alexametrics

Petani Bunga Mawar Bandungan Siapkan Pasokan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Jelang Ramadan dan Idul Fitri, petani bunga mawar percaya bahwa harga bunga mawar akan naik. Hal itu membuat sejumlah petani sudah bersiap mengantisipasi jika nanti permintaan akan meningkat.

Ngadimin, salah satu petani bunga mawar asal Gintungan Senin (14/3) ditemui saat ngrancas atau memotong dahan bunga mawar yang nantinya akan bisa tumbuh kembali. Dengan cara begitu ia bisa mendapatkan hasil panen sesuai dengan ekspetasi. “Kalau bunga mawar 3 hari itu sudah mekar dan siap panen mas. Jadi seminggu bisa panen 2 kali,” ungkapnya.

Setiap panen, Ngadimin bisa mendapatkan 2-3 tenggok atau wadah anyaman bambu. Harga satu tenggok dibandrol Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu. “Namun kalau pas menjelang Lebaran itu bisa sampai Rp 300 ribu per tenggoknya,” katanya.

Baca juga:  Libatkan Kaum Difabel dalam Penanggulangan Bencana

Dalam panen hingga penjualan, para petani tidak terpaku pada permintaan tapi sedapatnya pada saat panen. Terkadang para pembeli yang datang berasal dari luar kota misal Sragen, Kota Semarang, hingga Magelang. Mereka stand by di pasar bunga Bandungan hingga datang langsung ke para petani.

Ngadimin mengungkapkan, jika dalam tiga hari mawar tidak dipanen maka bunganya akan rontok dan tidak bisa dijual. “Kalau sudah jatuh otomatis layu mas dan tidak bisa dijual,” ungkapnya.

Kondisi cuaca saat ini yang sering hujan pada tengah hari hingga malam tidak mempengaruhi perkembangan bunga mawar itu sendiri. Apalagi pada saat musim kemarau. Para petani sudah siap untuk mengatasinya. Dengan cara membuat tampungan air yang nantinya digunakan untuk mengairi area kebun mawar tersebut.  “Jadi nanti giliran untuk dapat air. Misal satu hari ada 6 petani yang butuh air,” imbuhnya.

Baca juga:  Bencana Didominasi Tanah Longsor

Wilayah Kecamatan Bandungan memang sudah dikenal sebagai sentra penghasil bunga mawar tabur. Momentum Lebaran menjadikan permintaan bunga mawar menjadi meningkat. “Banyak mas pembelinya kadang dari Ngawi, Cirebon, dan kalau sekitar sini ya Kota Semarang, Sragen hingga Magelang,” ungkap Ngatiman petani asal Gintungan, Bandungan.

Ia mengatakan bahwa bunga mawar tabur pernah tidak laku pada saat awal pandemi Covid-19 mencuat. Kala itu satu tenggok cuma dihargai Rp 5 ribu. Dikarenakan semua kegiatan masyarakat dibatasi dengan ketat. Namun saat ini harga bunga mawar tabur sudah kembali dengan normal. “Nanti naiknya pasti sebelum Lebaran mas. Karena banyak permintaan juga, ” katanya. (cr5/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya