alexametrics

Bendungan di Wonosobo Jebol, Satu Warga Meninggal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Wonosobo – Bendungan dadakan seluas 3 hektare di area mata air Rowo Pening yang masuk pangkuan Desa Karangsambung, Kecamatan Kalibawang akhinya jebol pada Sabtu (26/3) lalu. Kondisi ini menyebabkan banjir bandang yang merusak puluhan hektare lahan pertanian dan merenggut satu korban jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonosobo Bambang Triyono mengungkapkan, saat kejadian, hujan deras melanda wilayah Kalibawang. Akibatnya 1 hektare kawasan milik Perhutani KPH Kedu Selatan yang masuk pangkuan Desa Karangsambung longsor.

Kebetulan di bawah longsoran itu terdapat rawa alami yang sering digunakan untuk aktivitas warga sekitar. Material longsor menutup atau menyumbat saluran air yang keluar dari rawa. Akibatnya genangan air bertambah luas sekitar 3 hektare dan kedalamannya bertambah antara 3 meter hingga 9 meter. “Padahal awalnya luasannya itu tak lebih dari seperempat hektare saja. Tapi menjadi lebih luas dan dalam karena longsor itu,” ujarnya.

Baca juga:  Sulit Atur Pertanian di Lereng Dieng

Pihak Perhutani, perangkat desa, kepolisian, TNI dan BPBD khawatir mengenai bendungan dadakan yang terjadi di Rowo Pening itu. Takut jika sewaktu-waktu jebol dan membahayakan warga yang berada di bawah sekitar rawa itu. Tepatnya Satu dusun di Desa Kalikarung, Kalibawang.

“Dan akhirnya itu benar-benar terjadi lima hari pasca longsoran awal. Tanah tak kuat menahan beban air berlebih hingga menyebabkan banjir bandang,” lanjutnya.

Bukan tanpa solusi. BPBD bersama pihak terkait, yakni Polsek Kalibawang, Koramil Kalibawang, DPU PR, Perhutani, Basarnas, PDAM, Pemdes Karangsambung, Pemerintah Kecamatan Kalibawang dan sejumlah relawan sebenarnya sudah melakukan rapat koordinasi sebanyak tiga kali. Hasilnya mereka menyedot air untuk mengurangi debit air menggunakan mesin pompa.

Baca juga:  Optimistis Pemanfaatan EBT Lebih Baik

Sayangnya, saat petugas gabungan sedang beraktivitas menyedot air pada Sabtu (26/3) lalu tiba-tiba air surut dengan cepat. Tanpa diketahui ternyata sumbatan yang diakibatkan tanah longsor beberapa waktu yang lalu jebol dan menjadi banjir bandang. “Material tanah longsor jebol karena tidak mampu menahan genangan air yang meluas,” bebernya.

Banjir bandang terjadi dalam setengah jam. Menerjang puluhan hektare lahan pertanian dan menghanyutkan Sundiyah, 53, warga Dusun Pucung Gajih, Desa Kalikarung, Kecamatan Kalibawang. Ia dinyatakan meninggal setelah terseret arus air saat bertani di ladang miliknya. “Selain itu, ratusan hektare lahan pertanian milik warga juga rusak. Untuk kerugian material masih dalam perhitungan,” jelasnya. (git/ton)

 

Baca juga:  Jatah Vaksin selalu Ludes

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya