alexametrics

Pola Hidup Tak Sehat, Picu Jantung Koroner

Hasil Utama Riskesdas 2018

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMENTARA itu, dr Aruman Yudanto A B M SpJP FIHA, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUP Dr Kariadi Semarang mengatakan bahwa hingga kini penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi. Data WHO setiap tahun ada 17,9 juta kematian dan jika tidak ditangani dengan baik, diprediksikan akan ada 23 juta kematian akibat penyakit ini di tahun 2030.

Dikatakan, saat ini, penderita penyakit jantung dapat mengenai usia muda, meski jumlahnya tidak sebanyak penderita usia lanjut. Salah satu penyebabnya adalah pola hidup tidak sehat. Seperti merokok, makan makanan berkolesterol dan kurangnya olahraga. Selain, bisa pula karena faktor obesitas. Penyebab lainnya di antaranya oleh karena darah tinggi dan diabetes melitus.

Dijelaskan, penyakit jantung koroner memiliki gejala yang khas berupa nyeri dada sebelah kiri. Terasa berat seperti ditindih, ditekan dan tidak bisa ditunjuk dengan satu jari. Biasanya akan menjalar ke lengan kiri, rahang atau ke ulu hati. Diikuti gejala penyerta yaitu mual, pusing dan keringat dingin.

Baca juga:  47 Orang terpapar Omicron, Sebagian Besar Setelah Perjalanan dari Turki

”Kalau muncul gejala seperti itu, paling mudah segera lakukan pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG) yang sudah banyak tersedia di banyak fasilitas kesehatan. Atau, bisa langsung dibawa ke IGD untuk langsung dilakukan tindakan,” ujarnya.

Sebab, ia tambahkan, tindakan untuk penyakit jantung memang harus berpacu dengan waktu. Ada istilah ”Time is Muscle” atau Waktu adalah Otot. Semakin cepat melakukan tindakan, maka semakin cepat untuk menyelamatkan otot jantung. ”Jadi memang kita harus sesegera mungkin melakukan tindakan,” ujarnya.

Untuk pencegahan, ia katakan, dapat dilakukan melalui hal kecil untuk perubahan yang sangat besar pada kesehatan jantung. Dengan berjanji mulai dari diri sendiri dan kepada keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat. dr Aruman menyarankan untuk mulai membiasakan diri memakan makanan sehat, olahraga cukup, minimal 30 menit dalam sehari dan berhenti merokok.

Baca juga:  Puskesmas Kedungmundu Beri Kemudahan Pedagang Dapatkan Vaksin

Tidak hanya perokok aktif, para perokok pasif juga memiliki risiko sama terkena penyakit jantung koroner. Dalam hal ini, ia mengatakan bahwa pemerintah telah berusaha menurunkan risiko merokok dengan mengatur tempat-tempat khusus untuk merokok. Larangan merokok di tempat ibadah, sekolah, fasilitas umum dan beberapa tempat lainnya.

”Ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi penyakit kardiovaskuler. Termasuk membubuhkan pesan pada kemasan rokok untuk mengurangi jumlah perokok,” ujarnya dengan menambahkan bahwa pencegahan memang harus dilakukan bersama-sama oleh semua pihak.

Tidak hanya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan komitmen pemerintah untuk menciptakan kehidupan yang sehat, upaya pencegahan munculnya penyakit jantung koroner dilakukan oleh tenaga kesehatan. Salah satunya melalui cek kesehatan gratis dalam peringatan hari jantung sedunia. Dan beberapa upaya lainnya. ”Tenaga kesehatan profesional membantu pasien berhenti merokok dan mengontrol tekanan darah, gula darah, kolesterol. Kami dari PERKI Semarang akan melakukan peringatan hari jantung sedunia ini akhir bulan depan,” ujarnya.

Baca juga:  Tak Sekadar Faskes, Bisa untuk Kegiatan Kemasyarakatan

”Saya tambahkan salah satu program kemenkes adalah dengan gaya hidup CERDIK. Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres,” ujarnya. (sga/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya