Nutrisi Sejak Awal Kehamilan jadi Kunci Utama Cegah Balita Stunting

290
JawaPos.com – Stunting atau balita bertubuh kerdil menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Anak yang terkena stunting menjadi ancaman bagi bangsa karena anak adalah generasi penerus.

Balita stunting umumnya mengalami berbagai gangguan selain tumbuh kembang. Gangguan kognitif atau perkembangan pola pikir adalah hal yang paling mengkhawatirkan.

Direktur Gizi Masyarakat Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy mengatakan stunting menyerang kognitif. Ciri khas dari stunting adalah anak yang gagal tumbuh dikarenakan sejak janin kurang konsumsi gizi mikro dari ibu.

“Ibu hamil itu harus naik berat badannya dan cukup asupan nutrisinya. Sebanyak 52 persen ibu hamil kurang naik berat badannya, harusnya naik 12 kilogram. Penambahan berat badan ibu hamil rata-rata hanya 7 kilogram. Saya lihat di Brebes, Pemalang, Tegal, Karawang, dan Cianjur, stunting-nya tinggi. Ini ada masalah pada pola asuh serta pola makan,” tukas Doddy dalam seminar program Panah Merah Innovation Award 2019 di Balai Sidang Universitas Indonesia di Depok baru-baru ini.

Berdasar itu, menurutnya untuk mencegah stunting harus memiliki 3 kunci utama. Di antaranya pola makan atau pola asuh, akses pelayanan kesehatan, dan air bersih. Selama kehamilan sejak usia kandungan, ibu harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Kemudian ketika bayi dilahirkan harus mengenal Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

“Ada peristiwa bayi tak diberi ASI, membuat ketahanan mental kurang baik saat besar. Ibunya mudah stres. Ketika bayi bertemu puting ibunya, hilang semua stres. Banyak anak stunting karena dari awal kehidupan sudah gagal,” tukasnya.