Warga Desa Tlogopucang Ramai-Ramai Bawa 1.500 Tenong Tumpeng dan Ingkung

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Temanggung – Warga Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung melaksanakan Sadranan Mbah Wali Kramat Selasa (9/8). Setiap rumah membawa 1 tenong berisi makanan.

Sekitar 1500 warga Desa Tlogopucang membawa tenong berisi ingkung, tumpeng dan jajanan lainnya dari rumah masing-masing menuju makam Mbah Wali Kramat. Mereka berjalan kaki memikul tenong seberat 10 sampai 15 kilogram sejauh 0,5 sampai 1 kilometer. Warga duduk bersila di bukit menuju makam. Mereka melaksanakan tahlil dan doa bersama untuk kesejahteraan masyarakat Tlogopucang.

Kepala Dusun Tlogopucang Utara Subarno menuturkan, sadranan ini bertujuan untuk melaksanakan nazar. Konon di masa penjajahan, kepala desa setempat memiliki nazar akan menggelar sadranan Kramat pada 10 Suro bila pasukan belanda tidak masuk desa. Seiring dengan semakin berkembangnya agama Islam di masyarakat, banyak warga yang berpuasa pada 10 Suro, sehingga sadranan dialihkan pada 11 Suro.

Baca juga:  Tadarus On The Road, Sampaikan Pesan Perdamaian

Tenong adalah sebuah wadah berbentuk bundar dari anyaman bambu. Wadah ini  digunakan untuk membawa ingkung, tempeng atau buju, pelas cuka, rokok linting, suruh, kepala kambing dan makanan lainnya.

Menurutnya, buju adalah bentuk selametan atau syukuran. Mbah Wali Kramat adalah punden yang dikeramatkan di Tlogopucang. “Kami sendiri tidak tahu nama aslinya, dari kecil sampai sekarang ya hanya tahu Mbah Kyai Kramat gitu saja,” katanya.

Kepala Dusun Tlogopucang Tengah Athani menambahkan, makam Mbah Wali Kramat sudah ada sebelum desa tersebut berdiri. Berdasarkan cerita turun temurun, makam tersebut ditemukan saat kepala desa zaman dulu Simbah Kertodiporo sedang mencari rumput.

Saat sabitnya diketukkan pada sebuah batu, tiba-tiba ia setengah sadar. Kertodipuro merasa ditemui arwah Mbah Wali Kramat dan diberi pesan, apabila keturunannya memiliki permintaan, maka bisa datang di tempat tersebut. Syaratnya membawa tumpeng, pelas cuka.

Baca juga:  Masih Bisa Vaksin Saat Ramadan

Salah satu warga Nazilin mengatakan, setiap rumah membawa 1 pikul tenong. Semua warga menyambut kegiatan ini dengan meriah dan bahagia. “Yang menjaga desa ini adalah Mbah Kramat,” ucapnya. (din/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya