alexametrics

Rusunawa Pringapus Jadi Tempat Isolasi Pemudik

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Pemerintah Kabupaten Semarang memanfaatkan Rusunawa Pringapus dan tiga rumah kosong di Dusun Randusari sebagai tempat isolasi. Utamanya bagi pemudik yang positif Covid-19.

Bupati Ngesti Nugraha memperkirakan masih ada warga yang mudik ke Kabupaten Semarang meski sudah dilarang. Menurutnya, pemudik berpotensi besar menyebarkan virus korona dan menambah kasus positif baru. Dinas Kesehatan (Dinkes) diminta melakukan antisipasi dan pendataan di tingkat puskesmas.

“Kita menjaga kenyamanan dan kesehatan warga agar tidak terjadi lonjakan kasus positif baru karena adanya warga pendatang,” ungkap bupati usai rapat koordinasi Selasa (4/5/2021).

Kepala Dinkes Kabupaten Semarang Ani Raharjo menjelaskan, Rusunawa Pringapus berkapasitas 112 kamar. Sebelumnya, dua rumah singgah di Suwakul dan Hotel Garuda Getasan juga telah dimanfaatkan untuk isolasi pasien Covid-19.

Menurutnya, pemudik yang tidak membawa surat sehat harus diminta menjalani tes antigen secara gratis di Puskesmas terdekat. Jika hasilnya positif akan langsung diminta isolasi di rumah singgah.

Petugas kesehatan sudah menyiapkan fasilitas untuk antigen di beberapa pos penjagaan, mulai 13 April 2021 lalu. “Seluruh rumah sakit dan puskesmas rawat inap juga sudah disiagakan,” ungkapnya.

Sementara itu pantauan Jawa Pos Radar Semarang di Desa Banyubiru, pemudik mulai berdatangan ke kampung halaman. Mereka datang dari Makassar, Denpasar, Jakarta, bahkan ada yang dari Jepang.

Kepala Desa Banyubiru Sri Anggoro Siswaji mengatakan sampai Selasa (4/5/2021), ada delapan pemudik yang sudah datang. Tahun lalu ada 235 pemudik. Pihaknya pun melakukan antisipasi untuk meredam pemudik.“Kami melihat tahun ini sudah ada kejenuhan tingkat tinggi, bisa jadi tahun ini lebih banyak daripada tahun lalu,” ujarnya.

Antisipasi tersebut di antaranya menyiapkan tiga rumah singgah. Rumah singgah ada di RW 1, RW 2, dan di Dusun Randusari, total kapasitas 12 tempat tidur. Itu rumah kosong yang dimanfaatkan sebagai rumah singgah. Penghuni akan dipantau melalui CCTV yang terkoneksi dengan perangkat desa.

Anggoro mengatakan, Desa Banyubiru termasuk kerawanan tinggi penyebaran Covid-19, karena merupakan daerah perlintasan dan warganya banyak yang bekerja di sektor industri. Tahun kemarin dari April hingga Desember ada 69 kasus positif Covid-19. Sementara tahun ini sudah ada 30 kasus. “Kalau tidak patuh protokol kesehatan bisa melebihi tahun lalu,” tandasnya. (ria/zal)

 

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer