alexametrics

Jalur Alternatif Rakai Panangkaran Masih Berbahaya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Wonosobo -Sekretaris Daearah (Sekda) One Andang Wardoyo ingatkan wisatawan untuk tidak gunakan jalur alternatif Rakai Panangkaran saat berkunjung ke Dieng. Pasalnya, Jalur tersebut masih dianggap berbahaya untuk dilintasi pengguna jalan yang tak paham medan.

“Iya ini karena laporan dari berbagai pihak. Kita butuh memastikan jika jalur tersebut jangan dulu dilalui kendaraan luar kota. Apalagi yang tidak paham dengan medan disana,” jelas Andang saat bertemu dengan sejumlah awak media baru-baru ini.

Bukan karena kondisi jalan yang rusak. Namun karena kondisi medan jalan yang naik turun dab berkelok tajam itu akan menyulitkan pengendara untuk melintas. Sayangnya, jika para wisatawan datang menggunakan aplikasi google maps masih sering diarahkan melalui jalur alternatif ini.

Baca juga:  Harga Murah, Petani Enggan Menanam Carica

“Memang jalannya paling cepat lewat sana. Tapi perlu kita ingatkan agar wisatawan saat datang ke Dieng itu mengikuti rambu-rambu dan petunjuk yang telah petugas pasang dilapangan saja,” terang Andang saat bertemu dengan awak media.

Ia menyebut jika para wisatawan yang hendak datang ke Dieng sering diarahkan untuk menggunakan rute tercepat vila rakai panangkaran. Meski rute tersebut saat ini dalam kondisi baik, namun karena medan yang curam dianggap akan membahayakan pengguna baru yang melintas daerah tersebut.

“Ada satu titik yaitu di watu ceper yang memang masih terlihat curam sekali. Banyak kendaraan yang mogok. Makanya belum kita sarankan melalui jalur ini,” katanya.

Baca juga:  Polres Wonosobo Beri Pemahaman Hukum pada Siswa

Ia mengaku jika rakai panagkaran menurutnya masih butuh sejumlah fasilitas seperti rambu jalan dan lampu penerangan. Sehingga para pengendara yang melintas bisa melihat dengan jelas di jalan yang sering berkabut saat malam hari itu.

“Jalan itu baru memungkinkan saat digunakan untuk turun, bukan naik. Makanya kita sarankan untuk tidak gunakan google maps saat akan berkunjung ke daerah atas di Dieng,” ujarnya.

Sementara Kepala DPUPR, Nurudin Ardiyanto menyebut jika sebenarnya jalur rakai panagkaran dalam kondisi baik. Namun diakuinya jika dijalur tersebut ada titik ekstrim yang susah dilalui oleh pengemudi.

“Kalau kondisi jalan bagus, tapi ada satu titik yaitu di blok watuceper yang ekstrem,” katanya.

Baca juga:  Lembah Sikembang Dongkrak Ekonomi Lokal

Menurutnya, jika jalur tersebut tetap dibuka sebagai pengurai kemacetan di kawasan Dataran Tinggi Dieng, maka disarankan perlu ada relawan yang bertugas membantu mengarahkan kecepatan atau menolak saat mobil tidak kuat menanjak.

“Seperti di daerah lain yang ekstrim, ada yang membantu mengarahkan, bisa dari warga setempat atau relawan,” terangnya.

Jalur alternatif yang menghubungkan Desa Mlandi Garung dengan Desa Sembungan Kejajar itu diproyeksikan menjadi jalur baru menuju Dieng, dengan jarak tempuh yang lebih dekat.

Dalam rakor lintas sektoral untuk menghadapi libur hari raya Idul Fitri 2022, jalan rakai panangkaran menjadi pembicaraan hangat. Apakah akan tetap dibuka atau tidak direkomendasikan mengingat jalur tersebut mulai ramai dikunjungi wisatawan. (git/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya