Kaki Gunung Sindoro Ditambang, Diduga Oknum Pemerintahan  Bermain

154
RUSAK : Sejumlah aktivitas galian C di kawasan Desa Pagerejo, Kerteka berada di kaki Gunung Sindoro.(Sigit Rahmanto/Radar Kedu)
RUSAK : Sejumlah aktivitas galian C di kawasan Desa Pagerejo, Kerteka berada di kaki Gunung Sindoro.(Sigit Rahmanto/Radar Kedu)

RADARSEMARANG.ID, WONOSOBO – Rusaknya lahan pertanian di kawasan kaki Gunung Sindoro akibat penambangan ilegal membuat prihatin warga Desa Pagerejo Kecamatan Kertek. Namun warga tak bisa berbuat lebih. Sebab  mereka menduga ada oknum perangkat desa ikut menyetujui adanya galian itu.

“Kami sebenarnya resah pada apa yang terjadi di desa kami, tapi kami tak bisa berbuat lebih. Sebab di sana yang bermain di wilayah tambang orang orang besar,” kata salah satu warga Desa Pagerejo yang enggan disebutkan namanya itu Minggu (24/11) malam.

Dirinya menyebutkan hingga saat ini masih ada kegiatan tambang karena oknum di pemerintahan desanya ikut terlibat. Bahkan menurutnya, oknum itu ikut menjadi bagian di dalamnya. Sehingga warga merasa tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kita itu sudah membuat laporan beberapa kali. Dari mulai polsek hingga hingga ke provinsi. Nyatanya tak ada respon dari mereka,” keluhnya saat mengikuti diskusi bersama dengan Lembaga Kita di program Serasi.

Masalahnya, jika tidak ada keterlibatan oknum di desanya untuk mengizinkan, tambang tersebut seharusnya bisa ditolak. Seperti yang terjadi di Dusun Sontonayan, Desa Kapencar, Kertek dan Desa Sigedang, Kejajar.

“Jika pemerintahan desanya tegas menolak. Pasti tidak akan terjadi galian di desa kami. Ini kan hanya soal ketegasan saja sebenarnya. Tapi gimana lagi, hasil dari galian C itu memang menjanjikan,” ungkapnya.

Padahal menurutnya jika adanya galian karena kebutuhan ekonomi warga itu tidak masuk akal. Sebab dahulu saat belum ada galian, mereka tetap bisa hidup dari hasil pertanian. Sebab sayuran yang jadi andalan warga bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Yang paling mengkhawatirkan menurutnya, bahwa belum lama ini telah terjadi kebocoran alam. Munculnya air setinggi 10 meter dan disusul cairan lumpur di kawasan galian ilegal itu. Beruntung alat berat bisa menutupnya kembali dengan segera.

Selain itu, dampak galian yang sudah sangat dirasakan warga adalah menurunnya debit air di Desa Pagerejo. Seperti yang terjadi pada Sendang Surodilogo. Setiap tahun debit air terus menurun. (git/lis)