alexametrics

Pasang Patok, Proses Pendataan Tanah Jalan Terus

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, TEMANGGUNG – Sebanyak dua desa di Kabupaten Temanggung dilewati jalan tol Jogja-Bawen. Dua desa yang bakal digilas proyek tol dengan nilai investasi Rp 14 triliun tersebut yakni Desa Pingit dan Desa Kebumen di Kecamatan Pringsurat.

Jalan tol yang bakal menghubungkan Jogjakarta, Solo dan Semarang (Joglosemar) ini sudah dimulai pembangunan kontruksinya pada Rabu (30/3) lalu di Sleman, DIY. Secara bertahap akan menjalar ke daerah berikutnya seperti Magelang, Temanggung dan Semarang yang ditargetkan rampung pada 2025.

Di Temanggung, perkembangan pembangunan tol masih baru tahap sosialisasi dan pematokan right of way (ROW). Itupun, sosialisasi baru dilakukan sekali dan patok baru dipasang sekitar setengah bulan lalu.

Di Desa Pingit, ada 60 bidang tanah yang terkena proyek tol yang terdiri dari tanah warga dan milik desa. Semuanya merupakan tanah kosong dan jauh dari pemukiman warga.

Baca juga:  Warga Sidogemah Menanti Kepastian Negosiasi Lahan

“Kalau total luasannya berapa saya lupa karena di Pingit sangat sedikit. Cuma buat perlintasan karena berbatasan dengan Magelang dan Semarang. Itu kayaknya nanti dibuat fly over gitu,” ujar Sekretaris Desa Pingit Afendi, Senin (26/4).

Pihaknya belum menerima penolakan dari para warga terdampak. Justru sebaliknya, warga senang. Letak tanah yang jauh dari jalan dengan asumsi harga rendah, karena terkena proyek tol diharapkan bisa memeroleh ganti untung lebih tinggi. Setelah Lebaran nanti, kata Afendi, akan ada pendataan dan verifikasi oleh pelaksana proyek terkait penetapan lokasi pengadaan tanah.

Hal serupa juga terjadi di Desa Kebumen, sosialisasi baru dilakukan sekali dan patok ditancapkan sekitar 15 hari lalu. Pendataan pengadaan tanah juga bakal dilakukan selepas hari raya.

“Kita baru sekali dikumpulkan di balai desa, dikasih informasi kalau mau ada pembangunan tol. Yang dikumpulkan itu yang kena. Ada banyak yang kena kok wong sampai dua sesi,” ujar Sisilia Nurmiati, salah satu warga terdampak asal Dusun Kaliampo, Desa Kebumen.

Baca juga:  Pegawai RSUD dapat Xpander

Sisilia mengaku siap mendukung proyek pemerintah meski sebenarnya ia sedikit tidak rela. Sebab rumahnya berada persis di pinggir jalan raya yang tergilas proyek merupakan tempat tinggalnya sejak kecil dan penuh kenangan.

“Kalau memang itu proyek pemerintah ya gimana lagi ya. Pokoknya selama itu tidak merugikan ya monggo saja asal proses ganti untungnya jelas,” katanya.

Pembangunan di Desa Kebumen hanya sebagai exit tol, panjangnya 1 kilometer dengan total luas lahan 10 hektare. Meski begitu, exit tol yang akan dibangun ini bakal menggusur beberapa rumah warga, restoran, lahan perkebunan dan juga tempat pemakaman umum (TPU).

Kepada Desa Kebumen Haryanto menjelaskan, wilayah di desanya yang sudah dipatok yakni memanjang dari pos Kaliampo hingga Sungai Getas. Lokasinya persis berada di pinggir jalan raya.

Baca juga:  Pembangunan Jangan Rusak Ekosistem

“Itu sebagian besar tanah warga. Tanah desa juga ada sebagian kecil termasuk tanah bengkok atau perangkat,” katanya saat ditemui di kantornya, Senin (25/4).

Pihaknya belum menerima aduan keberatan dari warga terdampak. Meski begitu, ia sedikit mengeluhkan koordinasi dari pelaksana proyek yang kurang maksimal. Menurutnya, pelaksana belum memberikan schedule yang jelas terkait pembangunan tol di desanya. Padahal, warga selalu bertanya-tanya terkait perkembangannya.

Hal senada disampaikan Kasi Pelayanan Desa Kebumen Teguh Sutarman. Ia juga mengeluhkan minimnya koordinasi antara Pemdes dengan pelaksana. “Itu dipatoknya sekitar hari Sabtu, lalu Seninnya mereka baru memberi kabar,” ujarnya.

Teguh khawatir, jika tidak ada koordinasi yang baik akan membuat kebingungan warga yang tidak tahu kalau di depan rumahnya tiba-tiba ada orang menancapkan patok. (nan/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya