Sepuluh Persen Siswa Kesulitan Pembelajaran Daring

384
Pelajar di lingkungan Susukan, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, memanfaatkan wifi gratis di rumah aspirasi Ketua DPRD Jateng untuk belajar daring Selasa (4/8/2020). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Rumah Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto didatangi sejumlah siswa. Bukan untuk demo, tapi menumpang wifi untuk pembelajaran dalam jaringan (daring). Setiap hari ada lima sampai sepuluh siswa SD dan SMP Kabupaten Semarang yang memanfaatkan fasilitas gratis itu.

Berdasar catatan Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang, masih ada 10 persen siswa yang kesulitan belajar daring karena faktor internet.

“Meski saat ini sudah bisa dilakukan belajar tatap muka, namun untuk zona merah memang tidak disarankan. Saat ini masih ada 10 persen yang kesulitan daring. Masih terus kami upayakan,” tegas Kepala Disdikbudpora Kabupaten Semarang Sukaton Purtomo.

Salah satu pelajar, Syifa Murhaini Naafillah, 14, kelas VIII SMPN 3 Ungaran mengaku kesulitan saat mengikuti pembelajaran daring. Selain masalah sinyal, dia bersama pelajar lain di lingkungan Susukan, Ungaran Timur, merasa terbebani jika harus membeli kuota internet.

Ia mengaku, untuk pembelajaran daring paling tidak harus menyiapkan kuota sebanyak 20gb (giga byte) dalam satu bulan seharga Rp 60 ribu. Belum lagi masalah sinyal yang tidak selalu kuat. Untuk menyiasati masalah itu, dia bersama pelajar lain akhirnya meminta izin menggunakan jaringan wifi di rumah pribadi Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto, yang tak jauh dari rumah aspirasi untuk pembelajaran daring.

“Awalnya saya ke rumahnya Pak Bambang dan izin numpang wifi untuk belajar. Sama istrinya dikasih passwordnya, lalu kami belajar bareng di teras rumah hampir setiap pagi. Tapi sekarang ke rumah aspirasi,” ungkapnya Selasa (4/8). Hari itu ada 10 siswa yang datang.

Sementara itu, Ketua DPRD Jawa Tengah Bambang Kusriyanto membenarkan terkait pelajar yang menumpang wifi di rumahnya. Kemudian fasilitas wifi dipindah ke rumah aspirasi yang tidak jauh dari rumah pribadinya. “Lebih luas di sana bisa 20 orang. Anak-anak bisa nyaman belajar,” terangnya.

Politikus PDI Perjuangan itu juga berharap agar segera ada solusi terkait pembelajaran daring tersebut. Dikhawatirkan jika terlalu lama bisa memicu kejenuhan para siswa. Beberapa orang tua siswa mengeluh selama pelaksanaan pembelajaran daring. Selain mereka kurang cakap berperan sebagai guru di rumah, kendala lain adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli paket internet.

“Jangan sampai Desember lah begini. Diusahakan dulu tetap bertatap muka. Protokol kesehatan dipatuhi,” pungkasnya. (ria/zal/bas)