alexametrics

Butuh Rp 2 Miliar untuk Hijaukan Lahan Kritis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Temanggung – Kebanyakan pendatang dari luar daerah yang melintas ataupun mampir di Temanggung, pasti menilai Kabupaten Temanggung sebagai tempat yang asri, sejuk dan penuh dengan pemandangan serba hijau yang menyegarkan mata.

Potret aktivitas petani di ladang juga jamak ditemui, yang secara tidak langsung akan menimbulkan kesan bahwa Temanggung sebagai daerah bertanah subur atau gemah ripah loh jinawi.

Akan tetapi, di balik keindahan itu, ada segudang permasalahan lingkungan yang mengintai. Pemerintah Kabupaten Temanggung bahkan mencatat, ada 13.000 hektare lahan di Kabupaten Temanggung dalam keadaan kritis.

Dibutuhkan 10 – 15 juta bibit pohon untuk mengembalikan lahan kritis tersebut untuk kembali normal. Tak ayal, pemerintah setempat terus menggalakkan berbagai upaya-upaya konservasi agar tidak menimbulkan permasalahan lingkungan yang lebih parah ke depan.

Baca juga:  Ngabuburit di Pasar Tani Kranggan

Hal tersebut tampak dari berbagai program-program konservasi seperti Sabuk Gunung, Temanggung Bebas Sampah, Masjchun Sofwan Award dan pembentukan Komite Konservasi. Bahkan, pemerintah setempat juga telah mengalokasikan Rp 2 miliar untuk pengadaan dan penanaman bibit pohon dari APBD 2021.

Bupati Temanggung HM Al Khadziq mengungkapkan, degradasi lingkungan berlangsung begitu cepat. Saat ini banyak sekali sumber mata air di Kabupaten Temanggung yang mati saat musim kemarau. Kalapun hidup, debit airnya sangat kecil.

Selain itu, juga ancaman erosi, tanah longsor dan banjir yang setiap saat mengancam masyarakat. Hal ini menyusul mulai gundulnya pohon-pohon di lereng Sumbing, Sindoro dan Prahu sehingga lingkungan hidup terancam banyak bencana.

Baca juga:  Dilakukan dengan Peserta Terbatas, Peringatan Hari Jadi Temanggung Tetap Khidmat

“Maka wajib hukumnya bagi kita menanam pohon di lereng-lereng gunung, hulu-hulu sungai dan tanah tandus agar recharge area di wilayah kita kembali lestari dan matar air kembali mengalir,” katanya saat pencanangan Gerakan Konservasi Air dan Tanah berkelanjutan di lapangan Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu Selasa (28/12).

Dalam pencanangan Gerakan Konservasi Air dan Tanah berkelanjutan ini, 500.000 bibit pohon konservasi (beringin, aren dan bambu) ditanam di lereng Gunung Sumbing, tabir-tabir sungai dan pinggir-pinggir jurang. Sebanyak 492 relawan dari 23 organisasi dikerahkan.

Khadziq berharap agar konservasi lingkungan ini bisa dilakukan secara berkelanjutan dengan pelibatan aktif dari masyarakat maupun organisasi. “Saya harap ini bisa terus dilakukan, kami juga punya program bahwa setiap relawan harus bertanggung jawab mengawal pohon yang mereka tanam saat ini,” tandasnya. (nan/ton)

Baca juga:  Tindak Tegas ASN Cemarkan Institusi

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya