26 C
Semarang
Minggu, 4 Juni 2023

Sucikan Diri lewat Gebyuran Bustaman

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Jelang Ramadan, warga Kampung Bustaman RW 03 Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah menggelar Gebyuran Bustaman, Minggu (19/3).

Tradisi yang sudah digelar tahun kesebelas ini sungguh istimewa. Sebab, hadir Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Semarang R Wing Wiyarso Poespojoedho dan Anggota DPRD Kota Semarang Supriyadi.

Gebyuran Bustaman digelar tengah permukiman padat. Dimulai selepas ashar. Ribuan plastik berisi air disiapkan. Selain itu, ada grup yang melantunkan salawat nabi diiringi musik rebana. Juga kesenian lain, seperti penari dengan kostum merak dan iringan musik tempo dulu.

Saat Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen datang, langsung disambut tepuk tangan tiga kali alias keplok telu secara serentak oleh seluruh warga. Wajah pria yang akrab disapa Gus Yasin itu langsung dicoret menggunakan tepung warna hijau dan putih.

Pun dengan R Wing Wiyarso Poespojoedho, Supriyadi, dan Camat Semarang Tengah Aniceto Magno Da Silva, juga diolesi tepung warna-warni di wajah. Selanjutnya, Gus Yasin didaulat mengguyur lima anak yang duduk di kursi dan mengenakan jarik. Mereka dimandikan sambil didoakan oleh wagub.

Gus Yasin menjelaskan, Gebyur Bustaman merupakan salah satu contoh tradisi masyarakat yang positif menjelang datangnya bulan Ramadan.

“Semoga yang kita lakukan ini menjadi simbol kebersihan menyongsong bulan suci,” katanya.

Setelah ritual memandikan lima anak itu, ratusan warga pun langsung beraksi. Mereka saling melempar bungkusan air yang telah disiapkan. Ada juga yang menyiram menggunakan air kran dan mengguyur langsung dari ember.

Salah satu pengunjung Farudin Raharso terlihat basah kuyup karena serangan air bertubi-tubi. Pria yang akrab disapa Udin Gondrong ini sempat naik ke kubah masjid untuk mengamankan dirinya.

“Sak durunge perang air boloku kabeh. Tapi pas perang air, diserang rono-rene-og. Atis, tapi ora masalah. Atine seneng, guyub warga Bustaman. Pokokke kabeh dulur, perang iki untuk melampiaskan hawa setan, bar kui seduluran,” kata warga Kalibanteng Kulon, Semarang Barat yang sempat viral berkat angkringan soto West ini.

Ia mengaku baru kali pertama mengikuti Gebyuran Bustaman. ” Ning kene banyune ora entek, tahun sesok melu meneh, boloku,” ucapnya.

Ketua RT 4 RW 03 Kelurahan Purwodinatan Aris Zarkasyi menjelaskan, Gebyuran Bustaman merupakan tradisi tahunan menjelang puasa Ramadan. Tradisi ini sudah ada sejak dulu. Setiap menjelang bulan Ramadan, sesepuh Kampung Mbah Yai Bustam selalu mengumpulkan anak cucunya untuk digebyur.

“Alhamdulillah, kami sudah melaksanakan 11 kali sejak 2012 hingga sekarang,” katanya.

Dijelaskan, air yang dipakai gebyuran berasal dari gentong yang bersumber dari sumur Mbah Yai Bustam. Kemudian dibungkus plastik lalu dilemparkan. Sebelumnya, warga dicoret terlebih dahulu wajahnya sebagai simbol dosa. “Lalu digebyur agar bersih. Semuanya sudah clear, tidak ada rasa dendam ketika bulan Ramadan,” ujarnya. (fgr/aro)


Baca artikel dan berita terbaru di Google News


Artikel Terkait

Sementara Itu ..

Terbaru

Populer

Menarik

Lainnya