alexametrics

Upayakan Sampah Tuntas di Tempat dengan Magot

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Pemkab Semarang memiliki cara inovatif untuk menuntaskan persoalan sampah. Salah satunya dengan budidaya maggot. Inovasi tersebut sudah diterapkan untuk mengatasi TPA Blondo. Di areal TPA seluas 5,7 hektare itu berdiri gedung besar beratap galfalum tempat budidaya maggot. Hewan yang kerap disebut lalat Black Soldier Flies (BSF). Pasukan tentara lalat hitam itu sudah hampir satu tahun hidup dan berlipat ganda di tempat tersebut. Dari 25 gram telur BSF dan 50 kg maggot, kini sekitar 700 kg pasukan tentara hitam tinggal di sana. Mereka menghabisi sampah organik di TPA sebanyak 300 kg hingga 1 ton per hari.

Didik Priyanto, tenaga teknis yang mengelola maggot merupakan seorang pensiunan kontraktor di Jakarta. Minatnya yang tidak main-main dibuktikan riset dan uji coba budidaya maggot sejak 2017.

“Saat itu belum banyak orang yang menggeluti ini. Bisa dihitung jari di Jawa,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang sembari mengaduk maggot di biopon dengan cetok di tangan kanannya, Jumat (12/3/2021).

Setelah uji coba sukses ia lakukan di rumahnya, kawasan belakang RSUD Ungaran. Pertengahan 2017 Didik mengajukan diri membawa pengalamannya ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang. Secara kebetulan, pihak DLH juga tengah melakukan riset budidaya maggot untuk solusi sampah organik yang menumpuk. Tanpa ragu, DLH merespon baik niatnya.

Baca juga:  Pengisian Jabatan Rawan Konflik Kepentingan

Akhirnya, pada 2020 Didik resmi bekerja sama dengan DLH sebagai tenaga teknis di budidaya maggot. Peralatan utama seperti rak, baskom, biopon, almari puparium, insectarium, atraktan yang disediakan Ia gunakan.

Rak besi berisi lima baris baskom ke bawah di sebelah sisi kanan dan kiri diberi tanggal ditata berurutan. Baskom berukuran 30X40 cm tersebut berisi telur maggot hingga bayi maggot berusia tujuh hari. Bayi-bayi itu memakan bekatul. Lalu pada ha ri ke-8 mereka siap berpindah ke media biopon yang lebih besar.

Biopon terbuat dari seng besi bekas berukuran 4X0,5 m sebagai tempat maggot menyantap sampah organik yang diberikan Didik. Sampah itu berasal dari sisa sayuran pasar, makanan restoran, atau stok bahan makanan toserba yang kadaluarsa.

Satu kg maggot dewasa usia 8-21 hari dapat melahap 2-3 kg sampah organik. Pada usia tersebut maggot juga dapat digunakan untuk pakan ternak ikan atau ungags. Harganya relatif lebih murah Rp5 ribu per kilo, sedangkan telur maggot Rp5 ribu per gram. Segram telur akan menjadi 2 kg maggot dewasa.

“Selain murah, maggot juga mengandung protein tinggi dan memiliki kandungan gizi baik untuk ternak. Itulah kenapa mereka banyak dilirik peternak,” jelasnya.

Pada usia 22 hari maggot akan berubah menjadi tentara berkulit hitam. Mereka mulai berhenti melahap sampah organik. Lalu cenderung memisahkan diri dari kawanan maggot putih dan perlahan melompat ke media yang disediakan di pinggiran biopon. Mereka diam sejenak hingga molting atau melepas kulit hitamnya dan menjadi pupa. Kulitnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Baca juga:  Siswa MAN 1 Semarang Olah Gulma Jadi Obat Asam Urat

Setelah pupa diletakkan di almari puparium yang berada satu ruangan dengan insektarium, mereka menetas sebagai lalat BSF. Dalam kurun waktu tiga hari lalat jantan dan betina kawin, lalu si pejantan mati. Lalu sang betina bertelur di tumpukan kayu kecil yang diikat karet sebagai media bertelur. Kayu diletakkan di atas atraktan atau baskom berisi buah busuk untuk memancing lalat bertelur di sela-sela kayu. Usai bertelur, betina mati. Bangkai lalat BSF dapat digunakan pakan ternak, atau dijadikan campuran pellet.

“Lalat harus kena sinar matahari, itulah mengapa kami buat insectarium di luar gedung,” imbuh Didik.

Setiap pukul delapan pagi dia datang membersihkan markas tentara hitam tersebut. Ia sempat mengaku kesal karena tikus kerap mengobrak-abrik biopon dan membobol almari puparium yang ditutup dengan pintu kain. Tak kehabisan akal, Didik dan patnernya memasang perangkap.

Sehabis itu dia menjemput sampah organik yang tiba di TPA Blondo, mencacah sampah bila perlu, lalu menyuguhkannya untuk sarapan para tentara hitam di rak biopon. Didik juga tak lupa memberi minum lalat BSF di insectarium berjaring hijau agar mereka dapat tetap hidup dan bereproduksi.

Baca juga:  Kaur-Kasi Rp 25 Juta, Sekdes Rp 50 Juta

Kepala Seksi Pengolahan Sampah Agus Dwi Cahyadi tiba dan bergabung dengan Didik pagi kemarin. Pihaknya mengaku dari 2020 hingga kini telah menerima ratusan tamu atau pengunjung yang ingin belajar budidaya maggot. Baik keperluan pengolahan sampah organic maupun pakan ternak.

“Kami awalnya ingin mengedukasi masyarakat, sekaligus implementasi dari program Sampah Tuntas di Tempat. Kalau sampah rumah tangga berkurang, kiriman ke TPA sini juga pasti berkurang,” paparnya.

Budidaya yang diupayakan DLH Kabupaten Semarang bersama Didik ini juga direspon baik oleh Bupati Ngesti saat berkunjung ke insektarium. Tahun depan pihaknya menargetkan agar maggot dapat mengolah 3 ton sampah organic dan mengatasi sampah dengan skala lebih besar.

Namun untuk mewujudkan hal itu Didik memerlukan teknologi lebih canggih untuk pengelolaan BSF. Ia sudah melakukan riset ke negara maju pelaku bisnis BSF skala besar yang mengelola maggot dengan baik. “Kemarin ini anggaran buat kami terbentur untuk pandemic covid-19 dan pilkada,” ungkap Didik.

Pihaknya berharap pemerintah memberi dukungan penuh untuk mengembangkan budidaya maggot. Khususnya dari segi teknologi. Karena di samping menjadi solusi untuk sampah organik atau rumah tangga, BSf juga memiliki nilai ekonomis dan bisa menghasilkan profit bila dikelola dengan baik. (cr1/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya