alexametrics

Potret Kerukunan pada Nyadran Perdamaian

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, TEMANGGUNG – Warga Dusun Gletuk dan Dusun Krecek, Desa Getas, Kaloran menggelar nyadran perdamaian yang diikuti tiga agama yang berbeda Jumat (11/2). Tradisi nyadran atau merti dusun yang diikuti oleh penganut agama Islam, Buddha dan Katolik tersebut merupakan tradisi turun temurun sejak ratusan tahun silam sebagai wujud syukur kepadaTuhan YME sekaligus bentuk toleransi dan kerukunan warga lintas agama.

Rangkaian acara diawali dengan bersih-bersih makam, ziarah dan doa bersama yang diikuti ratusan warga setempat. Prosesi doa pun digelar secara bergantian dari pemuka masing-masing agama. Kegiatan lantas dipungkasi dengan makan besar, mereka melebur dan membaur satu sama lain, tidak bergerombol sesama agama mereka saja.

Baca juga:  99,6 Persen Ortu Siswa Setujui PTM

Kepala Desa Getas Dwiyanto menjelaskan bahwa sadranan yang dihadiri semua unsur agama ini memang sudah menjadi tradisi turun-temurun. Ketika masyarakat luar merasa takjub dengan keharmonisan ini, ia justru heran, lantaran keadaan warganya setiap hari memang sudah rukun seperti ini.

“Ini tradisi yang mengandung nilai religius dan ini tanpa diperintahpun masyarakat sudah sadar dengan sendirinya. Kami dari pemerintah desa hanya mempersiapkan tempatnya saja,” terangnya.

Keharmonisan ini juga disaksikan Bhiksu Nirmana Sasana yang jauh-jauh datang dari Aceh untuk melihat potret kerukunan umat beragama di Dusun Krecek secara langsung. Ia mengaku terinspirasi bahwa damai itu indah. Dari kedamaian menciptakan kerukunan dan dari kerukunan menciptakan keamanan. “Kalau seperti itu, hidup kita tidak terasa takut lagi karena semua jadi satu dan tidak ada rasa curiga dan saling terbuka. Inilah kerukunan yang bisa menciptakan tenggang rasa dan rasa hormat,” ungkapnya.

Baca juga:  RS PKU Muhammadiyah Temanggung Berhasil Memvaksin 5.000 Orang

Sementara Perwakilan dari Kementerian Agama yang khusus menangani agama Buddha Sarwadi berharap, agar toleransi dari warga Desa Getas yang baru saja disaksikannya ini bisa menular ke daerah-daerah yang lain. Menurutnya, tradisi adat isitiadat yang ada di setiap daerah bisa ditunggai untuk meleburkan perbedaan, bukan sebaliknya.

“Kita lihat semua bisa duduk bersama tanpa ada pembeda. Kalau di sini bisa saya yakin di daerah lain juga bisa sehingga kerukunan ini bisa menyebar, terangkat dan berjalan dengan baik,” ungkapnya. (nan/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya