alexametrics

Kisah Pilu Siswi di Temanggung, Diperkosa Ayah Tiri hingga Hamil, Dikeluarkan dari Sekolah

Artikel Lain

RADARSEMARAN.ID, Temanggung – Nasib ISP, 18, warga Temanggung betul-betul apes. Ia diperkosa ayah tirinya hingga hamil. Tak hanya itu, siswi kelas XII ini juga dikeluarkan oleh pihak sekolah secara sepihak.

Praktis, ISP terancam tidak dapat mengikuti ujian akhir pada Maret mendatang. Untuk mendapatkan keadilan, ISP, ditemani ibunya, Tum, 46, mengadukan kasus tersebut ke aparat kepolisian, serta meminta pendampingan dari kuasa hukum.

ISP mengaku, awalnya dipanggil oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) tempat ia menimba ilmu, Sabtu (19/2) lalu. Ia lantas diajak ke ruang UKS untuk menjalani tes kehamilan. Begitu diketahui hasilnya positif, sang ibu akhirnya turut dipanggil untuk menandatangani surat pengunduran diri korban yang tak lain anaknya itu.

“Kami dipaksa pihak sekolah untuk menandatangani surat pengunduran diri. Padahal bukan kehendak kami. Saya masih ingin sekolah dan mengikuti ujian pada bulan Maret nanti. Saya ingin lulus dan mendapat ijazah,” ungkapnya berurai air mata, Senin (21/2).

Ia menuturkan, kasus ini bermula dari pihak komite sekolah yang memperoleh info dari pihak yang ia sendiri tidak tahu. Komite sekolah meminta pihak sekolah untuk menelusuri perihal peristiwa rudapaksa oleh ayah tiri hingga diketahui ISP telah berbadan dua. “Yang tahu cuma guru-guru, teman-teman saya tidak tahu ada peristiwa ini,” imbuhnya.

Baca juga:  Temanggung Butuh TPA Baru

Korban bercerita sebenarnya perilaku bejat ayah tirinya ini sudah dilakukan sejak ia masih duduk di bangku SMP. Pelaku yang merupakan ayah tiri korban dengan teganya terus mencari peluang untuk memegang-megang tubuh anaknya itu. Meski tidak pernah berhasil lantaran ISP berhasil lari atau upaya itu kerap diketahui ibunya.

“Tiap ketahuan ibu mesti tidak jadi memegang-megang saya. Kemudian mereka berdua bertengkar. Bahkan sempat ayah tiri saya pergi beberapa bulan sebelum akhirnya pulang lagi,” katanya.

Nahas, akhirnya setelah ISP menginjak bangku kelas XII MA, peristiwa pemerkosaan pun akhirnya terjadi. Dengan iming-iming akan bertanggung jawab, korban yang saat itu hanya berdua di dalam rumah pada siang bolong terpaksa merelakan keperawanannya kepada sang ayah tiri.

Meski sudah mempertahankan kesuciannya sekuat tenaga, namun tubuh besar dan kuatnya tenaga sang ayah tak bisa ia tandingi. “Akhirnya itu terjadi. Saya sudah melawan dengan menendang, berteriak, bahkan menampar dia. Tapi tenaganya kuat sekali akhirnya peristiwa itu terjadi. Hingga hasilnya saya hamil sekarang. Demi Allah saya melakukan hubungan badan baru pertama kali, itupun dengan paksaan dan kekerasan,” ungkapnya.

Baca juga:  Kapolres Wonosobo dan Temanggung Berganti

Atas peristiwa ini, ia mengaku akan terus mencari keadilan dan berharap ada pihak yang membantu memecahkan perkara rumit yang tengah mendera.”Saya ingin bapak saya dihukum berat, dan saya juga bisa ikut ujian,” harapnya.

Kekecewaan terhadap putusan pihak madrasah juga dirasakan ibu korban, Tum, 46. Ia mengaku dirinya dipaksa pihak sekolah untuk menandatangani surat pengunduran diri tersebut. Bahkan, ia baru tahu anak pertamanya itu hamil saat dirinya dipanggil oleh pihak sekolah. “Saya dipaksa menandatangani surat itu. Sebenarnya saya tidak mau karena ingin anak saya lulus sekolah dulu dengan ijazah dari madrasah,” ujarnya.

Ia juga mengaku sangat geram dan tidak menyangka putrinya hamil atas perbuatan suami ke duanya, Wahyu Nugroho, 31, asal Desa Menggoro, Kecamatan Tembarak yang dinikahinya pada 2012 silam.

Baca juga:  Pasang CCTV Agar ‘Pembunuhan’ Pohon Penghijauan Tak Terjadi Lagi

Diakui Tum, sejatinya ia sudah lama curiga oleh perangai buruk sang suami yang ia kenal kali pertama di sebuah perusahaan tempat mereka sama-sama bekerja. “Rumah saya kan dari papan. Sering saya mendapati dia mengintip anak saya yang sedang tidur dari celah dinding. Tapi dia langsung pergi karena ketahuan,” bebernya.

Atas kondisi yang menimpa anaknya saat ini, ia mengaku akan menceraikan langsung suaminya yang kini telah melarikan diri alias buron itu. Bahkan pihaknya telah melaporkan secara resmi kepada pihak berwajib.

“Pokoknya sudah saya serahkan kepada pihak berwajib. Saya tetap akan memperjuangkan nasib sekolah anak saya, dan nanti kalau cucu saya sudah lahir akan saya momong sendiri,” tegasnya.

Kuasa hukum korban, Totok Cahyo Nugroho mengaku akan terus mengawal kasus ini hingga kliennya memperoleh keadilan. “Apapun ceritanya, ISP ini korban, karena masih di bawah umur. Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Temanggung yang tengah menangani kasus ini,” katanya. (nan/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya