alexametrics

Konservasi di Temanggung Butuh 10 Juta Bibit Pohon

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Temanggung – Konservasi di wilayah Temanggung membutuh 10 juta bibit pohon. Sedangkan saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung hanya memiliki 320.000 bibit pohon. Itupun dari hasil pengadaan sendiri, CSR perusahaan, ormas atau komunitas, dan bantuan pihak lain.

“Kekurangannya akan diadakan secara bertahap,” kata Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Temanggung Entargo Yutri Wardono.

Bibit sebanyak 320 ribu bibit tersebut terdiri atas tanaman aren, bambu, beringin, serta beberapa tanaman lain menyesuaikan kondisi lingkungan setempat. Fokus penanamannya di hulu-hulu sungai, lereng pegunungan, tebing, dan lahan tandus.

“Kondisi hulu sungai di Temangung sudah cukup parah. Khususnya di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Perahu. Kerusakannya ada yang karena budidaya pertanian yang tidak ramah lingkungan. Sehingga lambat laun ketika ini dibiarkan, bencana seperti di Batu, Malang, Jawa Timur, bisa terjadi di Kabupaten Temangung,” jelasnya.

Sebanyak 320 ribu bibit tersebut rencananya akan ditanam serentak pada pekan pertama Desember ini di berbagai titik. Rencananya akan melibatkan masyarakat, komunitas, pelajar, maupun ormas.

Selain konservasi, kata Entargo, upaya jangka pendek yang akan lakukan adalah edukasi langsung kepada masyarakat. Namun kendalanya kerap berbenturan dengan kepentingan ekonomi para petani. Sehingga perlu upaya komperehensif lintas sektoral dalam konservasi.

Contohnya dalam program food estate di Desa Bansari, Kecamatan Bansari, dengan luasan lahan sekitar 300 hektare dinilai tidak memperhatikan asas-asas konservasi. Media tanam menggunakan mulsa secara otomatis membuat air hujan tidak terserap ke dalam tanah dengan baik. Justru air berkumpul di satu titik dan membahayakan daerah di bawahnya yang lebih rendah.

“Sekian hektare lahan ditutupi plastik sehingga air hujan yang seharusnya terserap tanah tidak bisa karena tertutup mulsa dan mengumpul di satu tempat. Ini juga program ekonomi. Kami juga punya program konservasi. Jadi tidak serta merta kami berjalan sendiri kecuali lintas sektoral,” pungkasnya. (nan/ida)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya