alexametrics

Minta Domba Bunting sebelum Potong Rambut Gimbal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Wonosobo – Suyatmi, 38, menginginkan seekor domba bunting. Permintaan ini wajib dipenuhi sebagai syarat agar rambut gimbalnya bisa dipotong. Ia menjadi salah satu peserta prosesi ruwatan potong rambut gimbal yang berlangsung di Desa Sembungan Dieng Minggu (3/7).

“Sebenarnya ia sudah ruwat beberapa kali, tapi selama itu keinginannya belum terpenuhi. Jadi gimbalnya masih belum mau hilang,” terang salah satu pelaku wisata Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar Tafrihan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif Sandiaga Uno didaulat sebagai pemotong rambut gimbal kali ini.

Sejak dulu, Suyatmi yang berasal dari Dusun Pojok Kramatan RT 2, RW 3, Kelurahan Wonosobo hanya menginginkan domba yang tengah bunting. Namun orang tuanya belum sanggup untuk membelikannya. “Sehingga, meski telah dicukur berkali-kali, rambut gimbalnya terus tumbuh,” jelas Tafrihan.

Baca juga:  Bantuan Tak Merata, Warga Geruduk Kantor Desa

Oleh karenanya pada ruwat gimbal tahun ini, keinginan Suyatmi dituruti. Ia berharap ini menjadi prosesi ruwat yang terakhir baginya.

Selain Suyatmi, ada dua anak yang ikut ruwatan. Pertama, Hening Rasa Karina Putri Alif yang memasuki umur 6 tahun. Ia merupakan putri pasangan Kulnaim dan Irma Sukarni asal Dusun Kliwonan, Desa Karang Luhur, Kecamatan Kertek. “Permintaanya juga sederhana. Ia hanya ingin dibelikan handphone dan doa waras slamet. Itu semua diturutinya dalam prosesi ruwat gimbal tahun ini,” katanya.

Kemudian ada Khadziqoh Noureen Rumaisa yang juga berumur 6 tahun. Ia merupakan putri pasangan Yusuf Subono dan Niawati Asfiyah. Mereka berasal dari Dusun Kecis, Kelurahan Selomerto, Kecamatan Selomerto.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Agus Wibowo menjelaskan, beberapa tempat di kawasan Dieng telah mentradisikan ruwat rambut sejak lama. Di Desa Sembungan, prosesi ruwat rambut gimbal selalu diadakan setiap tahun. “Dan tahun ini kita lakukan untuk pertama kalinya sejak pandemi berlangsung,” katanya.

Baca juga:  Dipajang Bersama Forkompimda, Gambar Afif Dicopot

Ruwat cukur rambut gimbel bertujuan untuk menghilangkan rambut gimbal agar si anak memiliki rambut yang normal. Selain itu, anak yang dicukur rambutnya diharapkan bisa memperoleh keberkahan dan kesehatan.

Ruwatan ini telah menjadi legenda yang terus hidup di bumi Kahyangan Dieng. Warga setempat percaya bahwa anak yang berambut gimbal ini merupakan keturunan orang pertama yang hidup di dataran tinggi Dieng yaitu Tumenggung Kyai Kolodete.

“Dan rambut gimbal ini tumbuh secara alami pada anak-anak. Biasanya rambut ini muncul pertama kali disertai demam tinggi dan mengigau saat tidur,” ujarnya.

Gejala ini baru berhenti dengan sendirinya tatkala rambut sang anak menjadi kusut dan menyatu antara yang satu dengan lainnya. Dalam setiap prosesi ruwatan, sang anak akan dimintai tentang apa keinginannya. “Dan setiap keinginannya itu biasanya berbeda-beda,” lanjutnya.

Baca juga:  Balon Udara Diterbangkan Tanpa Langgar Aturan

Sementara Sandiaga Uno dengan menggunakan gunting yang disediakan panitia, mengawali memotong satu per satu dari tiga peserta ruwat rambut gimbal yang diselenggarakan di pinggir Telaga Cebong. Potongan rambut gimbal tersebut oleh panitia “dilarung” (dihanyutkan) di Telaga Cebong.

Sandiaga menyampaikan, selain memiliki pemandangan yang indah, Desa Wisata Sembungan ternyata juga melestarikan tradisi pemotongan rambut gimbal. “Ini suatu kolaborasi wisata alam budaya yang sangat fantastis,” katanya.

Sandiaga menuturkan, Telaga Cebong merupakan salah satu destinasi unggulan Desa Sembungan. Ada ekotourism dilengkapi dengan destinasi wisata budaya yaitu memotong rambut gimbal. (git/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya