alexametrics

Food Estate, Jamin Harga Stabil

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Wonosobo – Pemkab Wonosobo mengupayakan masalah pertanian di Kabupaten Wonosobo mengalami peningkatan.  Melalui program food estate, Pemkab optimistis ke depan masalah pertanian di Wonosobo terus membaik.

Bupati Afif Nurhidayat mengatakan secara geografis,  Kabupaten Wonosobo cocok untuk mengembangkan holtikultura. Mulai dari bawang merah, bawang putih, cabai, kentang dan pembibitan cabai. Dengan pertanian model food estate, pemerintah akan menjaga agar harga produk pertanian stabil. Tidak menimbulkan kerugian bagi petani.

Dengan program food estate, Afif sangat berharap ini bisa memberikan harapan bagi masyarakat Wonosobo. Pasalnya, harga dijamin, pasar dijamin bahkan permodalan dijamin perbankan dengan adanya KUR.

Kepala Dinas Paperkan Dwiyama SB mengatakan telah dipilih tiga lokasi food estate. Yakni Kecamatan Kalikajar, Watumalang dan Garung. Ditambah satu wilayah lagi sebagai sentra pembibitan cabai di Sukoharjo.

Lahan yang paling luas dan memungkinkan berada di Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar yang dinyatakan siap untuk food estate nasional itu. “Dengan lahan yang telah disiapkan kurang lebih 10 hektare untuk tanaman cabai monokultur di Lamuk Kalikajar. Dan masih ada 200 hektare lagi untuk model tanam tumpang sari,” bebernya.

Baca juga:  Tercatat Ribuan Anak Usia 7-8 Tahun di Wonosobo Tidak Sekolah

Sementara, untuk tanaman kentang, Dwiyama mengaku menyiapkan demplot seluas 1 hektare. Para petani yang masuk dalam skema kerja sama, menurutnya telah siap dengan model food estate dan tinggal mematangkan administratifnya saja.

Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Maju Rahayu Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar beberapa waktu lalu bergembira karena panen cabai di lahan sawah food estate menuai hasil gemilang.

Panen digelar pada peringatan Hari Pangan Ke-41 Sedunia. Disaksikan sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian RI, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, BPPT Jateng, dan Balai Karantina Tanaman Provinsi.

Di lahan seluas sekitar 2 hektare tersebut, menghasilkan cabai 18 ton. Ia menuturkan perhitungan tersebut dari asumsi 1 pohon cabai mampu menghasilkan 9 ons hingga 1 kilogram cabai rawit. Sementara dalam 2 hektare lahan itu bisa ditanami 18.000 batang.

Baca juga:  Seluruh Kades di Wonosobo Diperingatkan, Bangun Jembatan Tak Boleh Sembarangan

Ia menyampaikan para petani yang menjadi mitra binaan Dinas Paperkan Kabupaten Wonosobo menyambut baik dengan pendampingan pemerintah. Bahkan nantinya mereka tidak lagi khawatir dengan harga jual hasil panennya karena sudah disediakan off taker atau penjamin agar harga beli tidak berada di bawah harga produksi.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) datang ke lokasi demplot pembibitan cabai di Desa Lamuk mendorong Kabupaten Wonosobo mampu menjadi pelopor keberhasilan program food estate berbasis hortikultura.

Kabupaten Wonosobo  dan Temanggung dengan program food estate digadang mampu menggerakkan roda perekonomian lokal maupun nasional.

“Namanya food estate itu programnya harus jelas. Terkonsepsi dan mampu mengelompokkan petani ke dalam korporasi. Sehingga skala ekonominya bisa diatur,” ujar Mentan Yasin Limpo saat menghadiri persiapan kick off food estate di Desa Lamuk, Kalikajar, Wonosobo pada Jumat, 15 Oktober 2021.

Baca juga:  193 Bidang Tanah Milik Warga Desa Menjer Tak Diganti Rugi

Menurut Mentan Yasin Limpo, kesiapan dan persiapan food estate di Wonosobo sangat baik. Ia berharap program tersebut bisa memenuhi kebutuhan, meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong peningkatan nilai. Apalagi produk pertanian Indonesia memiliki peminat yang cukup banyak di seluruh Indonesia.

“Jika ini berhasil akan menjadi contoh bagi kabupaten lain yang ada di seluruh Indonesia,” tandasnya.

Berdasarkan peta lokasinya, food estate Wonosobo menurut Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto memiliki luas area 332 hektare dan menjadi salah satu lokasi percontohan. Kawasan ini juga dinilai mampu menerapkan budidaya yang lebih efisien.

“Total petani yang terlibat ada 918 orang. Gambaran analisis usaha taninya, dengan adanya food estate ini untuk biaya produksi bawang merah yang sebelumnya Rp 98 juta diperkirakan menjadi Rp 86 juta. Bawang putih yang tadinya Rp 101 juta menjadi Rp 95 juta,” kata Prihasto. (git/adv/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya