bersyukur, keberuntungan masih berpihak pada dirinya. Setelah diusut, keluarganya sang ibu memang memiliki lemah jantung. “Mungkin dari awal memang sudah bakat, terus dipicu dengan faktor dari luar sehingga lebih menjadi-jadi rasa sakitnya,” lanjutnya.

Namun setelah menjalani perawatan, kini dirinya berusaha untuk selalu menjaga pola makan sehat, bahkan olahraga menjadi hobinya. Namun kebiasaan baik itu belum menjauhkannya dari serangan jantung.

Berbeda dengan salah satu jurnalis sebuah televisi pemerintah ini, Hedi Rachmadi. Dirinya tak menyangka jika mengalami serangan jantung. Bahkan, terpaksa melakukan tindakan pemasangan ring untuk jantung koroner yang disebabkan pembuluh darah yang menyempit. Hedi sapaan akrabnya mengaku di tahun 2015 lalu mendadak mual, badan terasa nyeri hingga tulang belakang, serta pusing. Kala itu, usianya baru 44 tahun. “Itu di tahun 2015 akhir. Waktu mau nyuci mobil, badan rasanya gak karuan. Keringat dingin keluar. Saya pikir kecapekan saja. Saya bertahan 1 jam untuk aktivitas, tapi tidak membaik. Akhirnya saya ke rumah sakit, dokter bilang sudah harus tindakan pasang ring,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang Sabtu (28/9) usai bekerja.

Baca juga:  Wali Kota Hendi Datangi Rumah Kohir yang Baru Saja Dapat Vaksin Pertama

Rutinitasnya yang tidak kenal waktu, pola hidupnya yang bersahabat dengan makanan berkolesterol tinggi hingga seringnya menghisap asap rokok telah menguatkan dirinya terdiagnosa jatung koroner. Saat ini sudah terpasang 8 ring. Pemasangan pun dilakukan berkala.

Dia pun mewanti-wanti kepada semua orang yang merasa hanya sekadar seperti masuk angin, untuk waspada. Sebab, sebelum dirinya terkena serangan jantung, ia sering sekali merasakan kelelahan yang luar biasa. Seperti masuk angin pada umumnya.

“Tidak semua demam, mual, hingga nyeri pada tubuh itu, hanyalah masuk angin biasa. Tenyata inilah serangan jantung yang saya rasakan. Saya ketika itu hanya memiliki waktu emas sekitar 30 menit. Jika tidak dimanfaatkan, kemungkinan saya tidak sedang berbicara saat ini,” lanjutnya.

Baca juga:  47 Orang terpapar Omicron, Sebagian Besar Setelah Perjalanan dari Turki

Usia paruh baya tak lagi menjadi sasaran utama dari penyakit jantung. Mereka yang berusia muda pun tak luput dari ancaman kematian yang disebabkannya. Pada dasarnya, secara alami tubuh akan memberikan sinyal ketika mendapati adanya masalah di sejumlah organ tubuh, termasuk jantung. Namun kembali lagi pada individunya untuk meyikapi.

“Memang harus dari kitanya yang mulai pola hidup sehat. Tidak hanya pola makan saja, tetapi memang harus olahraga minimal treadmill. Saya pun masih menjalankan treadmill untuk mengetahui jantung saya sudah membaik atau belum,” pungkasnya. (ria/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya