Jumat Ngopi Bareng Bupati Temanggung

205
NGOPI HARI JUMAT : Jajaran manajemen dan redaksi Jawa Pos Radar Semarang yang dipimpin Direktur Baehaqi berbincang dengan Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq beserta pejabat Pemkab Temanggung, Jumat (4/10). (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NGOPI HARI JUMAT : Jajaran manajemen dan redaksi Jawa Pos Radar Semarang yang dipimpin Direktur Baehaqi berbincang dengan Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq beserta pejabat Pemkab Temanggung, Jumat (4/10). (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, TEMANGGUNG – Untuk kesekian kalinya Jawa Pos Radar Semarang mengadakan Ngopi Jurnalistik. Kali ini, Ngopi Jurnalistik digelar bersama Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq, Jumat (4/1) sore. Kegiatan ini selaras dengan program Kabupaten Temanggung yang menetapkan hari Jumat sebagai Hari Ngopi.

Ngobrol santai yang dikemas sambil minum kopi itu berlangsung gayeng di Kafe Kopi Srinthil Temanggung. Bupati Khadziq hadir didampingi Kepala Bagian Humas Pemkab Temanggung Witarso Saptono Putro, Kepala Bagian Umum Pemkab Temanggung Supriyanto dan Sekretaris Kominfo Temanggung Sumarlinah.

Sedangkan dari Jawa Pos Radar Semarang hadir Direktur H. Baehaqi, General Manager Iskandar, Pemimpin Redaksi Arif Riyanto, Kepala Biro Radar Kedu Listyorini Retno Wibowo, Redaktur Pelaksana Ida Norlayla, Redaktur M Rizal Kurniawan, Manager Iklan Sugiyanto Wiyono, Manager Pemasaran Yuni Ekowati serta sejumlah wartawan dari Kendal, Salatiga, Wonosobo, Magelang, dan Kabupaten Temanggung.

Secara bergantian Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi mulai membuka obrolan dengan mengenalkan sejumlah karyawannya. “Saya kenalkan di sini agar saat Pak Bupati komplain pemberitaan bisa gampang mau manggil yang mana,” ucap Baehaqi disambut senyuman Khadziq, yang juga mantan wartawan Jawa Pos biro Jakarta ini.

Selain itu, Baehaqi juga mengungkapkan dirinya sengaja menggelar Ngopi Jurnalistik kali ini untuk bisa menikmati kopi Temanggung yang memang sudah terkenal di mana-mana. “Kabupaten Pati itu produksinya kopinya lebih banyak, tapi Bupati Pati mengakui jika Kopi Temanggung itu lebih dikenal,” ujarnya.

Karena itu, Baehaqi sangat mengapresiasi langkah Bupati Khadziq yang menetapkan hari Jumat sebagai hari minum kopi. “Ini kebijakan yang luar biasa. Karena ini akan menjadi branding bagi Kabupaten Temanggung. Sebab, selain tembakau, Temanggung memiliki potensi kopi Arabika yang sangat terkenal,” katanya.

Sementara Bupati Khadziq mengaku senang bisa bertemu dengan jajaran redaksi dan pimpinan Jawa Pos Radar Semarang. Ia mengaku, ngopi sore itu ibarat bernostalgia tentang pengalamannya menjadi seorang wartawan. Orang nomor satu di Temanggung ini mengaku pernah menjadi wartawan Jawa Pos Biro Jakarta pada 1998 setelah sebelumnya menjadi wartawan Jogja Pos.

“Menjadi wartawan bagi saya itu bukan sekadar pekerjaan tapi juga sebuah profesi. Bahkan, bagi saya, wartawan itu pencapaian saya yang paling tinggi,” tutur Khadziq yang sore itu mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam.

Ia pun mulai mengingat nama-nama kawan seangkatannya saat masih menjadi wartawan, redaktur dan koordinator liputan. Bahkan nama-nama yang disebut bupati sampai membuat decak kagum Baehaqi dan jajaran redaksi yang hadir. “Wah, ternyata Pak Bupati masih ingat nama-nama wartawan senior Jawa Pos, luar biasa,” ucap Baehaqi.

“Saya itu merasa didikan Pak Dahlan Iskan soal integritas dan substansi. Beliau low profile membekas di saya,” ucap Bupati Khadziq.

Pria yang baru menjabat Bupati Temanggung kurang lebih satu tahun ini menyadari selama ini kabupaten yang dipimpinnya kurang dalam publikasi. Sehingga apa yang dilakukan bupati sebelumnya kurang dikenal masyarakat. Padahal sebenarnya banyak potensi Temanggung yang bisa dijual.

“Di sini ini potensi kopinya luar biasa. Sayangnya kurang terekspos keluar. Juga potensi seni dan budaya. Temanggung ini pusatnya kesenian jaran kepang. Tapi, pentas jaran kepang yang spektakuler jarang digelar. Padahal ini potensi yang bisa mendatangkan wisatawan,” katanya.

Menurutnya, potensi-potensi tersebut bisa di-branding melalui sarana media agar bisa booming dan dikenal oleh masyarakat luas. “Namun selama ini pemkab masih belum sadar media. Coba kalau Temanggung ini sadar media, maka akan terkenal,” ujarnya.

Jika Temanggung ini terkenal, lanjutnya, maka akan banyak wisatawan yang datang. Tidak hanya wisatawan lokal, tapi juga mancanegara. “Temanggung itu masyarakatnya tidak miskin. Kita masyarakatnya cukup, potensinya luar biasa. Kondisi alamnyapun sama dengan Magelang dan Wonosobo, namun kita kalah karena Magelang punya Borobudur, Wonosobo punya Dieng,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, Temanggung harus memiliki pengembangan daerah secara bertahap. Seperti halnya pengembangan Industri kreatif serta seni budaya yang harus diviralkan bersama-sama. “Namun mengubah birokrasi sadar media itu memang perlu proses,” ucapnya.

Ia pun berkomitmen ingin mengubah mindset jajarannya yang selama ini dianggap kurang sadar media secara pelan-pelan. “Temanggung ini masih belum bisa berubah secara radikal, tapi harus pelan-pelan,” tutur Khadziq.

Ngopi Jurnalistik yang dimulai pukul 15.40 itu berakhir hampir menjelang magrib, pukul 17.20. Di akhir perbincangan, bupati mengharapkan doa restu jajaran redaksi Jawa Pos Radar Semarang bisa mengemban tugasnya sebagai bupati dengan baik. “Kami minta doa, semoga bisa membawa Kabupaten Temanggung bertambah maju dan warganya semakin sejahtera,” harapnya. (tbh/aro)