Beranda Berita Kesehatan Nutrisi Sejak Awal Kehamilan jadi Kunci Utama Cegah Balita Stunting

Nutrisi Sejak Awal Kehamilan jadi Kunci Utama Cegah Balita Stunting

0
Nutrisi Sejak Awal Kehamilan jadi Kunci Utama Cegah Balita Stunting

JawaPos.com – Stunting atau balita bertubuh kerdil menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Anak yang terkena stunting menjadi ancaman bagi bangsa karena anak adalah generasi penerus.

Balita stunting umumnya mengalami berbagai gangguan selain tumbuh kembang. Gangguan kognitif atau perkembangan pola pikir adalah hal yang paling mengkhawatirkan.

Direktur Gizi Masyarakat Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy mengatakan stunting menyerang kognitif. Ciri khas dari stunting adalah anak yang gagal tumbuh dikarenakan sejak janin kurang konsumsi gizi mikro dari ibu.

“Ibu hamil itu harus naik berat badannya dan cukup asupan nutrisinya. Sebanyak 52 persen ibu hamil kurang naik berat badannya, harusnya naik 12 kilogram. Penambahan berat badan ibu hamil rata-rata hanya 7 kilogram. Saya lihat di Brebes, Pemalang, Tegal, Karawang, dan Cianjur, stunting-nya tinggi. Ini ada masalah pada pola asuh serta pola makan,” tukas Doddy dalam seminar program Panah Merah Innovation Award 2019 di Balai Sidang Universitas Indonesia di Depok baru-baru ini.

Berdasar itu, menurutnya untuk mencegah stunting harus memiliki 3 kunci utama. Di antaranya pola makan atau pola asuh, akses pelayanan kesehatan, dan air bersih. Selama kehamilan sejak usia kandungan, ibu harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Kemudian ketika bayi dilahirkan harus mengenal Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

“Ada peristiwa bayi tak diberi ASI, membuat ketahanan mental kurang baik saat besar. Ibunya mudah stres. Ketika bayi bertemu puting ibunya, hilang semua stres. Banyak anak stunting karena dari awal kehidupan sudah gagal,” tukasnya.

Kegagalan lainnya ketika terjadi kondisi frustrasi ketika ASI tak keluar kemudian bayi langsung diberi susu formula. Menurut Doddy, pada saat bayi sudah mengenal susu formula dengan rasa manis, asin, dan lemak, pada saat tumbuh kembang anak akan menolak makan sayur.

“Anak enggak mau makan sayur jika anak sudah ketemu 3 rasa ini. Andai mau menuntaskan stunting harus revolusi mulai lagi dari awal kehidupan,” jelasnya.

Menurut Doddy, selain 1.000 hari pertama yang harus didukung penuh, kehidupan kedua (second live) saat anak tumbuh menjadi remaja juga harus diperhatikan. Menurutnya banyak remaja saat ini tubuhnya makin kecil. Maka remaja juga harus mengonsumsi gizi seimbang.

“Penelitian pada 2007-2018 keberhasilan ASI eksklusif cuma 37 persen. Sebab stunting bisa berdampak pada gagal tumbuh, gangguan kognitif, dan gangguan metabolisme,” paparnya.

Sementara itu, Managing Director PT East West Seee Indonesia (EWINDO) Glenn Pardede mendorong pemenuhan asupan gizi seimbang dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan tujuan program Sustainable Development Goals (SDG) yang berkaitan dengan No Poverty, Zero Hunger, Quality Education, Gender Equality and Responsible Consumption and Production.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 25,67 juta jiwa. Tingkat disparitas kemiskinan perkotaan dan pedesaan masih tinggi. Seperti diketahui, per September 2018 tingkat kemiskinan di desa mencapai angka 13,10 persen sedangkan di kota tingkat kemiskinan mencapai angka 6,89 persen. Peranan komoditi pertanian sebagai sumber makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar yakni mencapai 73,54 persen dibandingkan dengan komoditi nonmakanan.

“Kami optimistis inovasi di sektor pangan khususnya nutrisi dan kesehatan jika didorong dan difasilitasi secara terstruktur akan dapat membantu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan. Pada akhirnya hal ini akan berkontribusi dalam tercapainya target SDG 2030,” tutup Glenn.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani