alexametrics

Bermodal Sepeda Federal dan Uang Rp 125.000, Cyclist Asal Temanggung Sukses Keliling Indonesia

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Temanggung – Isak tangis mewarnai kediaman Kusmiyati, warga Lingkungan Mardisari RT 07/03, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Temanggung Rabu (23/2) pagi kala itu. Adik yang dicintainya, Subiyanto, 57, akhirnya kembali pulang ke rumah setelah 18 bulan pergi bersepeda (gowes) berkeliling Indonesia.

Subiyanto pamit meninggalkan rumah pada 13 Agustus 2020 lalu dengan hanya bermodalkan uang Rp 125.000. Dengan hanya mengenakan sepeda butut merk Federal versi lawas dan beberapa helai pakaian, ia nekad mengembara keliling Indonesia dengan membawa misi utama, ingin melihat wajah Indonesia dari dekat.

“Misi saya yang pertama adalah olahraga dengan bersepeda sambil mengunjungan dan meliat keindahan Indonesia,” begitu kata Subi, sapaannya saat pamit pergi kala itu.

Sebagai kakak, tentu menjadi hal yang wajar bagi Kusmiyati untuk khawatir jika terjadi sesuatu pada Subi di perjalanan. Sebab, 18 bulan bukan waktu yang sebentar. Sedangkan Subi hanya membawa bekal terbatas dan ponsel jadul yang dipakainya untuk menghubungi orang rumah. Itupun jika Subi tidak sedang berada di tempat yang susah sinyal.

Pernah suatu kali saat Subi berada di Kalimantan, dirinya susah sekali dihubungi. Pikiran pihak keluarga pun sudah kemana-mana. Putus kabar ini berlangsung selama hampir satu pekan. Sampai dari ujung Kalimantan sana, akhirnya Subi memberi kabar dirinya tidak bisa mengubungi karena susah sinyal.

“Saya hanya bisa berdoa supaya di perjalanan diberikan kesehatan dan keselamatan. Soalnya kalau saya tanya mau pulang kapan, dia (Subi) selalu menjawab tidak mau pulang kalau belum satu tahun lebih,” tutur Kusmiyati.

Di tempat yang sama, Keponakan Subi, Emy kusyamah merasa bangga dengan apa yang pamannya lakukan ini. Emy mengaku, berkeliling Indonesia dengan bersepeda merupakan cita-cita Subi sejak lama setelah dirinya ditentang menjadi atlet tinju oleh ayahnya. Subi kecil yang frustasi, akhirnya mengalihkan kecintaannya terhadap olaharaga dengan bersepeda.

Emy mengatakan, pada 2019 lalu sebenarnya Subi pernah melakukan solo tour Jawa – Madura – Bali dengan hanya bersepeda. Masih kata Emy, sebelum melakukan perjalanan jauh, biasanya Subi membuka atlas peta untuk mempelajari rute yang akan dilaluinya. Maklum, Subi tidak terlalu paham tentang peta daring atau google maps.

Baca juga:  Protes Kenaikan Cukai, Petani Tembakau Gelar Ritual Tolak Bala

“Pernah sih kita melarang tapi karena tekad Om Subi sangat kuat jadi kita hanya support. Setiap berangkat selalu pamit dan sudah menjadi kebiasaan mesti belajar di buku atlas itu, bisanya satu minggu sebelum berangkat ia buka-buka buku mempelajari peta,” ungkapnya.

Subi mengaku memiliki banyak cerita dalam setiap kayuhan sepedanya. Selama perjalanan, Subi mengaku banyak orang yang peduli dengannya. Baik dengan memberi semangat, memberikan tempat menginap dan berbagi makanan. Hal inilah yang membuatnya berkeyakinan bahwa orang Indonesia itu baik-baik dan ramah-ramah.

“Setiap di jalan itu ada aja yang membantu. Jadi intinya orang Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke itu baik. Kalau yang jahat hanya segelintir saja,” tukasnya.

Dengan memasang bendera merah-putih dan ornamen bertulisan ‘Gowes Nusantara Sabang – Merauke’ di dasboard sepedanya. Ia memancing perhatian banyak orang. Tak ayal banyak orang menyemangatinya bahkan mengajaknya makan atau ngopi bersama, bahkan memberinya tempat menginap sambil mendengar ceritanya.

Soal makan, ia mengaku sering diberi warga lokal dan komunitas sepeda setempat. Sementara utuk tempat tidur, ia bisa tidur di polsek, koramil, warung-warung atau emperan toko. Kalau beruntung ia kadang juga disewakan hotel oleh komunitas sepeda setempat.

Sedangkan untuk ketahanan tubuh, ia mengaku tidak pernah sakit sama sekali. Ia hanya mengandalkan plang penunjuk jalan untuk berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Tak jarang, ia juga beberapa kali kesasar dan harus mengulang rute perjalannya.

Dalam sehari jarak minimal yang ia tempuh dengan mengayuh sepeda harus 100 kilometer dan beristirahat (tidur) tak lebih dari pukul 24.00. Laki-laki kelahiran Temanggung, 13 Agustus 1965 ini memulai rute perjalannya dari Kota Tembakau menuju Jakarta, kemudian menyebrang ke Pulau Sumatera untuk menuju ujung barat Indonesia.

Baca juga:  Promosi Lewat Kopi Donasi

Beberapa kota yang dilaluinya saat menginjakkan kaki di Bhumi Melayu antara lain Lampung – Bengkulu – Padang – Banda Aceh. Dari sini, perjalan ia lanjutkan dengan menaiki kapal ferry menuju Ibukota Sabang yang berada di Pulau We.

Selepas dari Titik Nol Kilometer Indonesia, ia melanjutkan ke destinasi selanjutnya yakni menuju Jawa dengan kembali menyebrang ke Aceh – Medan – Pekanbaru – Jambi – Palembang – Lampung dan kembali turun di Jawa.

Di Sumatera, Subi mengaku sedikit takut dan ngeri. Sebab, berdasarkan kabar yang sampai di telinganya, beberapa daerah di Sumatera masih banyak ditemui aksi-aksi perampokan dan pembegalan. Ia juga sering diperingatkan warga setempat agar tidak melakukan perjalanan saat malam hari demi keselamatannya.

Meskipun ia sadar betul bahwa dirinya juga tidak membawa harta berharga kecuali sepeda bututnya itu. “Kalo pas di Sumatera memang saya ndak berani gowes malam, karena jalanan di sana sepi dan hutan semua,” ungkapnya.

Ia terus mengayuh sepedanya menuju ujung timur Pulau Jawa yakni di Surabaya untuk kemudian kembali naik kapal ferry menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beberapa kota yang ia singgahi saat di Negeri Borneo antara lain Palangkaraya – Pontianak – Balikpapan – Samarinda – Tanjung Selor. Saat menyusuri hutan sumuk Kalimantan inilah, ia pernah mencapai titik kelelahan yang luar biasa.

Kontur jalan berupa pegunungan yang menanjak, serta jalanan yang tertutup hutan lebat membuat tenaga dan keringatnya mengucur deras. “Capeknya di sini mas, kalo pas hujan juga susah neduhnya karena sepi dan tidak ada tempat berteduh,” kenangnya.

Kayuhannya membawa Subi di Sulawesi, dari mulai Tarakan – Toli-toli – Manado – Gorontalo – Palu – Mamuju – Makassar – Toraja – Poso – Luwuk – Kendari dan Baubau, Pulau Buton. Kemudian kembali menyebrang menggunakan kapal Pelni menuju Ambon – Ternate – Tidore – Halmahera.

Baca juga:  Janda Hidup Sendiri Belum Terima Bansos

Di Sulawesi ini, Subi pernah mengalami kecelakan masuk gorong-gorong di samping jalan lantaran rem sepedanya blong musabab kampasnya sudah aus. Beruntung, ia hanya mengalami luka lecet saja. Di sini, ia juga pernah menuntun sepedanya puluhan kilometer lantaran velg sepedanya pecah. Jika dihitung-hitung, ia sudah mengganti ban sepedanya sebanyak 2 kali dalam perjalanan ini.

Kondisi sepeda Subi mencapai titik klimak saat sampai di Ternate, sepeda yang dikendarainya mengalami kerusakan dan patah di beberapa bagian kerangkanya. Beruntung, ia akhirnya diberi sepeda baru secara cuma-cuma oleh komunitas gowes setempat Gamalama Ternate. “Saya ditawari sepeda itu, disuruh coba dan ternyata lebih enak dan akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke Papua,” ceritanya.

Sepeda terus ia kayuh hingga tiba di Bumi Cendrawasih. Beberapa kota yang ia singgahi antara lain Sorong – Manokwari – Jayapura dan dipungkasi di Merauke yang berbatasan langsung dengan Pupua Nugini. Kemudian menyebrang ke Folores, tempat yang menurutnya sangat indah.

“Indonesia memang indah dan orangnya ramah-ramah, memang ada kres-kres sedikit. Cuma intinya Indonesai damai dan indonesia indah, setiap ada kesulitan pasti ada yang menolong.,” tegasnya.

Hobi bersepedanya ini pernah dipandang sebelah mata oleh tetangga-tetangganya, ia mengaku seringkali dianggap tidak bertanggungjawab lantaran bersepeda terus. Padahal, katanya, ia memang hidup single dan belum menikah sehingga memang tidak ada tanggungan apa-apa.

Setelah merampungkan perlajanan panjang ini, ia sudah memperoleh 32 sertifikat baik dari kantor imigrasi, kepolisian, bupati/walikota dan komunitas gowes setempat yang ia singgahi. Subi mengaku masih berkeinginan kembali gowes ke Papua. Sebab masih banyak tempat di Bumi Cendrawasih yang belum ia kunjungai. “Tidak semua daerah di Papua bisa dilalui karena masalah keamanan, jadi saya punya kerinduan untuk gowes lagi ke sana nanti,” pungkasnya. (nan/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya