alexametrics

Dua Sastra Lisan di Wonosobo Terancam Punah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Wonosobo – Balai Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI merevitalisasi dua sastra lisan di Wonosobo yang hampir punah. Dua sastra tersebut yakni Tarian Daeng dan Wayang Othok Obrol.

Deputi Pusat Pengembangan Bahasa dan Sastra Kemendikbud Ferdinandus Moses menjelaskan, saat ini dua sastra lisan tersebut masuk kategori terancam punah. Hal tersebut telah ditetapkan setelah unit Badan Bahasa Jateng melakukan pemetaan, penelitian dan kajian investigasi.

“Dari hasil tersebut kita tetapkan jika Tarian Daeng dan Wayang Othok Obrol menjadi salah satu sastra lisan yang keberadaannya hampir punah,” ujarnya saat ditemui disela pementasan tari Daeng yang dilakukan siswa SDN 1 Selokromo Sabtu (23/10).

Oleh karena itu, Balai Bahasa memiliki kepentingan untuk melakukan revitalisasi Dua sastra tersebut agar bisa kembali hidup. Yakni melalui pencarian kembali generasi penerus yang mau melanjutkan tradisi sastra lisan semacam ini.

Baca juga:  Merti Desa Penghormatan untuk Lurah Sudharto

Pihaknya mengajak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Dinas pendidikan, Pemuda dan Olahraga di Kabupaten Wonosobo untuk ikut andil dalam pelestarian dua tradisi ini. Sehingga ke depan bisa dikembangkan dalam berbagai event festival dan masuk dalam kurikulum muatan lokal di Wonosobo.

Kepala Dinas Periwisata dan Kebudayaan (Disdikpora) Kabupaten Wonosobo Agus Wibowo menyebutkan, saat ini para pelaku kedua kesenian tersebut telah masuk dalam usia lanjut.

Oleh karena itu memiliki kewajiban untuk bisa mempertahankan kekayaan kebudayaan yang ada di Wonosobo. “Mereka sudah berusia lebih dari 70 tahun. Sementara yang siap menggantikannya itu belum ada,” ungkapnya.

Dijelaskan Agus, tari Daeng merupakan tarian khas Wonosobo berupa tarian yang diiringi tiga rebana, satu kendang dan satu jidur. Tari itu menggambarkan tentang kisah perjuangan prakemerdekaan, sosial ekonomi dan religius.

Baca juga:  3.188 Pedagang Sudah Mendaftar di Pasar Induk Wonosobo

Sedangkan wayang Othok Obrol memiliki beberapa kesamaan dengan Wayang Kedu. Tetapi Ia mempunyai ciri khas tertentu, misalnya penggambaran karakter wayang di bagian sunggingan atau pakaian yang dikenakan tokoh wayang.

Suluk dalangnya berbeda dengan wayang lain, ketiadaan sinden atau wiraswara, jumlah perangkat gamelan yang hanya tujuh jenis, notasi gamelan yang lebih sederhana. Serta biasanya lebih banyak menggelar lakon ruwatan. “Karena ini baru dilakukan si wilayah Selokromo, kedepan akan kita buat event khusus disini agar bisa tetap lestari,” jelasnya. (git/ton)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya