Pedagang Mandala Wisata Tak Terima Kanopi Dibongkar

Puluhan petugas Satpol PP kisruh dengan salah satu pedagang di komplek Gerbang Wisata Mandala, Mendolo, Jumat (20/3/2020). (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID, Wonosobo – Puluhan anggota Satpol PP menertibkan kawasan Gerbang Mandala Wisata, Wonosobo, Jumat (20/3/2020). Seorang pedagang tak terima lantaran kanopi di depan warung miliknya dibongkar.

Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo Haryono menjelaskan, penertiban dilakukan pada kompleks milik Pemkab Wonosobo yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Berdasarkan ketetapan Disparbud, pedagang tidak diizinkan mendirikan bangunan. Surat edaran tentang larangan penambahan bangunan gazebo juga sudah dikeluarkan pada 11 Maret 2020.

“Dari 18 pedagang yang ada di sana, hampir 98 persen menyetujui adanya pembongkaran kanopi. Hanya satu pedagang yang tetap tidak setuju,” jelasnya.

“Pedagang tersebut juga sudah diberi surat peringatan pada 18 Maret 2020, tapi tidak diindahkan. Akhirnya petugas yang turun untuk membongkarnya pada Jumat (20/3/2020) siang,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Satpol PP itu.

Pedagang diperbolehkan memasang peneduh di depan warung tapi tidak permanen. Bisa berupa paying-payung lebar dengan tempat duduk. “Jadi pembongkaran kanopi itu sebenarnya hanya milik satu pedagang yang membandel saja. Wong yang lainnya itu sudah sepakat dan mau ikut aturan kami kok. Yang lain sudah dibongkari terlebih dahulu,” lanjutnya.

Pedagang yang kanopinya dibongkar, Budi Hartono mengungkapkan, kanopi tersebut baru dipasang sekitar tiga minggu yang lalu. Selama tidak ada kanopi, pembeli yang datang sepi. “Berminggu-minggu warung kita jadi sepi pembeli mas,” keluhnya, kemarin.

Lantas dengan inisiatif beberapa pedagang membangun kanopi menggunakan dana pribadi. Dengan harapan bisa memberikan tempat yang layak untuk pengunjung di rest area tersebut.

“Tanpa ada surat peringatan, petugas satpol langsung membongkar kanopi tanpa konfirmasi dengan pemiliknya,” akunya.

Yang dirinya sesali adalah pembongkaran dilakukan tanpa kompromi. Padahal itu adalah barang milik pribadi. Padahal ia sangat mendukung dengan rencana pembangunan gerbang wisata yang mengusung konsep kuliner sebagai destinasi wisata yang diwacanakan bupati. (git/ton/bas)

 

Tinggalkan Balasan