alexametrics

Tembakau Gorila Diproduksi di Bandungan, Diedarkan hingga Papua

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Satuan Narkoba Polres Semarang membongkar home industri narkotika jenis tembakau gorila. Rumah industri tersebut berlokasi di Lingkungan Gamasan RT 3 RW 2 Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Narkotika tersebut sudah diedarkan ke sejumlah wilayah di luar Jawa hingga di area Jawa Tengah.

Kapolres Semarang AKBP Gatot Hendro Hartono mengungkapkan, satu tersangka yang diamankan bernama Yunus Muhammad, 25, warga Lodoyong, Ambarawa. Yunus merupakan produsen tembakau gorila. Tersangka sudah menjalankan aksinya sejak Mei hingga Juli.

“Tersangka ditangkap di rumahnya Ambarawa. Saat itu, tidak ditemukan barang bukti apapun. Tapi tersangka mengakui memproduksi tembakau gorila di kosnya di Gamasan Bandungan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang saat gelar perkara, Jumat (17/7/2020).

Baca juga:  Fokus Putus Penularan Covid-19

Sejak itu, tersangka sudah membuat 19 kilogram tembakau gorila. Tembakau gorila racikan Yunus tersebut bahan dasarnya tembakau biasa, namun dicampur methanol dan bibit gorila berupa serbuk warna oranye.

Dijelaskan, komposisinya satu kilogram tembakau biasa dicampur 300 ml methanol dan 15 gram serbuk bibit gorila yang didapat dengan harga Rp 10 juta per plastik. Terlihat tembakau yang sudah diolah warnanya agak menghitam. Pengiriman kepada pemesan menggunakan jasa ekspedisi (jasa paket kilat) dengan dibungkus rapi.

Untuk mengelabuhi, paket tersebut tertulis pengiriman baju. Tembakau golira sebelum dikirim dimasukkan dalam baju bekas. “Penjualan di Jawa Tengah antara lain di Semarang, Magelang dan Slawi Kabupaten Tegal, sedangkan di luar Jawa Tengah meliputi Jakarta, Tangerang, Bandung, Lombok NTB, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua,” paparnya.

Baca juga:  Piknik ke Curug Lawe Benowo, Pulang Bawa Bibit Cabai dan Kopi Gratis

Dari keterangan tersangka, ia mendapatkan methanol dan serbuk bibit gorila dari seseorang bernama Phonix yang saat ini masih buron.”Per minggu saya dapat uang dari Phonix Rp 1 juta. Selain uang dari Phonix, sehari saya bisa dapat Rp 1 juta dari menjual secara eceran dengan harga Rp 100 ribu per gram,” aku tersangka.

Terbongkarnya home industri tembakau gorila berawal dari penangkapan Nike dan Arifin alias Cawet di Gamasan, Bandungan, dengan barang bukti tembakau gorila. Setelah itu, polisi menangkap Yudha alias Peok sebagai perantara jual beli tembakau gorila yang berasal dari tersangka Yunus.

Adapun barang bukti yang disita polisi antara lain tembakau gorila kering 204,87 gram, tembakau gorila basah 434,06 gram, tembakau kering biasa 1,6 kg, dan satu bungkus amplop berisi 2,00444 gram serbuk gorila.

Baca juga:  Cegah Overload, Tambah Enam TPS 3R

Selain itu, satu buah panci, satu buah kompor listrik, sebuah timbangan elektronik, satu gelar kaca ukur, 42 kantong plastik warna hitam, 74 amplop coklat, uang tunai Rp 200 ribu, dan motor Suzuki Satria FU bernopol H 2105 BK.

Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat pasal 114 ayat (1) atau pasal 113 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika jo Perkemenkes RI Nomor 5 Tahun 2020 tentang perubahan penggolongan narkotika. Ancaman hukumannya paling singkat lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1 miliar. (ria/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya