Lomba Lari Sekaligus Wisata

128
KETAT: Siti Atiqoh Supriyanti (hitam) turut meramaikan Ambarawa Haritage Run 2019 Minggu (27/10).MARIA NOVENA/JAWA POS RADAR SEMARANG
KETAT: Siti Atiqoh Supriyanti (hitam) turut meramaikan Ambarawa Haritage Run 2019 Minggu (27/10).MARIA NOVENA/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID, UNGARAN – Ribuan pelari ikut ambil bagian dalam Ambarawa Haritage Run 2019 dengan rute mengelilingi bangunan sejarah di Kabupaten Semarang. Mulai dari Gua Maria Ambarawa hingga Gedongsongo Bandungan.

Ajang perlombaan yang digelar kedua kalinya ini menampung hingga 2.000 pelari. Tidak hanya dalam negeri atlet luar Negeri bergabung untuk merebutkan juara. Salah satu peserta istri orang nomor satu di Jawa Tengah Ganjar Pranowo yaitu Siti Atiqoh Supriyanti yang mengikuti kategori 10 km mengaku cukup tertantang. Udara di Ambarawa pun dikatakannya sangat mendukung.

“Rutenya menarik mengelilingi bangunan sejarah. Menyuguhkan pemandangan apik terutama untuk peserta dari luar Indonesia. Mendapat destinasi wisata baru, city tourism. Menarik, melihat rute 31 km saya pun tertarik tetapi karena belum ada persiapan saya memilih di 10 km,” cerita Siti Atiqoh Supriyanti kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ambarawa Haritage Run 2019 sendiri memiliki tiga rute diantaranya 5 km, 10 km dan 31 km. Atiqoh juga mengatakan olahraga lari sudah menjadi gaya hidup. Sehingga perlombaan serupa harus terus gelar. Tidak hanya mendapatkan tubuh sehat, perlombaan tersebut menjadi barometer kadar udara sehat didaerah.

“Sehat pasti, ini kan gaya hidup zaman sekarang. Namun sangat disayangkan tadi ketika saya lari ada yang masih bakar sampah. Tiba-tiba langsung tahan nafas saya. Dan kedepan jalan memang harus disterilkan,” keluhnya yang semoat diklakson truk ketika lari.

Sementara itu Bendahara Ambarawa Haritage Run 2019 Parkiyatno Sukarno Soetodimejob 70 peserta diantaranya berasal dari luar negeri, yakni Kenya, Ethiopia, Belanda, Jepang, dan Malaysia. “Memang tidak hanya olahraga yang kami tawarkan namun cerita tempat sejarah menjadi nilai plus. Dari Museum Kereta Api Ambarawa, Benteng Willem I, Gua Maria Ambarawa hingga Candi Gedongsongo. Itu pembeda dari tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Kedepan pihaknya akan menjadikan event tahunan. Mengingatkan ditahun ke dua ini peminat semakin banyak. “Melihat dari peminat yang tinggi kedepan akan kami adakan tiap tahun,” pungkasnya. (ria/bas)