Kaji Kitab Selama Ramadan, Sehari Tujuh Waktu

PPTQ Al-Asy'ariyyah di Kelurahan Kalibeber Kecamatan Mojotengah dilengkapi dengan fasilitas gedung yang megah dan terbesar di Wonosobo. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID, Wonosobo – Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Al-Asy’ariyyah di Kelurahan Kalibeber Kecamatan Mojotengah dikenal sebagai pondok terbesar di Wonosobo. Bukan hanya besar dari jumlah murid dan gedungnya, ternyata pondok ini juga memiliki sejarah panjang yang cukup menarik sejak 188 tahun silam. Mulai dari KH Muntaha Bin Nida’ Muhammad atau Mbah Muntaha Awal pada periode (1832-1860). Kemudian digantikan putranya KH Abdurrochim bin KH Muntaha (1860-1916). Pada periode ketiga, kepemimpinan pesantren diteruskan putranya yang bernama KH Asy’ari bin KH Abdurrochim (1917-1949). Periode keempat, kepemimpinan dilanjutkan putranya KH Muntaha Al-Hafidz bin KH Asy’ari yang kerap dipanggil Mbah Muntoha, ulama legendaris dan kharismatik. Ia dijuluki sang Maestro Alquran. Di bawah kepemimpinannya Al-Asy’ariyyah menemui kemajuan pesat, baik mengenai jumlah santri maupun lembaga-lembaga pendidikannya. Satu karya fenomenalnya, yakni Alquran Akbar (Alquran terbesar di dunia) yang kini disimpan di bait Alquran TMII. Selain peran KH Muntaha Al-Hafidz, kemajuan pondok pesantren ini tak lepas dari peran adiknya, KH Mustahal Asy’ari bin KH Asy’ari.

Setelah itu, kepeminpinan dilanjutkan KH Achmad Faqih Muntaha sebagai putra sulung KH Muntaha Al-Hafidz dari istri yang bernama Nyai Hj Maiyan Jariyah. Menjelang kepergiannya pada tahun 2018 lalu, pengasuh pondok kemudian digantikan oleh anak keduanya, KH Khoirulloh Al Mujtaba atau yang akrab disapa  Buya Itab yang sangat ramah, murah senyum dan rendah hati.

Ramadan di PPTQ Al Asy’arriyah Tujuh tahun 2020 ini, masih seperti tahun yang lalu. Intensitas Ramadan selalu ditambah. Dalam sehari mengkaji beberapa kitab secara cepat.

Salah satu pengajar di pondok, Aziz Fatchurohman menjelaskan bahwa kegiatan di pondok selama Ramadan tahun 2020 ini masih tetap sama. Namun selama pandemi korona ini berlangsung, para santri diliburkan lebih awal dari biasanya. Sebab, sampai wartawan Jawa Pos Radar Semarang datang mengunjungi pondok tersebut, keadaan sudah lengang. “Iya, para santri sudah kami pulangkan pada 20 Ramadan lalu. Biar di rumah bisa lebih lama dengan keluargannya,” katanya.

Sebelumnya, saat santri masih ada, kegiatan dalam satu hari dibagi dalam tujuh waktu untuk membahas kajian kitab klasik. Dimulai setelah selesai salat subuh, para santri mengkaji Tafsir Al-Ibris. Dilanjutkan pada pukul 07.00 pagi, 10.00 pagi, setelah Ashar, Maghrib dan Isya. Baru dilanjutkan dengan membaca Alquran atau biasa disebut Sema’an. “Kitab yang kami pelajari juga cukup banyak. Mulai dari kitab akhlak, fikih, aqidah, tasawuf hingga belajar hadis,” terangnya.

Dengan mempelajari kitab tersebut, para siswa hanya diberi waktu istirahat tak lebih dari dua jam. Hal ini agar para santri bisa lebih fokus untuk beribadah selama Ramadan ini. Sebab waktu terbaik bagi umat Islam adalah mengerjakan segala kebaikan. Yang Allah SWT kirimkan dalam satu tahun hanya sekali saja. “Yaitu saat bulan penuh ampunan itu berkah dan ampunan itu datang. Yakni bulan ramadan,” lanjutnya.

Selain belajar ilmu agama, secara khusus pondok pesantren yang diasuh langsung oleh KH Fadlurrahman Al-Faqih ini juga diajarkan tentang membangun kehidupan yang mandiri. Dengan menggerakkan usaha jajan dan mengolah pertanian. Tak heran, jika di pondok tersebut ada mesin pengolah buah dan beberapa kandang ternak. Yang digunakan sebagai alat belajar bagi para santri.

“Setiap santri kami beri pilihan. Mau belajar jadi pengusaha atau petani. Intinya, mereka yang ada disini kami ajarkan bagaimana meracik pakan yang sehat untuk ternak. Kemudian kami libatkan anak-anak agar mau mengolah makanan untuk dijual kembali,” bebernya.

Dirinya mengaku bahwa anak yang ada di pondok pesantren tersebut merupakan anak dari golongan menengah ke bawah. Maka sikap kemandirian dan gotong royong itu perlu ditanamkan. Ketika mereka sudah siap untuk dilepas ke masyarakat, sudah tidak bingung dengan apa yang harus mereka kerjakan. (git/ida/bas)





Tinggalkan Balasan