alexametrics

Kearifan Budaya Lokal Jadi Magnet Pelancong

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Desa Lerep baru saja mendapat anugerah dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan Terbaik. Prestasi tersebut tak lepas dari konsistensi masyarakatnya mempertahankan tradisi budaya lokal dan melestarikan lingkungan.

Lerep menjadi desa wisata berawal dari masalah pencemaran air dari Dusun Indrokilo. Warga dusun yang terletak di dataran tertinggi di Lerep itu, mayoritas peternak sapi. Lantaran tidak terstruktur, limbah peternakan mencemari air penduduk desa di bawahnya. Mengatasi masalah tersebut, pemerintah desa memusatkan lokasi peternakan di satu tempat.

“Dengan bantuan Dinas Peternakan, warga dapat mengolah limbah peternakan menjadi sumber energi terbarukan, biogas. Selain itu juga dijadikan pupuk organic,” kata Kepala Desa Lerep Sumariyadi.

Usahanya mengantarkan Desa Lerep menjadi Desa Ternak Sehat se-Jawa Tengah pada 2013. Sehat bukan karena profit yang diperoleh. Namun pengelolaan peternakan terstruktur hingga pemanfaatan limbahnya sebagai sumber energi terbarukan yang inovatif.

Upaya mengatasi masalah lingkungan dan kepedulian terhadap krisis iklim mengundang Yayasan Bintari datang ke tempatnya. Melihat potensi desa, LSM yang identik dengan aktivisme lingkungan itu, ikut membina Desa Lerep untuk mengembangkan desanya. Mulai dari pengelolaan, promosi di media sosial dan biro wisata, hingga pembuatan website berbahasa Inggris untuk menggaet wisatawan manca negara.

Baca juga:  70 Desa Wisata Angkat Kearifan Lokal

Gencarnya promosi membuat wisatawan Jerman dan Jepang pun mampir ke Desa Lerep. Tahun 2014 Dinas Pariwisata Jateng mengajak Desa Lerep bergabung menjadi desa wisata. Dengan memanfaatkan fasilitas pembinaan dari pemerintah, Sumariyadi merangkul warganya untuk andil mengembangkan potensi desanya untuk wisata berkelanjutan.“Desa wisata itu berbeda dengan sekadar tempat wisata, karena di dalamnya juga melekat karakter budaya masyarakat setempat,” tegasnya.

Semua warga benar-benar terlibat dalam pengelolaan. Mulai dari tour guide, karang taruna, seniman, penari, pokdarwis, pedagang kelontong, pengelola catering hingga pemilik home stay. Bahkan ia membuat Persatuan Sopir Lerep yang menjemput wisatawan dari meeting point. Seperti Terminal Sisemut Ungaran.

Wisata budaya yang ditawarkan mulai dari welcome dance untuk menyambut tamu. Lalu pertunjukan kebudayaan, reog, tari dan gamelan. Pasar jajanan tradisional di setiap Minggu Pon. Kegiatan peternakan seperti memerah susu, mengolah biogas. Kegiatan bercocok tanam seperti membajak sawah, memetik hasil panen tani. Kegiatan memanen kopi, produksi sampai siap minum. Memancing dan bersantai di Embung Sebligo bersama teman atau keluarga.

Baca juga:  Setiap Desa Digelontor Rp 1 M

“Kalau ditanya, emang wisatanya apasih? Ya kita menunjukan kearifan budaya lokal dari kehidupan warga sini. Bagi orang luar kan itu menarik. Mereka tidak punya pengalaman hidup seperti orang desa,” terangnya.

Paling populer yaitu paket wisata edukasi eco tour. Targetnya peserta didik dan anak muda. Peserta didik kerap datang dengan tujuan study tour. Sedangkan kalangan anak muda dan wisatawan manca negara lebih tertarik pada segi sosial masyarakat dan manajemen hidup berkelanjutan di Desa Lerep.

Pasar jajanan tadisional di Minggu Pon pihaknya melibatkan sekitar 600 pedagang dari warga setempat. Termasuk ojek yang mengantar pengunjung ke lokasi pasar. Mengingat lokasi tidak dapat dijangkau mobil. Pasar jajanan tersebut untuk mendongkrak perekonomian warga. Mengingat harga bahan pokok yang dipatok tengkulak kerap tidak sesuai dengan jerih payah petani desa.

Baca juga:  Awalnya Petani Enceng Gondok, Kini Kerajinannya Laku di Itali

“Makanya kami buat pasar, biar petani mengolah hasilnya sendiri dan bisa menjual dengan harga yang layak kepada pembeli,” jelas kades yang memimpin 12 ribu warga itu. Sebagai oleh-oleh, wisatawan disuguhi banyak pilihan produk lokal. Sabun susu, kopi tradisional, jajanan kering lainnya.

Tercatat pada 2019 Desa Wisata Lerep menerima 10 ribu pengunjung. Tiga persen merupakan wisatawan manca negara. Penghasilan kotornya mencapai Rp 2,4 miliar. Tidak ada patokan minimal harga untuk paket wisata. Menurut Sumariyadi, pihaknya merancang destinasi sesuai budget yang dimiliki calon wisatawan. Keuntungan yang diperoleh pun langsung dirasakan masyarakat. “Ya ini bagaikan ekomoni bergulir,” tegasnya. (cr1/zal)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya